Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Tekankan Pentingnya Pendidikan Pancasila Bagi Generasi Muda

Yessi Novriani
63 view
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Tekankan Pentingnya Pendidikan Pancasila Bagi Generasi Muda
Foto: Tribunnews.com
Bamsoet saat menghadiri Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta, Jumat (1/10/21).

DATARIAU.COM - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo kembali menekankan pentingnya memasukan pendidikan Pancasila sebagai mata pelajaran wajib bagi siswa sekolah dasar hingga perguruan tinggi.

Selain dibutuhkan untuk memastikan ideologi bangsa tumbuh subur di hati para peserta didik, juga untuk mengakomodir keinginan anak-anak muda yang ternyata juga menginginkan kehadiran pendidikan Pancasila dalam pendidikan formal.


"Sebagaimana terlihat dari hasil survei Indikator Indonesia yang dilakukan pada 4-10 Maret 2021 kepada 1.200 responden berusia 17-21 tahun. Terungkap bahwa 82,3 persen anak muda menilai perlunya pendidikan Pancasila masuk pelajaran sejak sekolah dasar. Keinginan ini harus direspon aktif oleh pemerintah, khususnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan," tutur Bamsoet usai menghadiri Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta pada Jumat (1/10/21).


Presiden Joko Widodo bertindak sebagai Inspektur Upacara , Pembaca Naskah UUD 1945 oleh Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, Pembaca Teks Pancasila Ketua DPD RI La Nyalla Mattalitti, Pembaca Ikrar olej Ketua DPR RI Puan Maharani serta Pembaca Doa oleh Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas.


Bamsoet menyatakan setiap negara mempunyai sejarah konflik dalam dinamika kehidupan kebangsaannya, termasuk Indonesia. Bangsa Indonesia harus mensyukuri memiliki Pancasila yang berperan sebagai bagian penting dari resolusi konflik, menyatukan seluruh elemen bangsa pada sebuah visi kebangsaan.


Pancasila hadir sebagai dasar negara, falsafah, dan pandangan hidup bangsa.

"Pancasila menekankan bahwa keberagaman yang kita miliki adalah fitrah kebangsaan yang tidak dapat diingkari dan pungkiri. Sejak kita mendeklarasikan diri sebagai sebuah negara kesatuan, yang hidup dalam kemajemukan budaya, suku, ras, dan agama, sejak saat itulah konsep kebhinekaan telah menyatukan kita dalam satu ikatan kebangsaan," jelas Bamsoet.


Ia juga menekankan, ancaman terhadap nilai-nilai kebhinekaan itu nyata. Sikap intoleransi terhadap keberagaman selalu mewarnai kehidupan kebangsaan. Misalnya pada setiap penyelenggaraan politik atau Pemilu, dimana politik identitas disalahgunakan sebagai alat perjuangan. Sehingga, menimbulkan polarisasi masyarakat, baik sebelum, selama, bahkan sesudah pemilu dilaksanakan.


"Karenanya kita perlu membekali generasi muda dengan semangat nilai Pancasila, sejak mereka menempuh pendidikan di sekolah dasar. Sehingga sekolah juga menjadi institusi yang tidak hanya melahirkan anak bangsa yang memiliki kecerdasan intelektual saja, tetapi juga memiliki kecerdasaan kebangsaan. Memiliki hati Indonesia, berjiwa Pancasila," tegas Bamsoet. (*)


Source: Tribunnews.com