Trending Topik si Kue 'Klepon'

355 view
Trending Topik si Kue 'Klepon'
(Foto: masakapahariini.com)
Kue Klepon

DATARIAU.COM - Belakangan kue klepon menjadi viral diperbincangkan di media sosial hingga menjadi trending topic di Twitter Indonesia sampai Rabu (22/07) pagi. Apa gerangankah yang membuat jajanan tradisional yang manis ini ramai diperbincangankan?

Ya, berawal dari sebuah foto klepon diberi narasi 'kue klepon tidak Islami' sembari mengajak membeli aneka kurma yang tersedia di toko syariah pengunggah. Hal ini sontak mengundang berbagai reaksi para netizen untuk berkomentar. Ada yang berkomentar negatif maupun positif. Tak sedikit yang juga merasa lucu dengan konten gambar kue klepon tersebut dan ada juga yang berang tersebab unggahan itu. Bagaimana tidak? Bukankah dalam perspektif agama Islam, tidak ada yang dinamakam makanan syariah?  Bahkan dalam Islam juga tidak ada yang dimakanan makanan yang lebih Islami atau tidak Islami. Jadi kalo ada yang mengatakan misalnya, satu makanan dipandang syar'i adalah makanan itu harus datang dari Arab. Nah, ini jelas keliru.

Ada Apa Dibalik Isu Kelepon?

Menggunakan kata islami dan halal sebagai ajang promosi untuk menarik hati pembeli, tak bisa dipungkiri bahwa penggunaan halal dalam upaya promosi adalah untuk menarik banyak konsumen, mengingat mayoritas penduduk Indonesia adalah beragama Islam, maka tagline "Islami" atau "halal" adalah magnet kuat yang mampu menarik banyak masyarakat Indonesia.

Namun, ada beberapa pengamat mengatakan bahwa isu klepon makanan tidak Islami adalah bentuk pro-kontra residu atau sisa-sisa dari persaingan Pilpres 2019. Hingga akhirnya topik kue klepon tidak Islami ini menyulut perdebatan antar kedua kelompok. Sampai pada isu tersebut menyentuh dan mengangkat isu-isu atau karakter sensitif dan khas dari salah satu kelompok. Isu dianggap merupakan bahan bakar yang murah untuk membakar perbedaan antara kedua belah pihak.

Jika kita telisik, unggahan klepon yang menjadi viral menunjukkan bahwa isu-isu terkait suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) juga masih mudah menyentil emosi orang dan dapat digunakan untuk mengedepankan sebuah agenda tertentu. Jadi salah satu hal yang paling gampang membuat tersinggung itu adalah dengan memakai isu SARA, karena itu membicarakan identitas. Selain itu, isu SARA juga masih terus dipakai dalam misinformasi atau disinformasi online untuk membuat masyarakat bereaksi.

Terlepas dari itu semua, di dalam Islam  tidak ada namanya makanan syar'i. Tapi lebih kepada apakah makanan tersebut halal atau haram? Kemudian dalam Islam juga menganjurkan untuk memakan makanan yang halal dan baik. Makanan halal itu makanan yang dibolehkan oleh agama tentunya. Selanjutnya yang dimaksud dengan makanan halal dan thayyib atau baik adalah makanan yang halal dan baik untuk kesehatan tubuh.

Makanan halal dan haram disebutkan dalam Al-Quran, yakni Surat Al-Maidah ayat 88 dan Surat Al-Baqarah ayat 168, yang intinya menyebutkan bahwa umat Muslim harus makan makanan yang halal, dimana untuk daging, binatangnya harus disembelih sesuai aturan Islam dan hewannya tidak diharamkan. Dalil-dalilnya terdapat dalam QS. Al-Baqarah : 172-173 dan QS. Al-Maaidah : 87-88 tentang makanan yang halal dan bergizi. Berikut diantara dalil-dalilnya :

"Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah," (QS. Al-Baqarah : 172).

Ayat ini menjelaskan bahwa setiap Muslim diperintahkan untuk memakan makanan yang baik dan senantiasa bersyukur kepada Allah atas rizki yang diberikan-Nya.

Kemudian dalil selanjutnya terkait bahwa umat Muslim harus makan makanan yang halal, di mana untuk daging, binatangnya harus disembelih sesuai aturan agama dan hewannya tidak diharamkan sebagai berikut:

"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang," (QS. Al-Baqarah : 173).

Ayat ini menerangkan tentang hal-hal yang haram dimakan adalah seperti bangkai, darah, babi dan segala binatang yang disembelih tanpa menyebut asma Allah. Maka Islam melarang memakan bangkai, darah dan daging babi.

Kemudian dalil selanjutnya yakni QS. Al-Maaidah : 87-88 sebagai berikut:

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya."

Nah, jadi jelaslah di dalam Islam tidak mana makanan yang dihalalkan dan yang diharamkan. Namun tidak ada yang dikategorikan makanan syari'ah maupun makanan yang tidak syari'ah. Semoga umat dapat lebih bijaķ bermedia sosial untuk berbagai hal. (*) 

Wallahu'alam-bishoab.

Penulis
: Alfira Khairunnisa
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
Tag: