DEPOK, datariau.com - Suara mesin motor yang meraung di dalam bengkel kini menjadi bagian dari keseharian Agus Rifai. Tangan yang dulu lebih akrab dengan kitab-kitab pesantren, kini lihai membongkar dan merakit mesin kendaraan. Di balik kesibukannya mengelola dua bengkel motor yang ia miliki, tersimpan kisah perjuangan panjang tentang keberanian memulai dari nol, ketekunan belajar, dan keyakinan bahwa keterampilan bisa mengubah masa depan.
Agus tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan menjadi pemilik dua bengkel motor yang melayani puluhan pelanggan setiap hari. Bengkel bernamaPitulas Motoryang kini berdiri di Harjamukti, Cimanggis, Depok, dan Wanaherang, Cikeas, Bogor, lahir dari perjalanan hidup yang penuh proses dan kesabaran.
"Alhamdulillah sekarang sudah membuka dua bengkel motor," ujar Agus dengan nada syukur saat mengenang perjalanan yang telah dilaluinya.
Namun kesuksesan itu tidak datang secara instan.
Baca juga:Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Audy Dental, Pelatihan Menjahit-Barber Cetak Wirausahawan Baru
Berawal dari Kegelisahan Seorang Santri
Selepas menyelesaikan pendidikan di pesantren, Agus menghadapi pertanyaan yang juga dirasakan banyak anak muda: keterampilan apa yang bisa menjadi bekal hidup?
Ia sadar bahwa semangat saja tidak cukup. Dunia kerja membutuhkan kemampuan yang bisa diandalkan. Di tengah kegelisahan mencari arah masa depan, Agus mendengar informasi tentang program pelatihan servis motor yang diselenggarakan oleh Institut Kemandirian Dompet Dhuafa.
Saat itu, dunia otomotif sama sekali asing baginya.
Ia tidak berasal dari keluarga mekanik. Ia juga tidak memiliki pengalaman memperbaiki kendaraan. Bahkan mengenali komponen dasar motor pun belum bisa.
Meski demikian, Agus memutuskan mengambil kesempatan tersebut.
"Waktu itu saya berpikir harus punya skill yang bisa dikuasai. Akhirnya saya memilih ikut pelatihan otomotif di Institut Kemandirian," kenangnya.
Keputusan itu menjadi titik balik hidupnya.
Baca juga:Sekolah Gratis SMART Ekselensia Wisuda 21 Lulusan Angkatan Ke-17, 6 Siswa Tembus PTN Bergengsi
Belajar dari Nol dan Berkali-kali Gagal
Hari-hari pertama mengikuti pelatihan bukanlah masa yang mudah.
Saat peserta lain mulai memahami teori mesin, Agus harus bekerja lebih keras mengejar ketertinggalan. Buku-buku materi terasa rumit. Istilah teknis terdengar asing. Ketika memasuki sesi praktik, kebingungan kerap datang menghampiri.
"Karena saya tidak punya basic otomotif sama sekali, awalnya cukup kesulitan. Teori terasa sulit dipahami, lalu ketika praktik juga masih sering bingung," ujarnya.
Namun Agus memilih bertahan.
Ia menyadari bahwa keterampilan tidak lahir dalam semalam. Setiap kesalahan menjadi pelajaran. Setiap kegagalan menjadi pengalaman baru. Sedikit demi sedikit ia mulai memahami cara kerja mesin, mengenali kerusakan, hingga melakukan perbaikan secara mandiri.
Semangat belajar itulah yang kemudian membentuk fondasi kariernya.
Di balik suara obeng dan kunci pas yang beradu dengan besi, Agus sedang membangun masa depannya sendiri.
Baca juga:Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan Barber Gratis, Siapkan Generasi Muda Mandiri
Lima Tahun Menimba Pengalaman
Lulus dari pelatihan pada 2012 bukan berarti perjalanan Agus selesai.
Justru saat itulah tantangan sesungguhnya dimulai.
Alih-alih langsung membuka usaha, Agus memilih bekerja di bengkel milik orang lain. Keputusan itu diambil karena ia memahami bahwa ilmu teknis saja belum cukup untuk menjadi pengusaha.
Selama kurang lebih lima tahun, ia menghabiskan waktunya di lapangan. Setiap hari ia melayani pelanggan, menangani berbagai jenis kerusakan motor, dan belajar memahami kebutuhan konsumen.
Di tempat itulah Agus mendapatkan pelajaran yang tidak selalu diajarkan di ruang pelatihan.
Ia belajar bagaimana membangun kepercayaan pelanggan. Ia memahami pentingnya kejujuran dalam usaha jasa. Ia juga melihat secara langsung bagaimana sebuah bengkel dikelola, mulai dari pengadaan suku cadang hingga pengelolaan keuangan.
"Setelah pelatihan saya kerja dulu di bengkel orang lain. Dari situ saya belajar banyak tentang pekerjaan di lapangan, pelayanan pelanggan, sampai bagaimana mengelola bengkel," tuturnya.
Selain pengalaman, ia juga perlahan mengumpulkan modal.
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Tahun demi tahun.
Hingga akhirnya keyakinan untuk mandiri semakin kuat.
Baca juga:Dompet Dhuafa Tebar Ribuan Paket Berbuka Puasa Dari Pelanggan Indihome ke Seluruh Wilayah Indonesia
Mimpi yang Menjadi Nyata
November 2017 menjadi momen yang tidak akan pernah dilupakan Agus.
Setelah bertahun-tahun belajar dan bekerja, ia memberanikan diri membuka bengkel pertamanya.
Keputusan itu penuh risiko. Tidak ada jaminan pelanggan akan datang. Tidak ada kepastian usaha akan berkembang. Namun Agus percaya bahwa ilmu, pengalaman, dan kerja keras yang telah ia kumpulkan selama bertahun-tahun tidak akan mengkhianati hasil.
Kepercayaan pelanggan mulai tumbuh.
Dari satu pelanggan menjadi dua.
Dari dua menjadi puluhan.
Usahanya berkembang dari waktu ke waktu hingga akhirnya mampu membuka cabang kedua.
Kini nama Pitulas Motor dikenal di dua lokasi berbeda dan menjadi sumber penghidupan bagi dirinya serta orang-orang yang bekerja bersamanya.
"Dari pelatihan itu saya jadi bisa memperbaiki motor orang. Dari situ juga akhirnya jadi jalan usaha dan penghasilan saya," katanya.
Baca juga:Wujudkan Hunian Madani, Castavia Royale Aqsha Bekerjasama dengan Dompet Dhuafa, Rumah Zakat dan Yayasan Tabung Wakaf Umat
Bukan Hanya Skill, Tetapi Karakter
Bagi Agus, hal paling berharga yang ia peroleh dari Institut Kemandirian bukan sekadar kemampuan memperbaiki motor.
Ada nilai lain yang justru menjadi bekal penting dalam perjalanan hidupnya: disiplin dan pembentukan karakter.
Menurutnya, pelatihan yang ia ikuti tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kedisiplinan dan penguatan spiritual.
"Kita bukan cuma belajar skill, tapi juga belajar disiplin dan memperbaiki ibadah," ujarnya.
Nilai-nilai tersebut menjadi pegangan ketika menghadapi berbagai tantangan usaha. Saat pelanggan sepi, ketika modal terbatas, atau ketika menghadapi masalah operasional, karakter yang kuat membantu dirinya tetap bertahan.
Karena dalam dunia usaha, keterampilan dapat membuka pintu, tetapi karakterlah yang membuat seseorang mampu bertahan di dalamnya.