DATARIAU.COM - Pendidikan menjadi salah satu sarana utama untuk melahirkan generasi yang unggul dan tangguh. Generasi yang unggul adalah generasi yang memiliki kemampuan dalam intelektual dan memiliki keimanan yang kokoh. Sedangkan generasi yang tangguh adalah generasi yang memiliki kekuatan dalam menghadapi rintangan kehidupan. Kurikulum pendidikan menjadi penentu generasi yang dilahirkan. Pendidikan juga menjadi hal yang sangat penting dalam menentukan nasib suatu bangsa. Pasalnya, generasi adalah sosok pemegang masa depan bangsa. Dari sini tampak jelas, negara harus menyuguhkan kurikulum yang mampu melahirkan generasi yang unggul dan tangguh.
Maraknya kasus perundungan di sekolah, pergaulan bebas, maraknya kasus seks bebas di kalangan generasi, intoleransi sosial dan kerusakan lingkungan membuat Kementerian Agama Republik Indonesia meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai wajah baru pendidikan Islam yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual. Hadirnya kurikulum berbasis cinta sebagai solusi untuk mendorong kesadaran ekologis dan solidaritas sejak dini.
Kurikulum Berbasis Cinta merupakan pendekatan pendidikan yang menitikberatkan pada titik temu antara umat manusia, bukan perbedaan. Kurikulum Berbasis Cinta dibangun di atas lima nilai utama yang disebut Panca Cinta, yaitu: Cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, dan cinta kepada bangsa dan negeri.
“Kita bermaksud menciptakan suatu hegemoni sosial yang lebih elegan, yang lebih harmoni, dengan menekankan aspek titik temu, bukan perbedaan. Jangan sampai kita mengajarkan agama, tapi tidak sadar menanamkan kebencian kepada yang berbeda,” tegas Menag Nasaruddin dalam peluncuran yang digelar di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Kamis (24/7/2025).
Kurikulum Berbasis Cinta yang telah diluncurkan oleh Kementrian Agama, jika kita telisik secara mendalam seolah menginspirasi perubahan, namun di balik makna dari KBC sebenernya sarat dengan pemikiran pluralisme. Pemikiran pluralisme merupakan pemikiran yang memiliki konsep bahwa semua agama itu sama. Semua agama sama-sama mengajarkan tentang kebaikan, tidak ada agama yang mengajarkan kekerasan kepada umatnya. Pluralisme juga mengajarkan bahwa kebenaran bersifat relatif, sehingga tidak ada yang boleh menganggap bahwa pendapatnya saja yang benar sedangkan pendapat yang lain salah. Dari pemahaman seperti ini maka muncul anggapan bahwa tidak boleh ada yang mengklaim dengan menganggap bahwa agamanya sendiri yang benar sedangkan agama yang lain salah.
Selain itu, pemahaman pluralisme juga memandang toleransi terhadap umat antar agama dengan pandangan tidak hanya membiarkan umat lain melaksanakan ibadahnya, namun umat muslim juga boleh ikut andil dalam aktivitas mereka. Seperti ikut merayakan hari-hari besar mereka. Pemahaman pluralisme ini sangat berbahaya bagi kaum muslim karena tidak sesuai dengan pemahaman kaum muslim, apalagi jika pemahaman pluralisme ini dijadikan kurikulum dalam pendidikan.
Kurikulum berbasis cinta juga terlahir dari sistem sekuler yakni sistem yang memisahkan antara agama dan kehidupan. Dari konsep seperti ini maka akan menjauhkan generasi muslim dari jati dirinya sebagai seorang muslim. Islam sebagai agama langit yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wa ta'ala telah menerangkan bahwa keberadaan agama Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Sebagaimana Allah katakan dalam QS Ali Imran ayat 19 dan 85:
"Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam.” (Ali Imran:19).
"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85).
Islam sebagai agama dan juga sebagai sistem kehidupan memiliki konsep pendidikan yang khas, yakni kurikulum pendidikan yang lahir dari akidah Islam. Akidah menjadi asas kehidupan bagi seorang muslim baik dalam tatanan kehidupan individu, masyarakat dan negara. Tujuan pendidikan dalam Islam adalah melahirkan generasi yang memiliki pola pikir yang Islam dan pola sikap yang Islam. Generasi yang dilahirkan dari pendidikan berbasis Islam adalah generasi yang unggul dan tangguh yakni generasi yang menguasai ilmu dan teknologi, dan generasi yang memiliki kekuatan akidah. Sehingga tatkala generasi menghadapi persoalan kehidupan tidak akan mudah putus asa.