Kronologi Lengkap Presiden Haiti Dibunuh Kelompok Bersenjata

datariau.com
1.327 view
Kronologi Lengkap Presiden Haiti Dibunuh Kelompok Bersenjata

DATARIAU.COM - Presiden Haiti Jovenel Moise ditembak hingga tewas oleh kelompok bersenjata.

Kejadian nahas itu berlangsung di kediaman pribadi Moise pada Selasa (6/7/2021) malam.

Dikutip kumparan.com, kabar mengenai terbunuhnya Moise disampaikan plt PM Haiti Claude Joseph. Terkait detail kematian Moise tak diungkap Joseph.

Moise berkuasa di Haiti sejak 2017 lalu.

Semenjak menjadi Presiden di negara Karibia tersebut, Moise berhadapan dengan berbagai krisis politik hingga keamanan.

Pembunuh Presiden Haiti Jovenel Moise Diduga Tentara Bayaran Profesional

Duta Besar Haiti untuk Amerika Serikat, Bocchit Edmond, berpendapat pembunuh Presiden Jovenel Moise adalah tentara bayaran profesional yang menyamar sebagai agen AS. Ia pun memperkirakan para pelaku telah meninggalkan Haiti.

Dikutip kumparan.com, para pembunuh yang muncul di kediaman Moise disebut sebagai agen dari Drug Enforcement Administration (DEA).

Tetapi menurut Edmond, tindakan mereka tidak sesuai dengan pasukan dari agen AS.

"Itu adalah serangan yang diatur dengan baik dan itu adalah para profesional. Kami memiliki video dan kami yakin itu adalah tentara bayaran,? kata Edmond, mengutip AFP.


Presiden Haiti Jovenel Moise ditembak mati oleh orang-orang bersenjata kaliber berat pada Rabu dini hari waktu setempat. Saat itu Moise tengah berada di kediamannya yang berlokasi di perbukitan di atas Port-au-Prince.

Istri Moise yang berusia 53 tahun, Martine Moise, juga tertembak namun berhasil selamat. Edmond mengatakan Martine Moise akan pergi ke Miami untuk perawatan medis.

"Saya dapat memberitahu Anda bahwa pengaturan yang diperlukan telah dibuat sejak pagi ini untuk memindahkannya ke rumah sakit Miami," kata dia.

Sementara itu, Edmond mengatakan penyelidikan terhadap keberadaan, motivasi, dan asal-usul para pembunuh Moise masih dilakukan. Tetapi mereka diketahui berbicara dengan bahasa Spanyol satu sama lain.

Oleh sebab itu, Edmond pun menduga mereka mungkin telah meninggalkan Haiti ke negara tetangga, Republik Dominika, yang berbahasa Spanyol.

"Kami tidak tahu apakah mereka pergi [dari Haiti]. [Tapi] jika mereka tidak berada di negara ini sekarang, hanya ada satu cara bagi mereka untuk pergi dan itu adalah melalui perbatasan, karena tidak ada pesawat,? terang dia.

Edmond menambahkan sebuah pesawat pribadi akan terdeteksi oleh otoritas penerbangan sipil, tetapi pergerakan yang melintasi perbatasan bisa saja tidak terdeteksi.

Haiti Umumkan Keadaan Darurat usai Presiden Jovenel Moise Tewas Ditembak

Haiti mengumumkan keadaan darurat usai Presiden Jovenel Moise tewas ditembak. Keadaan darurat ditetapkan selama dua pekan untuk mengusut dan menindaklanjuti pelaku yang membunuh Moise.

Namun, Perdana Menteri yang menjabat sementara, Claude Joseph, meminta semua pihak untuk tak panik. Hal ini ia katakan setelah memimpin rapat kabinet dalam rangka menjawab kebingungan masyarakat, tentang siapa yang akan mengambil alih kendali negara.

"Rekan-rekan, tetap tenang karena situasi terkendali," kata dia, dilansir kumparan.com mengutip Reuters.


Sebelumnya, Moise ditembak mati oleh orang-orang bersenjata kaliber berat pada Rabu dini hari waktu setempat. Saat itu Moise tengah berada di kediamannya yang berlokasi di perbukitan di atas Port-au-Prince.

Istri Moise yang berusia 53 tahun, Martine Moise, juga tertembak. Ia kini tengah dirawat.

Pembunuh Moise kini masih diburu. Tetapi Joseph mengungkap ada informasi awal yang menunjukkan kalau penyerang Presiden Haiti itu berbicara Spanyol dan Inggris. Ia mengutuk pembunuhan itu sebagai tindakan barbar.

"Informasi awal menunjukkan [penyerang] itu adalah sekelompok orang yang berbicara bahasa Inggris dan Spanyol. Mereka dipersenjatai dengan senjata kaliber tinggi," kata Joseph.

Sementara dalam video yang beredar di media sosial (belum dapat diverifikasi oleh Reuters), orang-orang bersenjata itu mengaku sebagai anggota Drug Enforcement Administration (DEA) AS saat mereka memasuki kediaman Moise yang dijaga ketat. Tetapi hal ini belum ditanggapi oleh juru bicara DEA.

Joseph mengatakan polisi dan tentara Haiti telah mengendalikan situasi keamanan. Jalan-jalan di ibu kota yang berpenduduk 1 juta orang itu biasanya ramai, tetapi sepi dan kosong pada Rabu pagi setelah serangan dan tembakan.

Bandara internasional Port-au-Prince pun ditutup. Namun direktur bandara belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar.

Selain itu, Republik Dominika telah menutup perbatasannya dengan Haiti di pulau Karibia Hispaniola kecuali untuk warga negara yang pulang, dan meningkatkan keamanan.

"Kejahatan ini merupakan serangan terhadap tatanan demokrasi Haiti dan sekitarnya," kata Presiden Republik Dominika Luis Abinader.

Penembakan Moise memicu kecaman internasional termasuk dari Washington dan tetangga negara-negara Amerika Latin. Banyak pihak yang khawatir kekacauan akan terjadi di negara Karibia yang miskin itu, terlebih seiring adanya rentetan kekerasan geng di Port-au-Prince.

Kekerasan telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir didorong oleh krisis kemanusiaan, lalu berkembang dan menimbulkan kerusuhan politik. Hal ini pun telah mengubah banyak distrik di ibu kota menjadi zona terlarang.

Para pemimpin di seluruh dunia mengutuk pembunuhan itu dan meminta kedamaian.

"Kami siap membantu saat kami terus bekerja untuk Haiti yang aman dan terkendali," kata Presiden AS Joe Biden.

Di sisi lain, Joseph meminta PBB untuk mengadakan pertemuan Dewan Keamanan sesegera mungkin. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres tidak segera menjawab permohonannya itu, tetapi mengatakan PBB akan terus mendukung pemerintah dan rakyat Haiti.

Sementara, diplomat di New York mengatakan dewan yang beranggotakan 15 orang itu akan bertemu dalam beberapa hari mendatang untuk membahas pembunuhan itu.

Tidak jelas siapa yang akan menggantikan Moise sebagai presiden. Dia bahkan belum lama menunjuk perdana menteri baru minggu ini yang belum dilantik.

Adapun Ketua Mahkamah Agung memiliki peran penting di konstitusi Haiti meninggal bulan lalu akibat COVID-19 dan belum diganti.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)