TELUK KUANTAN, datariau.com - Di usianya yang baru menginjak 23 tahun, Bayu Prayoga seharusnya sedang menikmati masa muda, mengejar cita-cita, dan menata masa depan. Namun takdir berkata lain. Selama 14 tahun terakhir, pemuda asal Desa Sawah, Teluk Kuantan ini harus berjuang melawan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya.
Bayu saat ini terbaring lemah dengan diagnosis Kanker Nasofaring dan Tumor Mandibula Pipi. Penyakit itu pertama kali menyerangnya saat ia masih berusia 9 tahun.
Di samping Bayu, selalu ada sang ibu, Reni Novita (46), yang setia mendampingi setiap langkah pengobatan putranya. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan perjalanan panjang yang telah mereka lalui.
"Kami sudah berobat sampai ke Jakarta pada tahun 2016. Selama satu tahun Bayu menjalani kemoterapi. Setelah itu dokter menyatakan Bayu sembuh," kenang Reni.
Kebahagiaan keluarga itu ternyata tidak berlangsung lama. Pada tahun 2018, Bayu kembali mengeluhkan sakit gigi yang tak kunjung sembuh. Setelah menjalani berbagai pemeriksaan, dokter menyatakan bahwa Bayu menderita Tumor Mandibula pada bagian pipi. Sejak saat itu, perjuangan panjang kembali dimulai.
Kurang lebih delapan tahun terakhir, Bayu harus menahan rasa sakit yang terus menghantuinya. Berbagai upaya pengobatan telah dilakukan, mulai dari berobat ke RSUD Teluk Kuantan hingga rumah sakit di Pekanbaru. Namun keterbatasan ekonomi menjadi tantangan yang semakin berat bagi keluarga ini.
Ayah Bayu, Restu Prawoto (57), hanya bekerja serabutan dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan. Penghasilan tersebut bahkan sulit mencukupi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk biaya pengobatan yang terus meningkat.
"Penghasilan suami saya tidak cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk biaya pengobatan Bayu," ujar Reni dengan suara lirih.
Kondisi Bayu kini semakin memprihatinkan. Penglihatannya mulai kabur, fungsi ginjalnya mengalami penurunan, dan ia sudah tidak mampu makan seperti biasa. Untuk menjaga ketahanan tubuh, Bayu hanya mengandalkan asupan susu khusus dengan kebutuhan sekitar 2.500 cc setiap hari.
Satu kotak susu yang dikonsumsinya berharga sekitar Rp300 ribu. Itu belum termasuk berbagai kebutuhan pengobatan dan perawatan lainnya yang harus dipenuhi setiap hari.
Di tengah perjuangan tersebut, keluarga Bayu kini berada di Jakarta untuk menjalani pengobatan lanjutan. Namun mereka tidak memiliki sanak keluarga yang dapat membantu.
"Kami saat ini di Jakarta tidak memiliki keluarga. Saya sangat mengharapkan bantuan dari semua pihak untuk pengobatan anak saya karena keterbatasan ekonomi kami. Semoga dengan bantuan yang bapak dan ibu berikan, Bayu bisa sembuh dan dapat beraktivitas seperti sediakala," harap Reni.
Harapan itu mungkin terdengar sederhana. Bayu hanya ingin sehat. Ia hanya ingin kembali menjalani hidup seperti pemuda lainnya.
Bagi masyarakat yang tergerak untuk membantu, donasi dapat disalurkan melalui rekening: BRI 0668 0101 7227532 Atas Nama: Bayu Prayoga.
Berapapun bantuan yang diberikan akan sangat berarti untuk meringankan biaya pengobatan dan perawatan Bayu. Di tengah perjuangan panjang yang telah berlangsung selama 14 tahun, uluran tangan dari sesama dapat menjadi harapan baru bagi Bayu dan keluarganya.
Karena bagi Bayu, setiap bantuan bukan hanya soal biaya pengobatan, tetapi juga tentang harapan untuk terus bertahan dan kesempatan untuk kembali menjalani hidup dengan senyuman.***