Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen: Angka Tinggi yang Menyimpan Beban Berat

datariau.com
103 view
Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen: Angka Tinggi yang Menyimpan Beban Berat
Foto: Arief Tito
Pengajar Universitas Paramadina, Dr. Ariyo DP Irhamna.

Sinyal pelemahan ekonomi domestik juga mulai terlihat dari sektor properti. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) kredit properti meningkat, sementara pertumbuhan sektor real estat melambat.

Padahal, sektor properti selama ini menjadi indikator penting kondisi kelas menengah. Ketika properti mulai tertekan, maka daya beli masyarakat menengah juga ikut melemah.

Karena itu, usulan Ariyo agar pemerintah mempercepat belanja modal produktif dan mereformasi subsidi energi layak dipertimbangkan. Subsidi yang lebih tepat sasaran kepada kelompok berpendapatan rendah akan jauh lebih efektif dibanding mempertahankan pertumbuhan melalui stimulus jangka pendek yang mahal dan berisiko memperbesar beban fiskal.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak seharusnya berhenti pada angka 5,61 persen semata. Yang lebih penting adalah apakah pertumbuhan tersebut benar-benar menciptakan kesejahteraan yang merata, memperkuat fondasi ekonomi nasional, dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Sebab pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak selalu identik dengan ekonomi yang sehat. Ketika pertumbuhan dibangun dengan biaya fiskal besar, tekanan utang meningkat, rupiah melemah, dan kelas menengah mulai tertekan, maka angka pertumbuhan tinggi justru bisa menjadi alarm bahwa ada persoalan struktural yang belum terselesaikan.***

Baca juga:Istri Itu Tulang Rusuk yang Harus Dijaga, Bukan Dibiarkan Patah Menanggung Nafkah Keluarga
Penulis
: Arief Tito
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)