DATARIAU.COM - Pagi hari di Kampung Babakan Cikadu, Desa Cilolohan, Kecamatan Tanjungjaya, Kabupaten Tasikmalaya, selalu dimulai dengan kesibukan. Para petani berangkat ke ladang, pedagang membawa dagangannya ke pasar, sementara anak-anak berseragam sekolah berjalan menuju tempat belajar mereka.
Namun, bertahun-tahun lamanya, aktivitas sederhana itu menyimpan tantangan besar. Untuk mencapai kampung di seberang, warga harus menaklukkan aliran sungai yang memisahkan dua wilayah. Tidak ada jembatan permanen. Yang tersedia hanyalah rakit bambu sederhana yang menjadi satu-satunya harapan untuk menyeberang.
Saat musim hujan datang dan debit air meningkat, rasa cemas menjadi bagian dari keseharian warga. Setiap penyeberangan menghadirkan kekhawatiran, terutama bagi anak-anak sekolah dan para petani yang membawa hasil panen.
"Kalau dulu mau menyeberang harus turun ke sungai lalu menggunakan rakit bambu. Rasanya khawatir karena arus cukup deras. Sekarang aktivitas jadi jauh lebih mudah. Yang bekerja, berjualan, maupun anak-anak yang sekolah semuanya terbantu. Terima kasih BSI Maslahat," tutur Cucu, warga Desa Cilolohan, dengan wajah penuh syukur.
Baca juga:Kisah Al-Qur'an yang Tetap Utuh di Tengah Kebakaran Kemayoran
Kini, kecemasan itu perlahan menjadi kenangan. Pada Jumat, 20 Juni 2026, sebuah jembatan baru resmi berdiri membentang di atas sungai yang selama ini menjadi penghalang mobilitas warga. Melalui dukungan dana sebesar Rp250 juta dari BSI Maslahat dan kerja sama dengan Perhutani, lahirlah Jembatan Maslahat Tonjong Cilolohan, sebuah infrastruktur yang bukan hanya menghubungkan dua wilayah, tetapi juga menyambungkan harapan ribuan masyarakat.
Jembatan sepanjang sekitar 65 meter dengan lebar 1,2 meter tersebut menghubungkan Kampung Babakan Cikadu di Desa Cilolohan, Kecamatan Tanjungjaya dengan Kampung Sinargalih, Desa Sukamenak, Kecamatan Sukarame, Kabupaten Tasikmalaya.
Bagi banyak orang, sebuah jembatan mungkin hanya sekadar bangunan fisik. Namun bagi warga setempat, jembatan ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Sebelum jembatan dibangun, warga yang ingin menuju pusat aktivitas ekonomi harus menempuh perjalanan memutar melalui jalur Sukaraja. Waktu perjalanan yang biasanya mencapai sekitar 120 menit membuat aktivitas masyarakat menjadi tidak efisien dan menguras biaya.
Baca juga:Kisah Bu Paini: Penyandang Disabilitas Bangun Usaha, Kini Omzet Tembus Rp30 Juta
Kini, dengan adanya Jembatan Maslahat Tonjong Cilolohan, waktu tempuh dapat dipangkas menjadi sekitar 45 menit saja.
Perubahan itu sangat terasa bagi para petani dan peternak yang menjadi mayoritas penduduk di wilayah tersebut. Hasil panen yang sebelumnya sulit diangkut kini dapat dibawa dengan lebih cepat dan aman. Biaya transportasi menjadi lebih ringan, sementara akses menuju pasar dan pusat ekonomi semakin terbuka.
Tak hanya itu, anak-anak sekolah yang dulu harus menghadapi risiko saat menyeberang sungai kini dapat melintas dengan lebih nyaman. Orang tua pun tidak lagi dihantui kekhawatiran setiap kali melepas putra-putri mereka berangkat belajar.
Manfaat jembatan ini diperkirakan dirasakan oleh sekitar 5.000 jiwa. Selain dapat digunakan pejalan kaki, jembatan juga dapat dilalui kendaraan bermotor sehingga memperkuat konektivitas antarwilayah yang selama ini terhambat oleh kondisi geografis.
Baca juga:Dari Santri Menjadi Pemilik Dua Bengkel: Jalan Panjang Agus Rifai Menjemput Kemandirian
Perhutani KPH Tasikmalaya menyampaikan bahwa pembangunan Jembatan Maslahat merupakan bagian dari upaya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar kawasan hutan. Kehadiran infrastruktur tersebut diharapkan mampu meningkatkan aksesibilitas sekaligus mendorong kesejahteraan warga melalui konektivitas yang lebih baik.