SMM PANEL INDO

Perempuan Berperan Dalam Perubahan Sosial dan Pembangunan Berkelanjutan

datariau.com
121 view
Perempuan Berperan Dalam Perubahan Sosial dan Pembangunan Berkelanjutan

JAKARTA, datariau.com - Perempuan memiliki peran strategis dalam mendorong perubahan sosial sekaligus mendukung pencapaian pembangunan berkelanjutan. Peran tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari kesehatan, lingkungan, teknologi, hingga kepemimpinan dan transformasi sosial.

Hal itu mengemuka dalam Webinar Refleksi Kemerdekaan yang digelar Perempuan Paramadina dengan tema “Women and Social Change for SDGs: Building Resilient Communities through Women’s Empowerment, Environmental Action and Social Transformation”, Jumat (21/8/2026).

Webinar tersebut menghadirkan sejumlah dosen perempuan Universitas Paramadina untuk membahas kontribusi perempuan dalam menjawab berbagai tantangan sosial dan pembangunan, termasuk isu perubahan iklim, kesenjangan sosial, kesehatan keluarga, perkembangan teknologi, serta penguatan kepemimpinan perempuan.

Baca juga:Perempuan Paramadina Soroti Kesenjangan Gender, Ekonomi dan Politik di 81 Tahun Kemerdekaan


Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini, dalam pengantarnya menekankan pentingnya perguruan tinggi dan kalangan intelektual memberikan dampak nyata melalui diskursus publik. Ia juga mendorong perempuan untuk aktif menjalankan fungsi kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah.

“Jadi jangan mereka perlakukan sebagai orang suci. Tidak boleh. Mereka harus dikritik. Tidak boleh mencaci maki orangnya, tapi tindakan-tindakan dan kebijakannya. Itu kita memerlukan dukungan perempuan,” ujar Prof. Didik.

Menurutnya, perempuan memiliki posisi penting dalam membangun kualitas keluarga sekaligus bangsa. Karena itu, pemberdayaan perempuan perlu berjalan beriringan dengan penguatan peran masyarakat dalam mengawasi, mengkritisi, dan mengoreksi kebijakan publik.

Baca juga:Ketika Keterwakilan Perempuan Dianggap Jalan Keluar


Wakil Rektor Bidang Penjaminan Mutu dan Kemitraan Universitas Paramadina, Prof. Dr. Iin Mayasari, mengatakan webinar tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus memperkuat eksposur dosen perempuan Paramadina serta mendorong kontribusi perempuan dalam agenda Sustainable Development Goals (SDGs).

“Di tengah berbagai tantangan global yang kita hadapi saat ini, mulai dari krisis iklim hingga kesenjangan sosial, perempuan itu hadir bukan lagi sebagai objek melainkan sebagai aktor utama pencipta perubahan atau agents of change,” kata Iin.

Sementara itu, Dr. Devi Wulandari, M.Sc., Ketua Program Studi Magister Psikologi Universitas Paramadina, menyoroti pentingnya peran perempuan dalam membangun keluarga yang sehat.

Baca juga:Peran Penting Perempuan Siapkan Makanan Bergizi Keluarga, Ampuh Turunkan Angka Stunting


Menurut Devi, pemberdayaan perempuan harus didukung oleh lingkungan keluarga dan pasangan agar perempuan dapat menjalankan berbagai perannya secara optimal tanpa mengabaikan kesehatan dirinya sendiri.

“Nah, tentunya di sini perempuan yang berdaya, keluarga yang sehat, dan generasi yang kuat tentunya Indonesia yang merdeka dan tangguh,” ujarnya.

Dari perspektif lingkungan dan hubungan internasional, Dr. Rizki Damayanti, Ketua Program Studi Hubungan Internasional Universitas Paramadina, menyoroti keterlibatan perempuan dalam menghadapi perubahan iklim.

Ia menegaskan perempuan tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai kelompok yang terdampak perubahan iklim, tetapi juga harus diberikan ruang untuk terlibat dalam menentukan solusi.

“Jadi yang namanya woman empowerment atau pemberdayaan perempuan itu jangan ditempatkan sebagai agenda tambahan dalam SDGs, tapi justru ini harus merupakan cross cutting factor karena ini nanti satu proses pemberdayaan perempuan itu akan memperkuat berbagai tujuan pembangunan berkelanjutan,” ungkap Rizki.

Baca juga:Istri Shalihah Itu Senangnya Dandan


Di bidang teknologi, Dosen Program Studi Teknik Informatika Universitas Paramadina, Wahyuningdiah Trisari H.P., M.TI, membahas berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan. Di antaranya stereotip gender, beban ganda, kesenjangan upah, hingga keterbatasan keterwakilan perempuan dalam posisi kepemimpinan.

Ia mendorong penguatan pendidikan STEM atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics bagi perempuan. Selain itu, diperlukan lingkungan kerja yang ramah keluarga, literasi digital, serta kebijakan yang membuka lebih banyak kesempatan bagi perempuan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan.

“Yang pertama adalah kurikulum yang inklusif, beasiswa khusus perempuan di STEM, lalu lingkungan kerja yang family friendly dan support system yang memadai ini menjadi salah satu kebijakan,” ujar Wahyuningdiah.

Baca juga:Dimanakah Istri Idaman Itu?


Sementara itu, Dr. Tatik Yuniarti, M.I.Kom, Dosen Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Paramadina, menekankan pentingnya keterlibatan perempuan dalam perubahan sosial dan aksi lingkungan.

Salah satu contoh yang disorot adalah pengelolaan sampah berbasis komunitas, termasuk praktik bank sampah yang dalam banyak komunitas turut dipelopori perempuan. Menurutnya, komunikasi partisipatif diperlukan untuk membangun kesadaran dan mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“Edukasi dan komunikasi partisipatif dapat dilakukan melalui diskusi interaktif, pertukaran pengalaman antarperempuan, serta pelatihan praktis mengenai pemilahan dan pengelolaan sampah,” tutur Tatik.

Baca juga:Islam Mengatur Batasan Wanita Bekerja di Luar Rumah


Dalam konteks kepemimpinan, Dr. Siti Nurjanah, MM, Dosen Magister Manajemen Universitas Paramadina, menegaskan pentingnya kepemimpinan yang berbasis empati.

“Ketika kita merefleksikan menjadi seorang pemimpin itu juga harus memiliki empati. Kalau sebagai contoh kita sebagai dosen itu juga harus mengasuh dengan humanis, ing ngarso sung tulodo,” ujarnya.

Ia juga mendorong perempuan di lingkungan akademik untuk membangun budaya komunikasi yang santun dan tetap kritis. Perbedaan pandangan, menurutnya, harus disampaikan melalui argumentasi yang kuat tanpa menyerang kehormatan pribadi pihak lain.

Baca juga:Cara Islam dalam Mengatasi Pengangguran: Laki-laki Wajib Bekerja, Wanita Diberikan Nafkah!


“Kita berargumen secara kritis dalam diskusi tanpa menyerang kehormatan pribadi lawan bicara,” tegasnya.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)