BENGKALIS, datariau.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Berdampak Universitas Riau Tahun 2026 bersama masyarakat Desa Ketam Putih, Kecamatan Bengkalis, Kabupaten Bengkalis, menggelar Pelatihan Pembibitan dan Penanaman Mangrove di kawasan pesisir desa sebagai upaya menjaga kelestarian lingkungan sekaligus mengurangi dampak abrasi pantai, Kamis (10/7/2026).
Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja Kukerta Berdampak Universitas Riau yang bertujuan meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pentingnya ekosistem mangrove sebagai pelindung alami wilayah pesisir. Selain memberikan edukasi mengenai teknik pembibitan, kegiatan ini juga menjadi aksi nyata rehabilitasi kawasan pantai yang selama ini menghadapi ancaman abrasi.
Baca juga:Kukerta
Berdampak Universitas Riau Edukasi Pembuatan Sirup Mangrove, Dorong
Inovasi Produk Lokal Ramah Lingkungan di Desa Makeruh
Program dilaksanakan oleh kelompok Kukerta Berdampak Universitas Riau di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Rina Susanti, S.Sos., M.Si. Kegiatan diikuti oleh sepuluh mahasiswa Kukerta bersama Kepala Desa Ketam Putih, Suhaimi, jajaran Ketua RT dan RW, Ketua Karang Taruna, Ketua Pemuda, serta ibu-ibu PKK Desa Ketam Putih yang turut berpartisipasi dalam pelatihan dan penanaman mangrove.
Rangkaian kegiatan diawali dengan penyampaian materi mengenai teknik pembibitan mangrove. Mahasiswa memberikan edukasi kepada peserta tentang cara memilih bibit yang berkualitas, proses penyemaian, hingga teknik penanaman yang sesuai dengan karakteristik tanah berlumpur di kawasan pesisir.
Baca juga:Berdaya Lewat Mangrove: The Lead Institute Paramadina Latih Perempuan Pulau Tidung Ciptakan Produk dan Ekoturisme Pesisir
Dalam pelatihan tersebut, peserta juga diperkenalkan dengan penggunaan ajir bambu sebagai penyangga bibit agar tetap tegak dan mampu bertahan dari terpaan ombak maupun pasang air laut. Metode tersebut merupakan salah satu teknik yang umum diterapkan dalam berbagai program rehabilitasi hutan mangrove di wilayah pesisir.
Usai pelatihan, seluruh peserta turun langsung ke lokasi penanaman di sepanjang garis pantai yang telah ditentukan. Mahasiswa bersama perangkat desa, tokoh masyarakat, pemuda, dan ibu-ibu PKK bergotong royong menggali lubang tanam, memasang ajir bambu, serta menanam bibit mangrove secara bersama-sama.
Baca juga:Menyatukan Langkah Hijaukan Alam: Mahasiswa Pendidikan Biologi UNRI Siap Optimalkan Penghijauan Mangrove di Desa Sejangat
Kepala Desa Ketam Putih, Suhaimi, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa Kukerta yang mengangkat isu pelestarian lingkungan pesisir sebagai salah satu program kerja di desanya.
"Kami berterima kasih kepada mahasiswa yang mau turun langsung menanam mangrove bersama warga. Abrasi sudah lama menjadi masalah di desa kami, dan penanaman mangrove ini dapat menjadi salah satu upaya jangka panjang untuk menahan laju abrasi," ujarnya.
Baca juga:BRGM Selenggarakan Lokakarya Ecoprint untuk Masyarakat Kelurahan Lubuk Gaung Dumai
Sementara itu, Ketua Kelompok Kukerta Berdampak Universitas Riau Desa Ketam Putih, Muhammad Ilham Baihaqi, mengatakan program tersebut lahir dari kepedulian mahasiswa terhadap kondisi lingkungan pesisir yang membutuhkan perhatian bersama.
"Kami ingin kegiatan ini tidak berhenti pada hari ini saja. Harapannya, bibit yang telah ditanam dapat terus dirawat dan dipantau bersama masyarakat sehingga benar-benar tumbuh dan memberikan manfaat jangka panjang bagi Desa Ketam Putih," katanya.
Menurutnya, keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya bergantung pada proses penanaman, tetapi juga pada komitmen seluruh elemen masyarakat dalam melakukan pemeliharaan secara berkelanjutan agar tanaman dapat tumbuh optimal dan berfungsi sebagai benteng alami pesisir.
Baca juga:Mahasiswa Kukerta UNRI Edukasi Petani Rawang Oguang Bikin Pestisida Nabati dari Daun Pepaya, Dukung Pertanian Ramah Lingkungan
Selain menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem mangrove, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mendukung pelestarian lingkungan. Kehadiran mangrove diharapkan mampu mengurangi laju abrasi, menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, menjadi habitat berbagai biota laut, serta memberikan manfaat ekologis dan ekonomi bagi masyarakat di masa mendatang.