Kabid Seni dan Bahasa Mewakili Kadisbud Riau Secara Resmi Membuka Acara Malam Puncak Rarak Cipta Musik DKR 2024

datariau.com
997 view
Kabid Seni dan Bahasa Mewakili Kadisbud Riau Secara Resmi Membuka Acara Malam Puncak Rarak Cipta Musik DKR 2024
Foto: Yusuf
Tampak Kabid Seni dan Bahasa Hj Jahrona mewakili Kadisbud Riau Raja Yoserizal Zen membuka acara Malam Puncak Rarak Cipta Musik 2024di Panggung Otong Lenon Taman Budaya, Sabtu (22/6/2024).

PEKANBARU, datariau.com - Secara resmi, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau Raja Yoserizal Zen diwakili Kabid Seni dan Bahasa Hj Jahrona membuka acara Malam Puncak Rarak Cipta Musik 2024 yang digelar oleh Dewan Kesenian Riau, bertempat di Panggung Otong Lenon Taman Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, Sabtu (22/6/2024).

Kegiatan Pagelaran Rarak Cipta Musik 2024 dihadiri komposer asal negeri Jiran Malaysia Ruslan Madun, perwakilan Lembaga Adat Melayu Riau Datuk Tarlaili, Ketua Umum Dewan Kesenian Riau Taufik Hidayat, Kabid Bahasa dan Kesenian Dinas Kebudayaan Riau, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak Dr Fauzi serta puluhan undangan serta seniman.

Kabid Seni dan Bahasa Hj Jahrona saat memberikan kata sambutan mengatakan, bahwa Dinas Kebudayaan Provinsi Riau mendukung penuh apa yang dilakukan oleh lembaga seni maupun seniman dalam mengangkat kesenian dan budaya yang ada di Provinsi Riau.

"Dinas Kebudayaan Provinsi Riau selalu berbuka diri, yang penting ada komunikasi yang terjalin dengan baik. Sejauh ini Dinas Kebudayaan Provinsi Riau yang memiliki beberapa fasilitas untuk penampilan yang bisa digunakan oleh semua lapisan masyarakat," kata Hj Jahrona.



Adapun 5 komposer terpilih yaitu Sutra Harmiko (Limuno) Kuantan Singingi, Rakis Fadli (Buloh Mudo) Pekanbaru, Junaidi (Tengkah Zapin) Pekanbaru, Febri Hengki (Sendayung) Kampar, M Sukron (Rumah Seni Balai Proco) Rokan Hulu.

Bertindak sebagai dewan juri Rino Dezapaty (Pimpinan Riau Rytem Chambers), Epi Martison (Akademisi Lulusan IKJ), dan Anggara Satria (komposer, praktisi dan akademisi seni).

Setelah melihat dan menilai penampilan 5 komposer di atas Panggung Otong Lenon Taman Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, para dewan juri memutuskan Buluh Mudo dari Pekanbaru menjadi komposer terbaik, menyusul Tangkah Zapin dari Pekanbaru dan Limuno dari Kuantan Sengingi.

"Sedangkan Sendayung dari Kampar dan Balai Proco dari Rokan Hulu menjadi komposer non rangking," terang Rino Dezapaty mewakili 3 dewan juri di ajang Rarak Cipta Musik Dewan Kesenian Riau 2024.



Menurutnya, para pemenang di ajang Rarak Cipta Musik 2024 ini mempersiapkan tema untuk komposisi musik dengan baik melalui proses riset dan proses latihan. Kemudian mentransformasi pikiran komponis kepada musisinya dengan baik.

Ketua Umum DKR Taufik Hidayat mengatakan, bahwa Rarak Cipta Musik yang menjadi handalan program DKR sejak tahun 2002, pada saat ini sudah banyak melahirkan komposer dan musisi baru di Riau.

Rarak Cipta Musik ini, jelas seniman multi talenta Riau yang biasa disapa Atan Lasak itu, secara harfiah berarti mengarak. Jadi Dewan Kesenian Riau mengarak dan menjaga musik tradisi agar tetap eksis dan tegak berdiri agar tidak tergilas oleh musik musik yang berbasis teknologi.

"Tahun sebelumnya bertemakan Nandung. Tahun 2024 ini mengambil tema Ritus atau ritual," terangnya.

Pada zaman serba teknologi ini, tambahnya, keberadaannya semakin sangat diperlukan. Sebab, dengan kemajuan teknologi secara instan siapa saja bisa menciptakan lagu meskipun yang bersangkutan sama sekali tidak tahu tentang musik.

"Dengan mengunakan aplikasi AI, lagu dalam hitungan menit bisa terciptakan, bahkan jika tidak punya lirik AI juga bisa menyediakan lirik. Namun lagu yang lahir dari kemajuan teknologi ini tidak punya nilai, tidak dapat rasanya (feel-nya) karena tergantung algoritma mereka. Aplikasi ini bisa menjadi mesin “pembunuh” bagi musisi dan bisa saja mempengaruhi seniman atau musisi tradisi," terangnya.

Kemajuan teknologi ini, jelas Taufik, tak bisa ditolak dan jangan dijadikan musuh namun harus dijadikan teman untuk memancing gairah berkesenian. Sebab, algoritma aplikasi AI tidak ada kearifan lokal dan ini hanya bisa ditemukan dalam Rarak Cipta Musik.

Menurut Taufik, bahwa Rarak Cipta Musik adalah salah satu penangkal terbunuhnya musisi tradisi. Bahkan, Taufik yakin betul, dengan adanya kemajuan teknologi ini musisi tradisi semakin punya tempat untuk berkembang. Apalagi bunyi dengan kearifan lokal lahir dari budaya yang peka terhadap lingkungan.

“Berbicara soal seni budaya, terutama musik, kita juga bicara soal lingkungan dengan kearifan lokal. Tinggal bagaimana kita mengemasnya dari tradisi menjadi industri. Lewat Rarak Cipta Musik ini DKR berupaya mengemas sesuatu tradisi menjadi industri,” pungkas Taufik. (yus)

Penulis
: Yusuf
Editor
: Riki
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)