JAKARTA, datariau.com - Ruangan itu dipenuhi suasana hangat. Tidak ada sekat antara seorang guru besar dan seorang pelajar. Yang hadir hanyalah dua anak yatim dari generasi berbeda yang dipertemukan oleh perjalanan hidup, luka yang serupa, dan mimpi yang sama: membuktikan bahwa keterbatasan bukan akhir dari segalanya.
Senin (6/7/2026), melalui proses tapping video program BesTeam (Bestie-an Sama Yatim) yang digagas Dompet Dhuafa, Prof. Zulys, Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia, duduk berbincang dengan Arwan, siswa SMART Ekselensia Indonesia sekaligus penerima manfaat beasiswa Dompet Dhuafa.
Pertemuan itu bukan sekadar sesi wawancara. Lebih dari itu, menjadi ruang berbagi harapan, tempat seorang profesor membuka lembaran hidupnya yang penuh perjuangan kepada seorang remaja yang tengah menata masa depan.
Di hadapan Arwan, Prof. Zulys mengisahkan masa kecil yang tidak mudah. Ia tumbuh tanpa sosok ayah. Kehilangan tersebut menjadi ujian pertama dalam hidupnya. Namun, alih-alih tenggelam dalam kesedihan, ia memilih menjadikannya sebagai sumber kekuatan.
"Kalau Allah mentakdirkan saya tumbuh tanpa ayah, berarti Allah tahu saya mampu menjalaninya. Pasti ada rencana besar di balik setiap ujian," tutur Prof. Zulys.
Baca juga:Kampus Bisnis Umar Usman Tetapkan 27 Penerima Beasiswa STARPRENEURS 2026, Siapkan Generasi Entrepreneur Muslim Berkarakter
Kalimat sederhana itu menjadi refleksi bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Bagi Prof. Zulys, kehilangan bukanlah alasan untuk berhenti melangkah, melainkan awal dari perjalanan panjang menuju pencapaian yang bahkan tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Berani Bermimpi Meski Terlihat Mustahil
Perjalanan akademik Prof. Zulys juga tidak berlangsung mulus. Saat menjadi mahasiswa, ia merupakan salah satu penerima manfaat program pendidikan Dompet Dhuafa.
Dalam sebuah pelatihan yang pernah diikutinya bertahun-tahun silam, ia diminta menyampaikan cita-citanya setelah lulus sarjana. Dengan penuh keyakinan, ia mengatakan sesuatu yang saat itu terdengar seperti mimpi besar. "Sepuluh tahun yang akan datang saya akan lulus doktor dari Jerman."
Ucapan tersebut akhirnya menjadi kenyataan. Melalui kerja keras, ketekunan, dan semangat belajar yang tak pernah padam, ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktor di Jerman. Kini, ia mengabdikan dirinya sebagai Guru Besar FMIPA Universitas Indonesia, sekaligus terus aktif mengembangkan ilmu pengetahuan.
Baca juga:Dari Santri Menjadi Pemilik Dua Bengkel: Jalan Panjang Agus Rifai Menjemput Kemandirian
Menariknya, bidang kimia yang kini menjadi bagian penting dalam kariernya justru bukanlah disiplin ilmu yang sejak awal ia sukai. Namun, kecintaan terhadap proses belajar membuatnya terus bertahan hingga akhirnya menemukan makna dalam setiap perjalanan.
Ilmu Pengetahuan dan Dakwah Berjalan Bersama
Di tengah kesibukannya sebagai akademisi, Prof. Zulys tetap konsisten berdakwah melalui jalur keilmuan. Baginya, sains dan agama tidak pernah saling bertentangan. Justru keduanya saling melengkapi dalam membentuk manusia yang beriman, berilmu, sekaligus mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Prinsip itu pula yang ingin ia wariskan kepada generasi muda, khususnya anak-anak yatim yang sedang berjuang meraih pendidikan.
Ketika Kisah Hidup Menemukan Cerminnya
Bagi Arwan, kisah Prof. Zulys terasa begitu dekat. Siswa SMART Ekselensia Indonesia tersebut juga kehilangan ayah pada tahun pertamanya menjalani pendidikan di sekolah berasrama. Masa yang seharusnya dipenuhi semangat beradaptasi berubah menjadi ujian besar yang harus ia hadapi seorang diri.
Baca juga:Kolaborasi Dompet Dhuafa dan Audy Dental, Pelatihan Menjahit-Barber Cetak Wirausahawan Baru
Namun pertemuan dengan Prof. Zulys memberinya perspektif baru. Di hadapannya kini berdiri seorang profesor yang pernah berada di posisi yang sama. Seorang anak yatim yang berhasil menembus pendidikan tinggi hingga tingkat internasional. Pertemuan itu menjadi bukti nyata bahwa latar belakang bukanlah penentu masa depan.
Menjadi Intan Karena Tekanan
Salah satu momen paling membekas dalam pertemuan tersebut adalah ketika Prof. Zulys menyampaikan analogi sederhana tentang arang dan intan. Keduanya, kata dia, berasal dari unsur yang sama, yakni karbon murni. Yang membedakan hanyalah proses yang dilalui.
"Arang mudah ditemukan, bermanfaat, dan memiliki nilai tersendiri. Namun karbon yang berada jauh di dalam perut bumi, menghadapi suhu dan tekanan yang sangat tinggi selama jutaan tahun, akan berubah menjadi intan yang sangat kuat dan bernilai tinggi," jelasnya.
Analogi itu bukan sekadar pelajaran kimia. Di baliknya tersimpan pesan kehidupan yang begitu dalam. Bahwa setiap tekanan, kesulitan, dan ujian dapat membentuk manusia menjadi pribadi yang jauh lebih kuat apabila dijalani dengan kesabaran, ikhtiar, dan keimanan.
Baca juga:Sekolah Gratis SMART Ekselensia Wisuda 21 Lulusan Angkatan Ke-17, 6 Siswa Tembus PTN Bergengsi
Pesan tersebut seolah menjadi jawaban atas kegelisahan banyak anak yatim yang kerap merasa kehilangan arah setelah ditinggal orang tua.
Ruang Bertumbuh bagi Anak-anak Yatim
Program BesTeam yang diinisiasi Dompet Dhuafa memang dirancang untuk menghadirkan ruang perjumpaan seperti ini.
Melalui dialog antara tokoh inspiratif dan anak-anak yatim binaan, Dompet Dhuafa berharap lahir semangat baru bagi generasi muda untuk terus belajar, memperluas wawasan, berani bermimpi, dan percaya bahwa setiap keterbatasan dapat diubah menjadi kekuatan.
Kisah Prof. Zulys menjadi bukti bahwa perjalanan hidup tidak selalu ditentukan oleh apa yang dimiliki sejak lahir, melainkan oleh keberanian untuk terus melangkah di tengah berbagai keterbatasan.
Bagi Arwan, pertemuan itu mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, pesan yang dibawanya akan bertahan jauh lebih lama. Bahwa seorang anak yatim tidak harus kalah oleh keadaan. Bahwa mimpi setinggi apa pun layak diperjuangkan.
Baca juga:Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan Barber Gratis, Siapkan Generasi Muda Mandiri
Dan bahwa setiap tekanan hidup, seperti karbon yang bertahan di perut bumi, suatu saat dapat mengubah seseorang menjadi "intan" yang memancarkan manfaat bagi banyak orang.***