Pemkab Siak Kembangkan Teknologi Aero Hydro Culture Pertama di Indonesia

Hermansyah
559 view
Pemkab Siak Kembangkan Teknologi Aero Hydro Culture Pertama di Indonesia
Asisten II Sekda Kabupaten Siak Hendrisan saat tinjau lokasi.

SIAK, datariau.com - Meningkatkan hasil dari perkebunan kelapa sawit dilahan gambut dan menjaga ekosistem gambut. Bekerjasama dengan BRG, Pemkab Siak lakukan kajian Hydrologi gambut.

Selanjutnya, melakukan pengembangan Teknologi Aero Hydro Culture, dari hasil penemuan Prof Ozaki asal Negeri Sakura (Jepang) itu.

Hal itu dikatakan Asisten II Setda Kabupaten Siak Hendrisan, saat membuka kegiatan pelatihan Pembuatan Kompos di Lokasi Riset Aerohydro Culture, di Kampung Koto Ringin Kecamatan Mempura, Kamis (13/6/2019) pagi.

Dalam hal ini, Badan Restorasi Gambut (BRG) bekerjasama dengan Word Research International (WRI) Indonesia, LIPI, UNRI (UR), Balitbang, Pertanian Pusat, Badan Penelitian Kehutanan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta melibatkan NGO (LSM) yang tergabung dalam Sedagho Siak, seperti Winrock, WRI dan Elang.

Selanjutnya, Hendrisan mengatakan, bahwa Pemerintah Daerah menyambut baik dan sangat mendukung dengan adanya kegiatan pengembangan teknologi terbaru ini.

"Jika ada kendala dalam pengembangan teknologi ini, kami Pemerintah Daerah akan memfasilitasi dan siap membantu," jelasnya.

Hendrisan juga berpesan kepada Kelompok Tani yang mengikuti kegiatan ini, agar mengikuti dengan sebaik-baiknya. Agar mungkin teknologi ini benar-benar dapat diterapkan dilahan gambut didaerah ini. 

"Semoga dengan teknologi terbaru ini, nantinya hasil perkebunan kelapa sawit masyarakat akan meningkat, sehingga akan meningkatkan penghasilan mereka," harap Hendrisan.

Sementara itu, Prof Anton dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta menjelaskan, bahwa Teknologi Aero Hydro Culture, merupakan teknologi yang berfungsi untuk memancing akar tanaman agar naik keatas. Sehingga, lebih mendapatkan makanan dari pupuk organik yang telah disediakan. 

"Teknologi Aero Hydro Culture, terbuat dari pupuk organik yang dibuat dari rumput, tanda sawit yang kosong (tangkos), dan campuran kotoran hewan," kata Profesor itu. 

Setelah semua bahan ini dicampurkan, sambungnya, bahan ini akan di diamkan kemudian di endapkan kurang lebih selama dua bulan. Kemudian baru dapat dicampurkan dengan pupuk lainnya, seperti pupuk Mikorisa, dan pupuk PGPR.

Kemudian, Kepala Dinas Pertanian Budiman Safari menambahkan, bahwa Teknologi ini, akan coba dikembangkan terlebih dahulu dilahan Koperasi Beringin Jaya Kampung Koto Ringin, dengan luas lebih kurang 400 hektare. 

"Setelah teknologi ini berhasil dikembangkan, saya berharap koperasi Beringin Jaya menjadi pengembang usaha primadona, bagi pelaku usaha sawit di daerah lain," imbuh Budiman.

Penulis
: Hermansyah
Editor
: Redaksi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)