Realita Gen Z: Ramai Hadiri Konser, Sepi di Majelis Ilmu

Oleh: Ari Ummu Aisya
datariau.com
54 view
Realita Gen Z: Ramai Hadiri Konser, Sepi di Majelis Ilmu
Postingan Seputar Dumai (Sepdum) tentang temuan banyak bungkus obat batuk berserakan di kawasan Taman Bukit Gelanggang usai konser berakhir.

DATARIAU.COM - Fenomena antusiasme generasi muda menghadiri konser musik kembali menjadi sorotan setelah pelaksanaan Bull Motion Unity Fest 2026 di Taman Bukit Gelanggang, Kota Dumai, Sabtu (4/7/2026). Di balik kemeriahan ribuan penonton yang memadati lokasi konser, muncul keprihatinan terhadap kondisi moral dan budaya generasi muda.

Sorotan tersebut mengemuka setelah beredarnya informasi yang dikutip dari Seputar Dumai (Sepdum) bahwa petugas menemukan banyak bungkus obat batuk berserakan di kawasan Taman Bukit Gelanggang usai konser berakhir. Jumlah bungkus obat yang ditemukan disebut tidak wajar sehingga memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat.

Temuan itu menimbulkan dugaan adanya penyalahgunaan obat batuk oleh sebagian oknum remaja yang menghadiri konser. Pasalnya, penyalahgunaan obat batuk yang mengandung zat dekstrometorfan dalam dosis berlebihan telah lama menjadi perhatian berbagai pihak.

Baca juga:Terjepit Zaman, Bangkit dengan Iman


Secara medis, dekstrometorfan merupakan kandungan obat batuk yang aman apabila digunakan sesuai dosis. Namun jika dikonsumsi secara berlebihan, zat tersebut dapat menimbulkan efek halusinasi, disorientasi, hingga sensasi melayang yang kerap disalahgunakan untuk memperoleh efek mabuk.

Fenomena tersebut dinilai menjadi alarm bagi orang tua, pendidik, serta pemerintah dalam memperkuat pengawasan terhadap pergaulan remaja dan penyalahgunaan obat-obatan yang mudah diperoleh.

Di sisi lain, muncul pula kritik terhadap kecenderungan sebagian generasi muda yang dinilai lebih antusias menghadiri hiburan dibandingkan kegiatan yang bersifat edukatif maupun keagamaan.

Baca juga:Krisis Identitas dan Gaya Hidup Serba Bebas di Kalangan Generasi Muda


Kondisi ini memperlihatkan kontras yang cukup mencolok. Ribuan anak muda rela memadati arena konser, sementara kegiatan kajian atau majelis ilmu justru kerap dihadiri peserta dengan usia yang lebih tua.

Fenomena itu dinilai menjadi tantangan besar dalam membangun kualitas sumber daya manusia, khususnya generasi muda yang kelak akan menjadi penerus bangsa.

Pemuda sejatinya merupakan agen perubahan (agent of change) yang memiliki tanggung jawab besar dalam membangun peradaban. Sejarah Islam juga mencatat banyak tokoh besar yang berhasil memberikan kontribusi luar biasa sejak usia muda, seperti Usamah bin Zaid, Ali bin Abi Thalib, Muhammad Al-Fatih, Ibnu Sina, hingga Al-Khawarizmi.

Baca juga:Saatnya Pemuda Meraih Perubahan Hakiki


Karena itu, generasi muda diharapkan tidak hanya mengejar hiburan semata, tetapi juga memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral, serta pendidikan agama sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

Upaya membangun generasi berkualitas tidak dapat dibebankan kepada keluarga semata. Diperlukan sinergi antara individu, masyarakat, lembaga pendidikan, serta pemerintah dalam menciptakan lingkungan yang mampu melindungi generasi muda dari berbagai bentuk penyimpangan, termasuk penyalahgunaan obat-obatan.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)