Buktikan Tak Ragu 'Potong Kepala', Kapolri Copot 7 Pejabat

Ruslan
1.349 view
Buktikan Tak Ragu 'Potong Kepala', Kapolri Copot 7 Pejabat
Foto: Net

Istri Pamer Uang

Sementara itu, Kapolres Tebing Tinggi AKBP Agus Sugiyarso dicopot dari jabatannya diduga setelah rekaman video istrinya pamer uang di aplikasi TikTok beredar di media sosial, dan kemudian viral.

Buntut perilaku istrinya itu, AKBP Agus Sugiyarso ditarik ke Polda Sumut dalam rangka dilakukan evaluasi lebih lanjut. Berdasarkan hasil pemeriksaan, aksi pamer uang tersebut terjadi ketika sang istri sedang arisan bersama teman-temannya.

Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Panca Simajuntak menegaskan, kendati uang itu bukan milik yang bersangkutan, namun Polri melarang anggota dan keluarganya pamer kemewahan.

"Ini meskipun bukan dia yang melakukan, tetapi kita melihat bahwa dia tahu bahwa perintah Kapolri tidak boleh menunjukkan gambar yang menampilkan hedonisme dan harta benda. Sebagai tanggung jawab suaminya, Kapolres saya tarik ke Polda dalam rangka evaluasi," kata Panca.

Sebelumnya diketahui, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengutip pribahasa, "ikan busuk mulai dari kepala", kalau pimpinannya bermasalah, maka bawahannya juga akan bermasalah.

"Pimpinan harus jadi teladan, sehingga bawahannya akan meneladani. Karena kita tidak mungkin diikuti kalau kita tidak memulai yang baik. Kita tidak mungkin menegur kalau tidak jadi teladan. Harus mulai dari pemimpin atau diri sendiri. Ini yang saya harapkan rekan-rekan mampu memahami. Hal yang dijalankan penuh keikhlasan akan menjadi buah keikhlasan. Tolong ini diimplementasikan bukan hanya teori dan pepatah," ucapnya ketika bersama Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menutup pendidikan Sespimti Polri Dikreg ke-30, Sespimen Polri Dikreg ke-61 dan Sespimma Polri Angkatan ke-66, di Lembang, Jawa Barat, Rabu (27/10/2021) lalu.

Listyo menuturkan, dirinya beserta pejabat utama Mabes Polri memiliki komitmen untuk memberikan reward bagi personel yang menjalankan tugasnya dengan baik dan bekerja keras untuk melayani serta mengayomi masyarakat.

"Saya dan seluruh pejabat utama memiliki komitmen kepada anggota yang sudah bekerja keras di lapangan, kerja bagus, capek, meninggalkan anak-istri. Akan selalu komitmen memberikan reward, kalau saya lupa tolong diingatkan," katanya.

Sebaliknya, sanksi tegas akan diberikan kepada seluruh personel yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik, atau melanggar aturan yang ada. Bahkan, pimpinannya juga akan ditindak tegas apabila tidak mampu menjadi tauladan bagi jajarannya.

"Terhadap anggota yang melakukan kesalahan dan berdampak kepada organisasi, maka jangan ragu melakukan tindakan. Kalau tak mampu membersihkan ekor, maka kepalanya akan saya potong. Ini semua untuk kebaikan organisasi yang susah payah berjuang. Menjadi teladan, pelayan dan pahami setiap masalah dan suara masyarakat agar kita bisa ambil kebijakan yang sesuai," terangnya.

Listyo menekankan, personel Polri harus bisa menjadi pemimpin yang melayani dan mengayomi masyarakat serta anggotanya.

"Pemimpin yang bisa melayani dan menempatkan anggota dan masyarakat sebagai prioritas. Jangan hanya memerintah, tapi tidak tahu kesulitan ini menjadi masalah," katanya.

Seorang pemimpin, tambahnya, harus memiliki sifat dan sikap yang kuat, menguasai lapangan, bergerak cepat, responsif, peka terhadap perubahan, dan berani keluar dari zona nyaman. Selain itu mau turun ke bawah untuk mendengarkan secara langsung aspirasi dari masyarakat dan anggotanya. Pemimpin yang kuat akan mampu menciptakan rasa saling menghormati antara pimpinan dan jajarannya.

"Turun langsung ke lapangan agar tahu apa yang dirasakan masyarakat dan anak buah. Jaga emosi, jangan terpancing. Emosi mudah meledak akan mengakibatkan perbuatan yang tidak terukur. Apalagi diberikan kewenangan oleh undang-undang, maka tindakan tersebut akan berpotensi menjadi masalah," tandasnya. (*)

Sumber: BeritaSatu.com

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)