Boikot Produk Pro LGBT, Solusi Tepat atau Sesaat?

datariau.com
974 view
Boikot Produk Pro LGBT, Solusi Tepat atau Sesaat?
DATARIAU.COM - Berbicara mengenai LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) memang selalu menjadi perdebatan. Baru-baru ini, muncul perdebatan di dunia maya. Setelah akun resmi perusahaan Unilever pada 19 Juni lalu resmi menyatakan diri berkomitmen mendukung gerakan LGBTQ+. Hal tersebut disampaikan melalui akun Instagram. "Kami berkomitmen untuk membuat rekan LGBTQ+ bangga karena kami bersama mereka. Karena itu, kami mengambil aksi dengan menandatangani Declaration of Amsterdam untuk memastikan setiap orang memiliki akses secara inklusif ke tempat kerja," kata Unilever. Unilever juga membuka kesempatan bisnis bagi LGBTQ+ sebagai bagian dari koalisi global. Selain itu, Unilever meminta Stonewall, lembaga amal untuk LGBT, mengaudit kebijakan dan tolok ukur bagaimana Unilever melanjutkan aksi ini (29/06/replubika.co.id). Akibatnya tak sedikit, yang menyeru untuk tidak lagi menggunakan produk unilever.

Menanggapi hal ini, MUI pun tak tinggal diam. Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain. “Saya selaku ketua komisi ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever,” kata Azrul saat dihubungi Republika, Ahad (28/6). "Kita tidak berkeinginan untuk merusak bisnis Unilever, tapi kita imbau kepada Unilever bahwa LGBT adalah penyakit dan harus diobati, bukan justru didukung,” katanya menambahkan. Menurut Azrul, sebagai perusahaan besar, Unilever seharusnya dapat lebih bijak dalam mengambil sikap. Dia juga meminta Unilever untuk mengalihfungsikan dana dukungan mereka untuk membantu menormalkan kaum LGBT.

Namun, apakah dengan memboikot produk-produk Unilever merupakan solusi yang tepat? Ataukah solusi yang hanya sesaat? Jika kita cermati kembali, perusahaan sebesar Unilever yang telah banyak mengeluarkan bermacam-macam jenis produk. Mulai dari produk kecantikan, kebersihan, sampai makanan. Tentu tak sedikit jumlah penggemar setianya. Apalagi kualitasnya yang sudah terjamin dengan harga yang minim. Sehingga membuat konsumen yang sudah bergantung menggunakan produk Unilever dalam kehidupan sehari-hari. Berat untuk menghentikannya, dan mungkin hanya bisa untuk menguranginya saja. Selain itu, masih ada kemungkinan untuk kembali menggunakan produk Unilever, karena sebelumnya sudah merasakan banyak manfaat dari produknya sehingga tak bisa beralih ke yang lain.

Terlihat bahwa dengan melakukan boikot saja ternyata belum cukup menghentikan kampanye LGBT yang kian gencar. Apa lagi sudah semakin banyaknya perusahaan-perusahaan besar yang juga turut berganbung mengkampanyekan LGBT baik secara terang-terangan atau pun sembunyi-sembunyi. Misalnya saja di Instagram, mulai banyak bermunculan fitur-fitur yang bersimbolkan LGBT. Begitu juga hashtag yang mengkampanyekan LGBT semakin ramai di dunia maya.

Di pihak konsumen, tentu ini bisa menjadi dilema. Di satu sisi, mereka sadar bahwa perbuatan LGBT adalah salah dan menyimpang. Sehingga muncul rasa bersalah ketika menggunakan produk yang mengkampanyekan LGBT. Akan tetapi, di sisi lain para konsumen sudah tergantung dengan produk-produk tersebut. Walhasil, mayoritas konsumen pun mengambil jalan tengah yaitu mengurangi pemakaian saja. Tentunya, ini akan menimalisir efek boikot terhadap perusahaan pro LGBT. Padahal tujuan utama boikot agar perusahaan tersebut bisa menghentikan kampanye LGBT.

Perlu kita sadari bersama bahwa semakin derasnya dukungan terhadap LGBT berbanding lurus dengan sistem liberalisme yang kian mencengkram sendi-sendi kehidupan. Bagaimana tidak, sistem liberalisme yang berlandaskan kebebasan. Menjadi dalih para LGBT untuk mempertahankan eksistensi mereka. Mereka memandang bahwa manusia memiliki hak untuk bebas dan memilih. Termasuk bebas memilih pasangan yang sejenis, walaupun itu menyalahi kodrat manusia sebagai ciptaan Sang Khalik. Sehingga jika menolak keberadaannya artinya sama saja dengan melanggar hak asasi manusia, itu menurut prinsip mereka.

Maka dari itu Islam sudah sangat jelas mengharamkan perbuatan LGBT. Selain karena menyalahi fitrah manusia, perbuatan ini juga dilaknat oleh Allah Subahanahu wa Ta'ala. Seperti yang terjadi di masa kaum Nabi Luth yang mempraktekkan perbuatan homoseksual. Allah Subahanahu wa Ta'ala berfirman: "Dan kepada Luth, kami berikan hikmah dan ilmu dan Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang melakukan perbuatan keji. Sungguh, mereka orang-orang yang jahat lagi fasik." (QS. Al-Anbiya’:74). Dengan begitu, jelas bahwa Islam telah memberikan solusi tuntas untuk menghentikan kampanye maupun perbuatan LGBT.

Wallahu a’lam bish shawab. (***)

Penulis:
Astuti Rahayu Putri, S.Psi
Editor
: Redaksi
Sumber
: Datariau.com
Tag:Lgbt
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)