Kapolri Laporan Kinerja Panen Jagung Jutaan Ton, Publik Soroti Aksi Kejahatan Masih Marak

datariau.com
106 view
Kapolri Laporan Kinerja Panen Jagung Jutaan Ton, Publik Soroti Aksi Kejahatan Masih Marak
Ilustrasi. (Foto: OpenAI)

DATARIAU.COM - Program ketahanan pangan yang digagas Listyo Sigit Prabowo melalui penanaman jagung nasional kembali menjadi perhatian publik. Di satu sisi, Polri menuai apresiasi karena berhasil mendorong produksi jagung hingga jutaan ton dan menembus pasar ekspor ke Malaysia. Namun di sisi lain, muncul kritik dari masyarakat yang menilai fokus aparat kepolisian pada program pertanian membuat penanganan kejahatan dinilai kurang maksimal.

Kapolri menyebut program penanaman jagung yang dijalankan Polri bersama masyarakat berhasil meningkatkan produktivitas pertanian secara signifikan. Dalam panen raya jagung kuartal II tahun 2026, potensi hasil panen nasional disebut mencapai sekitar 1,2 juta ton. Sebanyak 100 ton hasil panen dari Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, bahkan telah dilepas untuk ekspor ke Malaysia melalui perbatasan Jagoi Babang.

Dalam laporan resmi Divisi Humas Polri, ekspor jagung tersebut berasal dari program ketahanan pangan yang melibatkan jajaran kepolisian, pemerintah daerah, TNI, hingga kelompok tani. Kapolri menyatakan program itu merupakan bentuk kontribusi Polri terhadap target swasembada pangan nasional.

Sebelumnya Polri telah mengekspor sekitar 1.200 ton jagung ke Sarawak, Malaysia. Ekspor itu menjadi bagian dari panen raya jagung nasional yang dipimpin Presiden RI di Kalimantan Barat pada 2025 lalu.

Data yang dipaparkan Polri menunjukkan luas lahan jagung binaan mencapai ratusan ribu hektare. Pada 2025, realisasi penanaman disebut mencapai 661.112 hektare dengan total produksi sekitar 3,9 juta ton jagung.

Kapolri juga mengklaim produktivitas lahan meningkat drastis setelah pengelolaan modern diterapkan. Di Bengkayang misalnya, hasil panen disebut naik dari sekitar 2 ton per hektare menjadi 9,3 ton per hektare setelah penggunaan bibit unggul dan pupuk presisi.

Namun di tengah keberhasilan tersebut, kritik terhadap Polri juga bermunculan di media sosial dan ruang publik. Sejumlah warganet mempertanyakan prioritas institusi kepolisian yang dinilai terlalu jauh masuk ke sektor pertanian, sementara angka kriminalitas jalanan seperti begal, pencurian, dan aksi kekerasan masih dikeluhkan masyarakat di berbagai daerah.

Narasi “polisi lebih sibuk tanam jagung daripada memberantas kejahatan” ramai diperbincangkan publik beberapa waktu terakhir. Kritik itu muncul seiring viralnya berbagai kasus kriminal di sejumlah kota besar yang memicu keresahan masyarakat.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)