INDRAGIRI HILIR, datariau.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Berdampak Universitas Riau Tahun 2026 menggelar pelatihan pengolahan limbah berbasis konsep Zero Waste dan Circular Economy di Kelurahan Tempuling, Kecamatan Tempuling, Kabupaten Indragiri Hilir. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa mengajak masyarakat mengubah limbah sabut kelapa menjadi Pupuk Organik Cair (POC) serta memanfaatkan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi yang memiliki nilai ekonomi.
Program ini lahir dari potensi sekaligus permasalahan yang dihadapi masyarakat setempat. Mayoritas warga Kelurahan Tempuling berprofesi sebagai pekebun, sementara limbah sabut kelapa banyak menumpuk dan belum dimanfaatkan secara optimal. Di sisi lain, minyak jelantah rumah tangga masih sering digunakan berulang kali atau dibuang langsung ke saluran air.
Mahasiswa KUKERTA Universitas Riau melihat kedua jenis limbah tersebut sebagai sumber daya yang dapat diolah menjadi produk bermanfaat sekaligus bernilai jual.
Baca juga:Mahasiswa KUKERTA UNRI Latih Warga Lubuk Gaung Terapkan Vertikultur dan Pembuatan POC
Dalam pelatihan pembuatan POC, mahasiswa menjelaskan bahwa sabut kelapa mengandung berbagai unsur hara yang dibutuhkan tanaman. Kandungan kalium (K) pada sabut kelapa bahkan tergolong tinggi, mencapai sekitar 10,25 persen. Selain itu, sabut kelapa juga mengandung nitrogen (N), fosfor (P), dan unsur hara lainnya yang mampu meningkatkan kesuburan tanah dan produktivitas tanaman.
Melalui praktik langsung, peserta diajarkan tahapan pembuatan pupuk organik cair menggunakan bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh di lingkungan sekitar. Pupuk yang dihasilkan diharapkan dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan perkebunan masyarakat sehingga mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
Selain pelatihan POC, mahasiswa juga memberikan edukasi mengenai bahaya penggunaan minyak jelantah secara berulang. Mereka menjelaskan bahwa pemanasan minyak berkali-kali dapat merusak struktur kimia minyak sehingga membentuk senyawa berbahaya, radikal bebas, dan lemak trans yang berisiko bagi kesehatan.
Baca juga:Mahasiswa Kukerta UNRI Latih Kelompok Tani Desa Kelemantan Barat Olah Limbah Organik Jadi Pupuk Cair
Tidak hanya itu, pembuangan minyak jelantah ke saluran air juga dapat mencemari lingkungan karena sulit terurai dan berpotensi merusak kualitas air.
Sebagai solusi, mahasiswa memperkenalkan cara mengolah minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi. Produk tersebut tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memiliki nilai estetika dan berpotensi menjadi peluang usaha bagi masyarakat.
Kegiatan yang dipusatkan di Parit 5, Kelurahan Tempuling, berlangsung interaktif. Mahasiswa tidak hanya menyampaikan materi, tetapi juga mengajak warga terlibat langsung dalam proses pembuatan pupuk organik cair maupun lilin aromaterapi.
Baca juga:Tempat Beli Bibit Pohon Tin di Pekanbaru: Sudah Dalam Pot, Solusi Praktis Ditanam di Rumah, Tinggal Siram Tanpa Repot
Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan. Warga aktif bertanya mengenai teknik pengolahan limbah serta manfaat produk yang dihasilkan.
"Melalui pelatihan yang diadakan oleh adik-adik mahasiswa Kukerta ini sangat membantu. Saya jadi tahu kalau limbah sabut kelapa ini bisa diolah menjadi pupuk. Jadi bisa mengurangi sampah sabut kelapa yang menumpuk di mana-mana," ujar salah seorang warga.
Antusiasme juga ditunjukkan para ibu rumah tangga saat mengikuti pelatihan pembuatan lilin aromaterapi. Mereka mengaku baru mengetahui bahwa minyak jelantah dapat diolah menjadi produk yang wangi, menarik, dan memiliki nilai jual.
Baca juga:
Mahasiswa KUKERTA UNRI Edukasi Warga Desa Tanjung Pisang Membuat Pupuk Kompos Organik dari Air Cucian Beras
"Minyak jelantah kalau di rumah selalu saya pakai sampai habis. Saya baru tahu juga kalau minyak jelantah tidak sehat untuk dimasak lagi. Setelah ikut kegiatan ini saya jadi tahu kalau minyak jelantah bisa dibuat menjadi lilin aromaterapi yang wangi dan bikin rileks. Ternyata bisa dibuat sendiri di rumah," ungkap salah seorang peserta.
Melalui program tersebut, Mahasiswa KUKERTA Berdampak Universitas Riau berharap masyarakat semakin sadar akan pentingnya pengelolaan limbah secara bijak dan berkelanjutan. Pemanfaatan sabut kelapa dan minyak jelantah tidak hanya mampu mengurangi timbunan sampah serta pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui produk-produk ramah lingkungan yang memiliki nilai tambah.
Dengan mengusung semangat ekonomi sirkular, mahasiswa berharap inovasi sederhana ini dapat terus diterapkan oleh masyarakat sehingga limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.***