Cari Mereka
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 273: "Pemberian itu untuk orang-orang fakir yang terhalang karena jihad di jalan Allah, sehingga mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena mereka menjaga kehormatan diri dari meminta-minta. Engkau mengenal mereka dari ciri-cirinya, mereka tidak meminta kepada manusia secara mendesak. Apa pun harta yang baik yang kamu infakkan, sungguh, Allah Maha Mengetahui."
Ayat ini mengandung pelajaran yang sangat dalam.
Ada orang miskin yang tampak kaya karena ia menjaga kehormatan dirinya.
Ia tidak memamerkan kesulitannya.
Ia tidak mengemis perhatian.
Ia tidak memaksa orang lain untuk memahami keadaannya.
Karena itu, kita tidak boleh hanya menunggu orang yang datang meminta bantuan.
Kita harus belajar mencari orang yang membutuhkan agar harta yang kita sedekahkan tepat sasaran.
Baca juga:Bergantung kepada Ketetapan Allah di Tengah Himpitan Ekonomi
Keutamaan orang miskin yang bersabar dan menjaga kehormatan dirinya, serta pentingnya memperhatikan mereka yang tidak meminta-minta kepada manusia sangatlah besar.
Perhatikan Tetangga
Pernahkah kita bertanya kepada tetangga:
"Bagaimana keadaan keluarga?"
Bukan sekadar basa-basi.
Tetapi benar-benar ingin mengetahui keadaan mereka.
Mungkin selama ini kita tidak tahu bahwa tetangga sebelah rumah sedang kesulitan membeli beras.
Kita tidak tahu bahwa seorang ayah sedang pusing membayar uang sekolah anaknya.
Kita tidak tahu bahwa seorang ibu sedang berusaha menyembunyikan kecemasannya dan ingin tetap terlihat baik-baik saja di depan anak-anaknya.
Kita tidak tahu bahwa mungkin ada seorang lansia hidup hanya dari penghasilan kecil yang tidak menentu.
Kita tidak tahu.
Karena mereka tidak pernah bercerita.
Dan karena mereka tidak bercerita, bukan berarti mereka tidak membutuhkan.
Mungkin justru mereka terlalu menjaga kehormatan dirinya untuk meminta.
Mereka Lebih Memilih Menangis dalam Sujud
Bayangkan seseorang yang seharian bekerja.
Pagi mencari nafkah.
Siang menahan lapar.
Sore pulang membawa hasil yang tidak seberapa.
Malam melihat anak-anaknya.
Ia tersenyum.
Ia mengatakan semuanya baik-baik saja.
Kemudian ketika rumah mulai sunyi dan semua orang tertidur, ia bangun.
Berwudu.
Membentangkan sajadah.
Mengangkat tangan.
Lalu menangis.
Bukan karena ia ingin dikasihani manusia.
Ia hanya sedang mengadu kepada Allah Ta'ala.
"Ya Allah, berikan kami kesabaran menghadapi ini semua."
"Ya Allah, berikan kami banyak kebaikan dari keadaan sulit ini."
"Ya Allah, jangan biarkan anak-anakku kelaparan."
"Ya Allah, berikan aku jalan keluar."
"Ya Allah, mudahkan urusan keluargaku."
Tidak ada kamera yang merekam.
Tidak ada manusia yang melihat.
Tetapi Allah Ta'ala melihat setiap air mata itu.
Dan mungkin, di suatu hari, Allah Ta'ala mempertemukan orang tersebut dengan kita.
Bukan secara kebetulan.
Bisa jadi itu adalah kesempatan yang Allah Ta'ala berikan kepada kita untuk berbuat baik dan membelanjakan harta kita di jalan yang tepat.
Baca juga:Renungan Untuk Engkau yang Sedang Kesulitan Ekonomi