SMM PANEL INDO

4 Cara Agar Hidup Tenang di Zaman Sekarang

datariau.com
153 view
4 Cara Agar Hidup Tenang di Zaman Sekarang

DATARIAU.COM - Kehidupan modern menawarkan begitu banyak kemudahan. Hanya dengan telepon genggam, seseorang dapat membeli barang, memesan makanan, bepergian, berbelanja secara daring, hingga mengikuti kehidupan orang lain melalui media sosial.

Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul persoalan yang sering tidak disadari. Banyak orang terlihat memiliki kehidupan yang sempurna, tetapi sebenarnya hatinya dipenuhi kegelisahan. Ada yang sibuk mengejar penghasilan untuk membayar cicilan, terus membandingkan kehidupannya dengan orang lain, membutuhkan pengakuan dari manusia, hingga merasa harus menunjukkan apa yang dimiliki agar dianggap berhasil.

Islam mengajarkan bahwa ketenangan hidup tidak selalu ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya jabatan, kendaraan yang digunakan, rumah yang ditempati, atau banyaknya orang yang memberikan pujian.

Allah Taala berfirman “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Rad: 28).

Baca juga:Pahala yang Besar Untuk yang Sabar Saat Bencana Menimpa


Ayat tersebut memberikan pelajaran penting bahwa sumber ketenangan yang sebenarnya adalah kedekatan seorang hamba dengan Allah Taala.

Karena itu, ada beberapa kebiasaan yang layak direnungkan oleh seorang Muslim agar kehidupannya lebih tenang di tengah derasnya tuntutan zaman.

1. Tidak Membebani Diri dengan Utang dan Cicilan


Utang bukan perkara ringan dalam Islam. Islam memang membolehkan akad utang-piutang dalam kondisi yang dibenarkan, tetapi seorang Muslim tidak dianjurkan meremehkan persoalan utang.

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam bersabda “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegundahan dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan kikir, dari terlilit utang dan dari tekanan manusia.” (Hadis riwayat Al-Bukhari nomor 6369).

Perhatikan bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam mengajarkan doa perlindungan dari lilitan utang. Hal ini menunjukkan bahwa utang dapat menjadi perkara yang membebani kehidupan seseorang.

Dalam kehidupan sekarang, persoalan utang dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang mungkin membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan karena tergoda promosi, kemudian membayarnya dengan cicilan. Ada pula yang menggunakan pinjaman untuk memenuhi gaya hidup agar terlihat mampu di hadapan orang lain.

Masalahnya bukan sekadar nominal cicilan. Utang dapat membuat seseorang kehilangan ketenangan karena setiap bulan harus memikirkan pembayaran. Islam bahkan memberikan perhatian sangat besar terhadap kewajiban membayar utang.

Dalam hadis sahih, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam pernah tidak langsung menyalatkan jenazah yang masih memiliki utang sebelum ada sahabat yang menjamin pelunasannya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa orang yang mengambil harta manusia dengan niat membayarnya, Allah akan menolong pelunasannya. Sebaliknya, orang yang mengambilnya dengan niat merusaknya akan mendapatkan keburukan. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

Karena itu, hidup tenang bukan berarti seseorang harus menolak seluruh bentuk utang dalam keadaan apa pun. Akan tetapi, seorang Muslim hendaknya memiliki sikap hati-hati: jangan berutang hanya untuk mengejar gaya hidup.

Terlebih jika utang tersebut mengandung riba. Allah Taala berfirman “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275).

Baca juga:Hadits-hadits tentang Bahaya Hutang


Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam juga melaknat orang yang memakan riba, memberikan riba, mencatat transaksi riba dan dua saksinya. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Muslim.

Maka, salah satu bentuk ketenangan hidup adalah belajar membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Tidak semua barang yang mampu dibeli harus dibeli. Tidak semua kemudahan pembayaran harus dimanfaatkan. Tidak semua keinginan harus dipenuhi hari ini. Terkadang, hidup lebih tenang ketika seseorang mampu berkata, “Saya belum membutuhkannya.”

2. Tidak Mudah Hasad, Iri dan Membandingkan Kehidupan


Media sosial membuat manusia dapat melihat kehidupan orang lain setiap hari. Kita melihat orang membeli kendaraan baru. Melihat teman berlibur. Melihat orang membeli rumah. Melihat seseorang mendapatkan pekerjaan. Melihat teman menikah. Melihat orang lain memiliki usaha yang berkembang. Melihat pencapaian seseorang yang mungkin jauh lebih cepat dibandingkan diri sendiri.

Jika hati tidak dijaga, semua itu dapat menjadi sumber kegelisahan. Seseorang kemudian mulai bertanya “Mengapa hidup saya tidak seperti dia?”

“Mengapa rezeki saya tidak sebanyak dia?”

“Mengapa usaha saya belum berhasil?”

“Mengapa dia sudah memiliki rumah, sementara saya belum?”

“Mengapa dia lebih terkenal?”

Perbandingan semacam ini dapat berkembang menjadi hasad. Allah Taala telah mengajarkan kepada orang-orang beriman untuk memohon perlindungan “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki.” (QS. Al-Falaq: 5).

Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam juga bersabda “Janganlah kalian saling hasad, janganlah saling menaikkan harga untuk menipu, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi, dan janganlah sebagian kalian menjual di atas jualan sebagian yang lain.” (Hadis riwayat Muslim).

Hasad bukan sekadar merasa tidak memiliki apa yang dimiliki orang lain. Hasad adalah penyakit hati ketika seseorang tidak suka melihat nikmat yang Allah Taala berikan kepada orang lain. Para ulama menjelaskan bahwa hasad merupakan penyakit jiwa yang dapat merusak hubungan persaudaraan dan menimbulkan permusuhan.

Baca juga:Bahaya Sifat Rakus Harta dan Tidak Suka Melihat Orang Lain Mendapatkan Nikmat


Karena itu, obat dari kebiasaan membandingkan diri adalah belajar qanaah. Qanaah bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita, juga bukan berarti seseorang dilarang menjadi kaya, menerima rezeki Allah Taala dengan hati yang ridha, sembari tetap berusaha mendapatkan sesuatu yang halal.

Seorang Muslim boleh bekerja keras untuk memiliki rumah, berusaha mendapatkan kendaraan yang baik, membangun bisnis, meningkatkan pendidikan, mengejar karier, tetapi semua itu tidak boleh membuat hatinya membenci nikmat yang diterima orang lain.

Jika melihat seseorang mendapatkan rezeki, biasakan berkata “Semoga Allah memberikan keberkahan kepadanya.” Kemudian berdoalah “Ya Allah, berikan kepadaku rezeki yang baik dan berkah.”

Dengan demikian, keberhasilan orang lain tidak menjadi sumber kebencian, tetapi menjadi pengingat bahwa rezeki Allah Taala sangat luas.

3. Tidak Haus Validasi dari Manusia


Salah satu penyakit kehidupan modern adalah terlalu bergantung kepada penilaian manusia. Seseorang merasa bahagia ketika mendapatkan banyak tanda suka. Merasa berharga ketika dipuji. Merasa gagal ketika unggahannya sepi. Merasa harus menjelaskan keberhasilannya kepada orang lain.

Bahkan terkadang seseorang melakukan sesuatu bukan karena memang ingin melakukannya, tetapi karena ingin dilihat. Inilah yang perlu diwaspadai.

Islam mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh komentar manusia. Allah Taala mengetahui seluruh amal manusia, termasuk amal yang tidak diketahui siapa pun.

Allah Taala berfirman “Dan kebajikan apa pun yang kamu kerjakan, niscaya Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 197).

Seorang Muslim tidak semestinya menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama. Amal yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah Taala tidak menjadi riya hanya karena kemudian manusia mengetahuinya atau memberikan pujian.

Ini merupakan perbedaan yang sangat penting. Mendapat pujian bukan berarti otomatis riya. Riya adalah ketika seseorang melakukan amal agar dilihat dan dipuji manusia.

Baca juga:Begini Cara Ampuh Mengobati Penyakit "Haus Pujian"


Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam menyampaikan dalam hadis qudsi “Allah Taala berfirman: Aku adalah Zat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, Aku tinggalkan dia dan kesyirikannya.” (Hadis riwayat Muslim nomor 2985).

Maka, seorang Muslim hendaknya belajar memiliki kehidupan yang tetap baik meskipun tidak ada yang melihat. Tetap bersedekah walaupun tidak ada yang memotret. Tetap membantu walaupun tidak ada yang mengunggahnya. Tetap bekerja keras meskipun tidak mendapat pujian. Tetap berbuat baik meskipun tidak mendapatkan ucapan terima kasih. Sebab yang paling penting bukan manusia mengetahui kebaikan kita, tetapi Allah Taala mengetahuinya.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)