DATARIAU.COM - Perselingkuhan bukan sekadar persoalan hati. Dalam pandangan Islam, perbuatan ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap pasangan dan salah satu jalan yang dapat mengantarkan seseorang menuju perzinaan. Dampaknya pun tidak hanya merusak hubungan rumah tangga, tetapi juga dapat menghancurkan kepercayaan, keluarga, hingga kehidupan sosial.
Perselingkuhan belakangan ini semakin sering menjadi sorotan. Kasusnya ditemukan di berbagai kalangan, baik dalam lingkup regional maupun nasional. Fenomena tersebut patut menjadi perhatian karena perselingkuhan kerap bermula dari hal yang dianggap sepele, seperti komunikasi pribadi, kedekatan emosional, hingga pertemuan yang sengaja disembunyikan dari pasangan.
Dalam Islam, larangan terhadap zina bahkan dimulai sejak seseorang mendekati perbuatan tersebut. Al-Qur'an menegaskan, “Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan seburuk-buruk jalan.” (QS. Al-Isra: 32).
Baca juga:Jangan Coba-coba, Selingkuh Adalah Dosa Besar yang Berbahaya, Berikut Dalilnya!
Artinya, bukan hanya zina yang dilarang. Berbagai tindakan yang menjadi jalan menuju perzinaan juga harus dihindari. Dalam konteks ini, perselingkuhan menjadi salah satu pintu yang sangat berbahaya.
Pernikahan Bukan Sekadar Ikatan Biasa
Pernikahan dalam Islam memiliki tujuan yang sangat mulia. Ia dibangun untuk menghadirkan ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat di antara pasangan. Hal tersebut ditegaskan dalam QS. Ar-Rum ayat 21.
Karena itu, pernikahan bukan sekadar legalitas hubungan atau formalitas. Ikatan tersebut merupakan perjanjian yang berat atau mitsaqan ghalizhan, sebagaimana disebutkan dalam QS. An-Nisa ayat 21.
Baca juga:Sebelum Celaka, Wajib Paham Cara Cerdas dan Bijak Menggunakan Media Sosial
Setiap suami dan istri memiliki tanggung jawab untuk menjaga amanah tersebut, termasuk memperlakukan pasangan dengan baik. Ketika seseorang memilih berselingkuh, ia bukan hanya melanggar kepercayaan pasangan, tetapi juga merusak komitmen yang telah dibangun dalam rumah tangga.
Perselingkuhan pada akhirnya menjadi upaya meruntuhkan benteng pernikahan dari dalam. Padahal, pernikahan sendiri merupakan salah satu sarana untuk menjaga diri dari berbagai bentuk kemaksiatan.
Selingkuh Berawal dari Kebohongan dan Pengkhianatan
Tidak ada perselingkuhan yang berjalan tanpa kebohongan. Hubungan tersebut biasanya disembunyikan dari pasangan, disertai pengingkaran terhadap janji kesetiaan dan pengkhianatan terhadap kepercayaan yang telah diberikan.
Baca juga:Menghkawatirkan, Selingkuh Seperti Menjadi Tren Masa Kini, Islam Punya Solusi
Al-Qur'an mengingatkan orang-orang beriman agar tidak mengkhianati amanah yang dipercayakan kepada mereka. Kepercayaan pasangan merupakan salah satu amanah yang seharusnya dijaga, bukan disalahgunakan.
Karena itu, perselingkuhan tidak tepat dianggap sebagai sekadar “khilaf perasaan”. Di dalamnya terdapat rangkaian tindakan yang merusak kejujuran, kesetiaan, dan amanah dalam rumah tangga.
Jangan Anggap Chat Pribadi sebagai Hal Sepele
Bahaya perselingkuhan juga dapat bermula dari dunia digital. Pesan pribadi yang intens, komunikasi diam-diam, panggilan video berdua hingga pertemuan yang sengaja dirahasiakan dapat menjadi pintu masuk menuju hubungan yang semakin jauh.
Sumber tersebut menjelaskan bahwa larangan mendekati zina mencakup berbagai jalan yang mengarah kepadanya. Hadis yang dikutip di dalamnya menggambarkan bahwa pandangan, pendengaran, ucapan, sentuhan, langkah, hingga keinginan hati dapat menjadi bagian dari proses menuju zina.
Baca juga:ASN Dicopot Karena Selingkuh
Karena itu, hubungan yang awalnya diberi label “sekadar teman” dapat berubah menjadi ketertarikan. Jika terus dipelihara, ketertarikan bisa berkembang menjadi perselingkuhan dan pada akhirnya mengarah kepada perzinaan.
Dampaknya Bisa Menghancurkan Keluarga
Perselingkuhan tidak berhenti pada hubungan antara dua orang. Ketika perselingkuhan terbongkar, dampaknya dapat menjalar kepada seluruh keluarga.
Kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun dapat runtuh dalam waktu singkat. Anak-anak juga dapat menjadi pihak yang ikut merasakan dampak ketika keutuhan keluarga terganggu.
Sumber tersebut juga menekankan bahwa kemaksiatan memiliki dampak terhadap kehidupan seseorang, baik terhadap hati, agama, akal, kehidupan dunia maupun akhirat.
Dengan demikian, perselingkuhan bukan perkara yang layak dicoba hanya karena rasa penasaran atau ketertarikan sesaat. Risikonya jauh lebih besar daripada kesenangan sementara yang mungkin dirasakan.
Sudah Terlanjur? Jangan Menunda Tobat
Bagi seseorang yang sudah terjerumus, Islam tetap membuka pintu pertobatan. QS. At-Tahrim ayat 8 memerintahkan orang-orang beriman untuk melakukan tobat dengan sungguh-sungguh.
Tobat tidak cukup hanya dengan penyesalan. Seseorang harus benar-benar meninggalkan perbuatan tersebut, memiliki tekad untuk tidak mengulanginya, serta menyelesaikan hak orang lain apabila terdapat hak yang telah dilanggar.
Dalam konteks perselingkuhan, langkah tersebut berarti memutus hubungan terlarang secara total dan tidak mencari alasan untuk tetap mempertahankannya. Sumber juga mengutip hadis yang menyebutkan bahwa orang yang bertobat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.
Bentengi Diri Sebelum Terlambat
Mencegah perselingkuhan jauh lebih baik daripada memperbaiki kehancuran setelah semuanya terbongkar. Salah satu langkah yang ditekankan adalah menjaga pandangan. Selain itu, seseorang perlu menghindari situasi yang dapat membuka ruang bagi hubungan terlarang, termasuk kedekatan pribadi yang tidak memiliki batas.
Rumah tangga juga perlu diperkuat dengan komunikasi, kasih sayang, tanggung jawab dan komitmen. Pernikahan yang dijaga dengan baik akan menjadi benteng penting dari berbagai godaan di luar rumah.