SMM PANEL INDO

Saat Ekonomi Sulit, Banyak Saudara Kita Menahan Lapar, Bantulah Mereka yang Tidak Meminta-minta

datariau.com
380 view
Saat Ekonomi Sulit, Banyak Saudara Kita Menahan Lapar, Bantulah Mereka yang Tidak Meminta-minta

DATARIAU.COM - Ada orang yang hari ini tersenyum di hadapan kita, padahal semalam ia menangis karena memikirkan bagaimana keluarganya makan esok hari.

Ada ayah yang tetap berangkat bekerja meski badan sakit ataupun orang-orang sedang libur bersama keluarga.

Ada ibu di kedai warung yang berkali-kali menghitung uang belanja, lalu mengembalikan sebagian barang ke rak karena tidak sanggup membelinya.

Ada orang tua yang menunda membeli obat untuk dirinya sendiri agar uang yang tersisa bisa digunakan memenuhi kebutuhan keluarga.

Ada pedagang kecil yang sejak pagi menunggu pembeli, tetapi hingga sore dagangannya hampir tidak laku.

Ada keluarga yang rumahnya tampak baik-baik saja, anak-anaknya tetap tersenyum, tetapi di balik pintu rumah mereka sedang berjuang keras mempertahankan kehidupan.

Dan yang paling menyedihkan, kita yang memiliki kecukupan bahkan berlebihan harta tidak peka dan tidak mengetahui penderitaan saudara kita, karena memang mereka tidak pernah meminta-minta.

Baca juga:Saat Ekonomi Semakin Sulit, Solusinya Kuatkan Tauhid


Mereka tidak membuat status untuk mengeluhkan keadaan.

Tidak mengetuk pintu rumah orang kaya.

Tidak mengirim pesan meminta pinjaman.

Tidak menceritakan kesulitan kepada teman.

Mereka memilih diam.

Mereka memilih tetap bekerja dan berusaha sekuat.

Mereka memilih bersabar.

Dan ketika semua jalan terasa sempit, mereka membawa keluh kesahnya kepada Allah Ta'ala.

Mereka tidak mengadu kepada manusia, tetapi mengadu kepada Rabb semesta alam.

Di sinilah hati kita seharusnya mulai bertanya: Sudahkah kita benar-benar memperhatikan orang-orang seperti ini?

Orang yang Pantas Dibantu


Kesalahan kita terkadang adalah menganggap orang miskin hanya mereka yang datang meminta.

Padahal Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan penjelasan yang sangat penting tentang siapa orang miskin yang sesungguhnya.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Orang miskin bukanlah orang yang berkeliling meminta-minta kepada manusia, lalu ia mendapatkan sesuap atau dua suap makanan dan satu atau dua butir kurma. Akan tetapi, orang miskin adalah orang yang tidak mendapatkan kecukupan untuk memenuhi kebutuhannya, namun keadaannya tidak diketahui sehingga ia diberi sedekah, dan ia tidak meminta-minta kepada manusia." Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Perhatikan baik-baik. "Keadaannya tidak diketahui sehingga ia diberi sedekah." Artinya, ada orang miskin yang tidak mudah dikenali.

Baca juga:Bertahan di Tengah Sulitnya Ekonomi: Menjaga Nafkah Keluarga Tetap Halal


Mereka tidak terlihat seperti orang miskin.

Mereka mungkin berpakaian rapi.

Masih bekerja.

Masih tersenyum.

Masih berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya.

Namun penghasilannya tidak mencukupi.

Mereka hanya tidak meminta-minta dan tidak menampakkan kesusahan hidupnya.

Cari Mereka


Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 273: "Pemberian itu untuk orang-orang fakir yang terhalang karena jihad di jalan Allah, sehingga mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena mereka menjaga kehormatan diri dari meminta-minta. Engkau mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta kepada manusia secara mendesak. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui."

Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam.

Ada orang miskin yang tampak kaya karena ia menjaga kehormatan dirinya.

Ia tidak memamerkan kesulitannya.

Ia tidak mengemis perhatian.

Ia tidak memaksa orang lain untuk memahami keadaannya.

Karena itu, kita tidak boleh hanya menunggu orang yang datang meminta bantuan.

Kita harus belajar mencari orang yang membutuhkan agar harta yang kita sedekahkan tepat sasaran.

Baca juga:Bergantung kepada Ketetapan Allah di Tengah Himpitan Ekonomi


Keutamaan orang miskin yang bersabar dan menjaga kehormatan dirinya, serta pentingnya memperhatikan mereka yang tidak meminta-minta kepada manusia sangatlah besar.

Perhatikan Tetangga


Pernahkah kita bertanya kepada tetangga:

"Bagaimana keadaan keluarga?"

Bukan sekadar basa-basi.

Tetapi benar-benar ingin mengetahui keadaan mereka.

Mungkin selama ini kita tidak tahu bahwa tetangga sebelah rumah sedang kesulitan membeli beras.

Kita tidak tahu bahwa seorang ayah sedang pusing membayar uang sekolah anaknya.

Kita tidak tahu bahwa seorang ibu sedang berusaha menyembunyikan kecemasannya dan ingin tetap terlihat baik-baik saja di depan anak-anaknya.

Kita tidak tahu bahwa mungkin ada seorang lansia hidup hanya dari penghasilan kecil yang tidak menentu.

Kita tidak tahu.

Karena mereka tidak pernah bercerita.

Dan karena mereka tidak bercerita, bukan berarti mereka tidak membutuhkan.

Mungkin justru mereka terlalu menjaga kehormatan dirinya untuk meminta.

Mereka Lebih Memilih Menangis dalam Sujud

Bayangkan seseorang yang seharian bekerja.

Pagi mencari nafkah.

Siang menahan lapar.

Sore pulang membawa hasil yang tidak seberapa.

Malam melihat anak-anaknya.

Ia tersenyum.

Ia mengatakan semuanya baik-baik saja.

Kemudian ketika rumah mulai sunyi dan semua orang tertidur, ia bangun.

Berwudu.

Membentangkan sajadah.

Mengangkat tangan.

Lalu menangis.

Bukan karena ia ingin dikasihani manusia.

Ia hanya sedang mengadu kepada Allah Ta'ala.

"Ya Allah, berikan kami kesabaran menghadapi ini semua."

"Ya Allah, berikan kami banyak kebaikan dari keadaan sulit ini."

"Ya Allah, jangan biarkan anak-anakku kelaparan."

"Ya Allah, berikan aku jalan keluar."

"Ya Allah, mudahkan urusan keluargaku."

Tidak ada kamera yang merekam.

Tidak ada manusia yang melihat.

Tetapi Allah Ta'ala melihat setiap air mata itu.

Dan mungkin, di suatu hari, Allah Ta'ala mempertemukan orang tersebut dengan kita.

Bukan secara kebetulan.

Bisa jadi itu adalah kesempatan yang Allah Ta'ala berikan kepada kita untuk berbuat baik dan membelanjakan harta kita di jalan yang tepat.

Baca juga:Renungan Untuk Engkau yang Sedang Kesulitan Ekonomi

Peka Terhadap Sesama


Inilah yang sering kita lupakan.

Kita berkata:

"Kalau dia butuh, kenapa tidak minta?"

Pertanyaan itu seharusnya dibalik:

"Kalau kita tahu dia membutuhkan, mengapa harus menunggu dia meminta?"

Bukankah kita memiliki mata untuk melihat?

Bukankah kita memiliki hati untuk merasakan?

Bukankah kita memiliki rezeki untuk berbagi?

Jika Allah Ta'ala memberikan kita kelapangan, jangan tunggu saudara kita sampai berada di titik paling rendah sebelum kita mengulurkan tangan.

Bantu mereka ketika mereka masih berusaha mempertahankan kehormatannya.

Bantu tanpa membuat mereka merasa rendah.

Bantu tanpa memamerkan bantuan.

Bantu tanpa mengungkit.

Bantu tanpa menunggu ucapan terima kasih.

Jika mengetahui seseorang sedang kesulitan, tidak selalu harus berkata:

"Ini uang untuk kamu."

Kadang cara yang lebih halus justru lebih menjaga perasaannya.

Belilah dagangannya.

Jika ia memiliki usaha kecil, bantu promosikan.

Jika ia membutuhkan modal, bantu modal usaha.

Jika anaknya kesulitan sekolah, bantu biaya pendidikannya.

Jika keluarganya membutuhkan makanan, kirimkan bahan pokok.

Jika sedang sakit, bantu biaya pengobatan.

Jika kehilangan pekerjaan, bantu mencarikan pekerjaan.

Jika sedang terlilit kebutuhan mendesak, ringankan sebisanya.

Dengan begitu, kita tidak sekadar memberikan uang.

Kita sedang menjaga kehormatan seorang Muslim.

Jangan Remehkan Sedekah yang Menurut Kita Kecil

Tidak semua orang mampu memberikan jutaan rupiah.

Tidak masalah.

Sedekah tidak harus menunggu kita kaya.

Jika mampu memberikan Rp100 ribu, berikan.

Jika hanya mampu Rp50 ribu, berikan.

Jika hanya mampu membeli makanan untuk satu keluarga, lakukan.

Jika tidak mampu dengan uang, bantulah dengan tenaga.

Jika tidak mampu dengan tenaga, bantu dengan pekerjaan.

Jika tidak mampu membantu secara materi, mungkin kita bisa menjadi penghubung agar orang yang membutuhkan bertemu dengan orang yang mampu membantu.

Yang penting jangan menganggap kecil sebuah kebaikan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan (bersedekah) separuh kurma." Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.

Separuh kurma.

Bukan sesuatu yang besar.

Tetapi ketika diberikan dengan keikhlasan, kebaikan tersebut tidak dianggap remeh.

Jangan Sampai Kita Kaya di Mata Manusia, tetapi Miskin di Hadapan Allah

Ada orang yang sangat takut hartanya berkurang ketika bersedekah.

Padahal harta yang kita miliki pada akhirnya akan kita tinggalkan.

Rumah akan ditinggalkan.

Kendaraan akan ditinggalkan.

Tabungan akan ditinggalkan.

Perhiasan akan ditinggalkan.

Jabatan akan ditinggalkan.

Yang kita bawa hanyalah amal.

Karena itu, jangan sampai kita terlalu sibuk mengumpulkan harta tetapi lupa mengumpulkan bekal akhirat.

Allah Ta'ala berfirman:

"Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa pun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui. (QS. Ali Imran: 92)

Ayat ini seharusnya menggugah hati kita.

Apa yang paling kita cintai?

Dan seberapa rela kita melepaskannya demi mencari ridha Allah Ta'ala?

Diam-diam Ada Doa yang Begitu Indah


Salah satu keindahan membantu orang lain secara diam-diam adalah kita mungkin tidak pernah mengetahui doa yang mereka panjatkan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Doa seorang Muslim untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya adalah mustajab. Di sisi kepalanya ada malaikat yang ditugaskan. Setiap kali dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, malaikat tersebut berkata, 'Amin, dan bagimu juga seperti itu.'" Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim.

Artinya, ketika kita berbuat baik kepada seseorang, jangan selalu berharap dia membalas.

Bisa jadi ia tidak mampu.

Tetapi ketika ia mendoakan kita tanpa sepengetahuan kita, ada malaikat yang mengaminkan doanya.

"Amin, dan bagimu juga seperti itu."

Betapa indahnya balasan yang tidak terlihat.

Kita tidak tahu.

Mungkin orang yang pernah kita bantu sedang berdiri dalam shalat malam.

Ia mengangkat kedua tangannya.

Air matanya mengalir.

Kemudian ia berdoa:

"Ya Allah, balaslah kebaikan orang yang telah membantu keluargaku."

Kita mungkin tidak pernah mengetahui doa itu.

Kita bahkan mungkin sudah lupa berapa jumlah bantuan yang pernah kita berikan.

Tetapi Allah Ta'ala tidak pernah lupa.

Dan jika orang tersebut mendoakan kita tanpa sepengetahuan kita, malaikat mengaminkannya.

Namun jangan menjadikan gambaran ini sebagai alasan utama kita bersedekah.

Tujuan terbesar kita adalah mencari ridha Allah Ta'ala. Bukan berharap didoakan oleh orang yang kita bantu, apalagi berharap balasan darinya.

Jika kemudian kita mendapatkan doa baik dari saudara kita, itu adalah karunia tambahan dari Allah Ta'ala.

Di Saat Ekonomi Sulit, Kepekaan Kita Harus Semakin Besar


Kondisi ekonomi yang sulit seharusnya tidak membuat hati kita semakin keras.

Justru sebaliknya.

Saat harga kebutuhan meningkat, kita harus semakin peka.

Saat banyak orang kehilangan pekerjaan, kita harus semakin peduli.

Saat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, orang yang memiliki kelapangan rezeki harus semakin mudah mengulurkan tangan.

Bukan berarti kita harus menyelesaikan seluruh persoalan ekonomi dunia.

Tidak.

Tetapi setidaknya kita dapat membantu satu keluarga.

Jika tidak mampu satu keluarga, bantu satu orang.

Jika tidak mampu banyak, bantu satu.

Jangan menunggu mampu melakukan sesuatu yang besar untuk mulai berbuat baik.

Sebab boleh jadi, di sisi Allah Ta'ala, sesuatu yang kita anggap kecil justru sangat besar nilainya.

Mulai hari ini, mari kita ubah cara melihat orang miskin.

Jangan hanya mencari orang yang datang meminta.

Carilah orang yang selama ini diam.

Cari tetangga yang hidup sederhana.

Cari keluarga yang tetap bekerja keras meskipun orang-orang sedang libur.

Cari janda yang membesarkan anak-anaknya.

Cari anak yatim yang kebutuhan hidupnya belum tercukupi.

Cari pekerja harian yang penghasilannya tidak menentu.

Cari pedagang kecil yang dagangannya sepi.

Cari orang yang selama ini tidak pernah meminta, tetapi sebenarnya membutuhkan.

Dan mungkin Allah Ta'ala sedang menunggu apakah kita akan peka terhadap keadaan mereka.

Harta tidak selamanya berada di tangan kita.

Kesehatan tidak selamanya kita miliki.

Kesempatan berbuat baik juga tidak selamanya terbuka.

Hari ini kita mampu membantu.

Besok belum tentu.

Hari ini kita masih bisa bertemu orang yang membutuhkan.

Besok mungkin ia telah pergi.

Hari ini kita masih memiliki kesempatan memberikan sesuatu.

Besok mungkin kita justru yang membutuhkan pertolongan.

Karena itu, selama Allah Ta'ala memberikan kemampuan, jangan pelit terhadap kebaikan.

Berbagilah.

Ringankanlah.

Bantulah.

Jagalah kehormatan orang yang kita bantu.

Dan jangan pernah merasa rugi karena telah memberikan sesuatu di jalan Allah Ta'ala.

Barangkali Orang yang Kita Tolong Hari Ini Menjadi Sebab Pertolongan Allah untuk Kita Kelak

Kita tidak tahu bagaimana akhir kehidupan kita.

Mungkin suatu hari kita sendiri akan berada dalam kesulitan.

Mungkin kita yang membutuhkan uluran tangan.

Mungkin kita yang menangis di dalam rumah karena persoalan ekonomi.

Karena itu, jangan pernah meremehkan kebutuhan orang lain.

Hari ini tangan kita berada di atas.

Besok bisa jadi tangan kita berada di bawah.

Hari ini kita memberi.

Besok mungkin kita yang membutuhkan.

Maka, gunakanlah kesempatan ketika Allah Ta'ala memberikan kelapangan.

Bersedekahlah sebelum datang hari ketika kita ingin bersedekah tetapi tidak lagi memiliki kesempatan.

Allah Ta'ala berfirman:

"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata, 'Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda kematianku sedikit waktu, niscaya aku akan bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.'" (QS. Al-Munafiqun: 10)

Semoga Allah Ta'ala menjadikan kita orang-orang yang memiliki mata untuk melihat kesulitan, hati untuk merasakan penderitaan, tangan yang ringan membantu, dan jiwa yang ikhlas ketika memberi.

Semoga Allah Ta'ala melapangkan rezeki saudara-saudara kita yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan keluarganya, menjaga kehormatan mereka, mencukupkan kebutuhan mereka, dan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan.

Wallahu a'lam bish-shawab.***

Baca juga:Semua Orang Bisa Kaya Raya, Namun Hanya Orang Pilihan yang Bisa Mendapatkan Hidayah
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)