KUOK, datariau.com - Sejak matahari mulai menghangatkan pagi di Pulau Belimbing, Kecamatan Kuok, suara cangkul, palu, dan percakapan akrab terdengar bersahutan di sebuah lahan yang perlahan menjelma menjadi rumah besar bagi Adat Persukuan Melayu. Di tempat itu, tidak hanya batu, semen, dan besi yang disusun, tetapi juga harapan, kebersamaan, dan semangat gotong royong yang diwariskan turun-temurun.
Balai Adat Persukuan Melayu Dt. Majolelo Pulau Belimbing kini memasuki babak baru pembangunannya. Setelah proses pengecoran lantai dua berhasil diselesaikan, pekerjaan dilanjutkan dengan pembuatan tiang penyangga, pembangunan gudang, hingga nantinya memasuki tahap pengerjaan rangka dan pemasangan atap.
Bagi masyarakat setempat, setiap tahapan pembangunan bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan simbol kuatnya persatuan anak kemanakan dalam menjaga identitas budaya Melayu.
Baca juga:Bustami Datuok Maharajo Lelo Mangkat, Ninik Mamak Nan 20 Langsung Tunjuk Tongkat Bodi
Di sela-sela kegiatan gotong royong pada Jumat pagi (2/7/2026), Kepala Persukuan Melayu Dt. Majolelo Pulau Belimbing Kuok, Damanhuri Dt. Majolelo, mengungkapkan rasa syukur atas perkembangan pembangunan yang terus berjalan sesuai harapan.
"Alhamdulillah, setelah pengecoran lantai dua selesai, pembangunan langsung kita lanjutkan dengan pekerjaan tiang dan fasilitas pendukung lainnya. Tahap berikutnya akan kita kerjakan rangka bangunan hingga pemasangan atap. Kami akan terus menggesa pembangunan ini agar dapat segera dimanfaatkan oleh seluruh anak kemanakan," ujarnya.
Menurut Damanhuri, Balai Adat yang tengah dibangun merupakan cita-cita lama masyarakat Persukuan Melayu Dt. Majolelo. Bangunan tersebut nantinya akan menjadi pusat pelestarian adat dan budaya Melayu, tempat bermusyawarah, sekaligus ruang mempererat silaturahmi antargenerasi.
Baca juga:Ini Data Desa dan Koperasi di Kampar yang Mendapat Penghargaan Saat Peluncuran KMP
Di lokasi pembangunan, semangat gotong royong masih terasa begitu hidup. Para tokoh adat, perangkat persukuan, masyarakat, hingga anak kemanakan bahu-membahu menyumbangkan tenaga, pikiran, bahkan material bangunan. Tidak sedikit pula para perantau yang ikut berkontribusi melalui bantuan dana demi mempercepat penyelesaian Balai Adat.
Bagi Damanhuri, kekuatan terbesar pembangunan ini bukan semata pada besarnya anggaran, tetapi pada keikhlasan masyarakat yang rela meluangkan waktu dan rezekinya demi kepentingan bersama.
"Alhamdulillah, pembangunan ini terus berjalan berkat semangat gotong royong. Kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada seluruh donatur, perangkat persukuan, tokoh masyarakat, serta anak kemanakan yang terus memberikan perhatian, tenaga, pikiran maupun bantuan material demi kelancaran pembangunan Balai Adat ini," katanya.
Baca juga:Desa Pulau Gadang Kampar Jadi Titik Utama Launching Koperasi Merah Putih di Riau
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Desa, masyarakat sekitar, serta berbagai persukuan lain yang memberikan dukungan, baik secara moril maupun materiil. Menurutnya, perhatian dari berbagai pihak menjadi energi besar agar pembangunan tidak terhenti di tengah jalan.
Lebih dari sekadar bangunan, Balai Adat ini dipandang sebagai rumah bersama yang akan menjaga denyut kehidupan adat di masa mendatang. Di tempat inilah nantinya berbagai musyawarah adat, pembinaan generasi muda, pelestarian seni dan budaya, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan akan dipusatkan.
Damanhuri menegaskan bahwa Balai Adat bukan hanya milik Persukuan Melayu Dt. Majolelo, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama dalam merawat nilai-nilai adat agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
"Kami sangat bangga dan bersyukur atas perhatian yang diberikan oleh berbagai pihak. Dukungan dari pemerintah desa, para tokoh adat, masyarakat, dan persukuan lainnya menjadi penyemangat bagi kami untuk terus menyelesaikan pembangunan Balai Adat ini," tuturnya.
Rasa syukur masyarakat semakin bertambah setelah adanya hibah lahan yang membuat kawasan Balai Adat memiliki area lebih luas dan representatif. Tambahan lahan tersebut diyakini akan memberikan ruang yang lebih memadai untuk berbagai kegiatan adat maupun aktivitas kemasyarakatan di masa depan.
"Atas nama seluruh anak kemanakan, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah menghibahkan lahannya. Semoga Allah SWT membalas segala kebaikan dan kemurahan hati tersebut dengan pahala yang berlipat ganda. Dengan bertambahnya luas lahan, Balai Adat ini nantinya akan lebih nyaman dan mampu menampung berbagai kegiatan adat maupun kemasyarakatan," ucap Damanhuri.