SIAK, datariau.com- Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Dimana adat diletak, disitu marwah dikandung.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam Sejahtera, Shaloom, Om Swastiastu, Namo Buddhaya, Salam Kebajikan.
Serta Salam Takzim bagi kita semua, khususnya masyarakat adat Melayu di Tanah Lancang Kuning.
Menyikapi insiden keributan dan perselisihan fisik yang melibatkan oknum Anggota DPRD Provinsi Riau beserta jajaran baru-baru ini, "Kami atas nama Tameng Adat LAMR Kabupaten Siak merasa perlu untuk menyampaikan pandangan, imbauan, sekaligus teguran moral demi menjaga kesucian marwah negeri ini,"
1. Sangat Menyayangkan dan Prihatin
Kami sangat menyesalkan terjadinya pertikaian tersebut. Anggota legislatif adalah representasi dari suara rakyat, pemegang amanah, dan sekaligus figur publik yang gerak-geriknya dinilai oleh masyarakat luas.
Kejadian seperti ini sangat mencederai perasaan masyarakat Riau yang selama ini dikenal santun, damai dan mengedepankan musyawarah.
2. Kehilangan Elok dan Adab Melayu
Tanah Riau adalah tanah beradat. Di dalam falsafah hidup orang Melayu, adab berada di atas segalanya. Jabatan setinggi apa pun, jika kehilangan adab, maka hilanglah marwahnya.
Tindakan yang mempertontonkan kekerasan, saling serang dan hilangnya kontrol diri di ruang publik sangat bertolak belakang dengan tunjuk ajar Melayu yang mengajarkan kita untuk:
Menahan amarah di dada, mendulukan sabar dan lapang dada.
Bercakap biarlah beradab, berunding biarlah bermufakat.
Yang tua dihormati, yang sebaya dikasihi, yang kecil disayangi.
Ketika pemimpin atau wakil rakyat kehilangan elok dalam bertindak, mereka telah memberikan contoh yang buruk bagi generasi muda (pucuk budi) di bumi Melayu ini.
3. Mengimbau untuk Kembali ke Meja Musyawarah
Sebagai Tameng Adat yang bertugas menjaga pagar negeri, marwah dan adat istiadat, kami meminta kepada pihak-pihak yang bertikai untuk segera menahan diri. Selesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin.
Ingatlah petuah tetua kita:
"Patah tumbuh hilang berganti, kusut menyelesaikan dengan hati. Kalau keruh air di hulu, jangan biarkan mengalir ke hilir."
Gunakan mekanisme kekeluargaan, duduk bersama dan selesaikan melalui jalur musyawarah mufakat tanpa perlu mempertontonkan ego dan otot di hadapan khalayak ramai.
4. Permintaan Maaf Secara Terbuka kepada Masyarakat
Kami mendesak oknum-oknum yang terlibat dalam keributan tersebut, untuk berjiwa besar meminta maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Riau.
Langkah ini penting untuk memulihkan kembali kepercayaan publik dan menjaga marwah institusi terhormat tempat mereka mengabdi.
Sebagai penutup, izinkan kami menitipkan sebait pantun sebagai pengingat bagi kita bersama:
Tumbuh subur pohon kelapa,
Tumbuh pula di tepi paya;
Adab dan sopan janganlah lupa,
Itulah tanda melayu mulia.
Bukan parang karena hulu,
Hulu retak di dalam peti;
Bukan orang karena pangkat dan hulu,
Orang mulia karena rendahnya hati.
"Mari sama-sama kita jaga marwah negeri ini. Jangan karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Jangan karena hilangnya kendali diri, runtuh wibawa negeri yang kita cintai ini," ucap Panglima Utama Tameng Adat LAMR Kabupaten Siak.
Billahitaufiq wal hidayah,
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Panglima Utama Tameng Adat LAMR Kabupaten Siak.(***)