Fatwa Ulama Tentang Larangan Perayaan Tahun Baru Islam

datariau.com
638 view
Fatwa Ulama Tentang Larangan Perayaan Tahun Baru Islam

PEKANBARU, datariau.com - Setiap tahun umat Islam memasuki bulan Muharam, bulan pertama dalam kalender Hijriah yang termasuk salah satu dari empat bulan haram (bulan mulia) yang diagungkan Allah Ta'ala. Namun di tengah masyarakat, tidak sedikit yang menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai momentum perayaan tertentu yang dianggap memiliki nilai ibadah khusus. Lalu, bagaimana pandangan Islam mengenai hal tersebut?

Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menetapkan bahwa jumlah bulan dalam setahun adalah dua belas bulan, sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi. Di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu pada bulan-bulan itu..." (QS. At-Taubah: 36).

Empat bulan haram tersebut adalah Rajab, Zulkaidah, Zulhijah, dan Muharam. Para ulama menjelaskan bahwa kemuliaan bulan-bulan ini hendaknya diisi dengan peningkatan amal saleh dan menjauhi berbagai bentuk kemaksiatan.

Muharam Bukan Hari Raya


Sebagian kaum muslimin menyambut datangnya 1 Muharam dengan berbagai bentuk perayaan, acara khusus, atau ritual yang dianggap memiliki keutamaan tertentu. Padahal, dalam tuntunan syariat tidak ditemukan dalil yang menunjukkan adanya perayaan khusus pada awal tahun Hijriah.

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau mendapati penduduk setempat memiliki dua hari yang biasa digunakan untuk bersenang-senang dan berpesta. Nabi kemudian bersabda:

"Sesungguhnya Allah telah mengganti bagi kalian dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Hari Raya Idulfitri dan Hari Raya Iduladha." (HR. Abu Dawud no. 1134).

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam hanya menetapkan dua hari raya bagi umatnya, yaitu Idulfitri dan Iduladha. Adapun pergantian tahun Hijriah tidak pernah dijadikan sebagai hari raya oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maupun para sahabatnya.

Fatwa Ulama tentang Ucapan Tahun Baru Hijriah


Mantan Mufti Kerajaan Arab Saudi, Syekh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, menjelaskan bahwa beliau tidak mengetahui adanya dalil dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah yang menganjurkan ucapan selamat tahun baru Hijriah secara khusus.

Beliau menerangkan bahwa jika seseorang lebih dahulu mengucapkan doa atau harapan kebaikan saat pergantian tahun, maka boleh dijawab dengan doa yang serupa. Namun tidak diyakini sebagai amalan yang memiliki keutamaan ibadah khusus.

Senada dengan itu, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menegaskan bahwa bukan termasuk sunnah menjadikan awal tahun Hijriah sebagai hari raya atau mengkhususkan ucapan selamat sebagai bagian dari ibadah.

Beliau mengingatkan bahwa yang patut menjadi perhatian seorang muslim bukanlah bertambahnya angka usia, melainkan bagaimana umur tersebut dihabiskan dalam ketaatan kepada Allah.

"Banyak manusia yang panjang umurnya, namun semakin jauh dari Allah. Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik amalnya," demikian makna nasihat beliau dalam salah satu ceramahnya.

Muhasabah, Bukan Euforia


Datangnya tahun baru Hijriah sejatinya menjadi momen muhasabah atau introspeksi diri. Seorang muslim hendaknya mengevaluasi amal yang telah dilakukan selama setahun terakhir.

Sudahkah waktu yang Allah berikan digunakan untuk memperbanyak ibadah? Sudahkah dosa-dosa yang dilakukan disertai dengan taubat yang sungguh-sungguh? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini lebih penting daripada sekadar merayakan pergantian kalender.

Para ulama salaf dikenal sebagai generasi yang sangat memperhatikan kualitas amal mereka. Mereka tidak menjadikan pergantian tahun sebagai acara seremonial, melainkan kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah dan meningkatkan ketakwaan.

Amalan yang Dianjurkan di Bulan Muharam


Meski tidak ada tuntunan perayaan khusus, bulan Muharam memiliki sejumlah keutamaan yang dianjurkan untuk diisi dengan ibadah.

Salah satu amalan yang paling utama adalah puasa Asyura pada tanggal 10 Muharam. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat kaum Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur atas keselamatan Nabi Musa 'alaihis salam, beliau bersabda:

"Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian." Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa. (HR. Bukhari no. 2004).

Selain puasa Asyura, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak amal saleh secara umum, seperti membaca Al-Qur'an, berdzikir, bersedekah, menjaga salat berjamaah, serta memperbanyak taubat dan istighfar.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)