DATARIAU.COM - Miris, beberapa sekolah di Pekanbaru para siswa SMA/sederajat terindikasi LGBT. Para siswa ini, tergabung dalam grup WhatsApp khusus, bahayanya lagi bahkan siswa SD pun juga ada (RiauOnline.co.id/29/05/2023).
"Sungguh mengkhawatirkan, prilaku menyimpang ini sering ditemui oleh pihak guru dan sekolah. Di rumah para orang tua terkadang terlambat atau bahkan tidak menyadari perubahan pada diri anak-anak mereka," ungkap Sarinah, Kepala Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Riau.
Baca juga: Gubernur Riau Ajak Semua Pihak Berantas LGBT, Sebelum Bumi Melayu Mendapat Murka Allah
Untuk itu perlunya komunikasi dan kerjasama antara orang tua dan sekolah. Sebagai orang tua tetap memantau pergaulan anak-anaknya di luar sana. Kepada pihak sekolahpun diminta untuk tetap melaporkan ke PPA jika menemukan anak-anak yang terindikasi LGBT.
Propaganda Barat dan Kaum Pelangi
Di beberapa negara barat, kaum pelangi mendapat apresiasi dan perlindungan dari negaranya. Pada faktanya demi eksistensi, mereka ingin diakui. Keberadaan mereka dalam bersosialisasi pada lingkungan, bertujuan agar dapat diterima oleh masyarakat.
Atas nama kebebasan, eksistensi kaum pelangi aktif dikampanyekan. Propaganda dilakukan di media massa, film, bacaan, lagu-lagu termasuk public figure baik selebriti ataupun grup musik. Bahkan kaum pelangi global mendapat dukungan dari PBB, perusahaan besar seperti starbucks, google, Facebook dll.
Indonesia mayoritas muslim terbesar di dunia ternyata tak mampu menyangkal dan menghambat lajunya propaganda kaum pelangi. Bahkan kini telah menyasar kepada para pelajar di Pekanbaru.
Baca juga: LGBT Semakin Merasahkan di Kota Pekanbaru, Pemerintah Diminta Ambil Langkah Tegas
Miris, ditengah kompleknya problem generasi mulai dari pergaulan bebas, hamil diluar nikah dan aborsi, prostitusi online yang belum usai. Kini kerusakan masa depan, jika tidak dihadang akan berdampak buruk bagi penerus pemimpin peradaban.
Paham sekulerisme liberal membawa dampak buruk bagi kehidupan generasi hari ini. Paham yang memisahkan agama dari kehidupan dan barang tentu mengusung kebebasan.
Agama dianggap hanya sebatas rangkaian ibadah ritual yang tak boleh ada bercampur dalam mengatur kehidupan. Anehnya pemahaman inilah yang sedang merasuki sebagian generasi di negeri ini.
Halal-haram, pahala-dosa tak lagi jadi pertimbangan. Asalkan bebas menjalankan nafsu kehidupan. Inilah yang pada akhirnya akan membentuk generasi kita hari ini menjadi generasi yang bejad dan krisis moral.
Kegalalan barat dalam meredam krisis generasi di negaranya, justru melanggengkan propaganda ke negri-negri muslim yang berkembang. Miliaran dolar digelontorkan untuk kampanye LGBT. Pondasi agama yang tidak kokoh menjauhkan diri mereka dari aturan Tuhan. Lost generasi tentu bisa terjadi, karena terputusnya keturunan dalam sebuah hubungan.
Baca juga: Jangan Diam, LGBT Sangat Berbahaya!
Sejarah kaum Sodom, harusnya dijadikan pelajaran
Belajar dari kisah Nabi Luth alaihissalam, harusnya bisa dijadikan pelajaran. Kaum yang minim iman dan rusak sebab kemaksiatan merajalela dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ketika didakwahi nabi Luth alaihissalam untuk taat kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala, mereka menolak bahkan melakukan perbuatan keji dan melakukan hubungan penyuka sesama jenis. Hingga Allah Subhanahu wataala mengabadikan kisah nyata kaum sodom dalam Al Qur'an, mereka mendapat ganjaran atas perbuatannya dan musnah ditimpa adzab.
Allah Subhanahu wata'ala berfirman dalam QS Al Anbiya 74
Kepada Lut, Kami berikan hikmah dan ilmu, dan Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang melakukan perbuatan keji. Sungguh, mereka orang-orang yang jahat lagi fasik.
Dan Qur'an surat HUD ayat 81
Mereka (para malaikat) berkata, “Wahai Lut! Sesungguhnya kami adalah para utusan Tuhanmu, mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah beserta keluargamu pada akhir malam dan jangan ada seorang pun di antara kamu yang menoleh ke belakang, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia (juga) akan ditimpa (siksaan) yang menimpa mereka. Sesungguhnya saat terjadinya siksaan bagi mereka itu pada waktu subuh. Bukankah subuh itu sudah dekat?”
Dari kisah nyata ini, harusnya menjadi pelajaran, bahwa perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak sang pencipta akan mendapat ganjaran-Nya.
Mau dengan petunjuk apalagi agar mereka bisa sadar!
Seperangkat aturan Islam telah kompleks dalam menyelesaikan segala problem yang ada. Tinggal dijalankan dan diterapkan oleh sistem yang menjadi naungannya.
Dalam Islam fitrah manusia, sesuai dengan apa yang telah Allah tentukan. Sudah bisa dipastikan kaum pelangi bertentangan dengan Sang Pencipta. Maka komunitas ini tidak bisa dibiarkan. Perlu ditangani dengan serius, bukan membiarkan.
Pertama, didakwahi dengan pemahaman, hakekat tentang kehidupan. Siapa yang menciptakan, untuk apa diciptakan dan hendak kemana arah tujuan kehidupan.
Sehingga manusia tidak bisa bebas dalam menentukan hidupnya, tapi hidupnya terus terikat pada aturan, aturan yang membawa keselamatan dunia dan akhirat, dia adalah aturan sang Pencipta. Semua dilakukan agar kaum pelangi kembali fitrahnya.
Kedua, putus hubungan dengan komunitasnya. Jika dalam masa pembinaan maka suasana untuk mengubah arah tujuan hidup jadi lebih mudah. Mengganti circle lingkungan pertemanan yang mendorong untuk melakukan kebaikan.
Ketiga, berazam dengan niat yang kuat untuk berubah. Karena kesadaran untuk berubah muncul dari diri sendri, bertaubat dan tidak mengulang kesalahan yang sama lagi.
Namun, perubahan individu-individu adalah langkah kecil dari sebuah perubahan. Karena perlu ada sistem yang mampu menopang dan menjalankan aturan yang mengikat.
Ketika aturan Islam diterapkan dalam kehidupan, kedudukan hukum tersebut sebagai penebus dan pencegah. Penebus di dunia dan mencegah orang lain untuk melakukan hal yang serupa. Karena sanksi yang diterapkan memberikan efek jera, hanya boleh dijalankan oleh aparat negara.
Negara harus tegas menolak apapun itu, baik ide ataupun budaya yang bisa merusak aqidah umat. Untuk itu semua pihak benar-benar harus serius, dalam menyelesaikan masalah demi masalah yang silih berganti. Bukan malah mencari solusi yang tambal sulam, tetapi solusi yang menuntaskan agar menghantar semua pihak pada ketaatan.
Semoga Allah senantiasa melindungi diri, keluarga dan lingkungan dari ancaman kemaksiatan.
Wallahua'alam bishawab. ***
Follow Berita datariau.com di Google News