TAMBANG, datariau.com - Misteri kematian seorang remaja bernama JA (15) warga Perumahan Azziziah Blok E 11 Desa Tarai Bangun Kecamatan Tambang sampai saat ini belum terungkap. Warga masih bertanya-tanya penyebab pasti kematian korban.
Dimana, korban ditemukan tergantung di belakang rumah warga di Perumahan Azziziah Jalan Bupati RT 02 RW 01 Dusun IV Tarab Mulia Desa Tarai Bangun Kecamatan Tambang pada Sabtu (9/2/2019) sekira pukul 21.00 Wib.
Hampir sepekan berlalu, pengakuan mengejutkan diungkapkan pimpinan salah satu pondok pesantren yang ada di sekitar penemuan mayat itu, bahwa remaja itu sudah 5 kali melakukan aksi maling di pesantren.
Menurut pengakuan pimpinan Pondok Pesantren, Eshamadi Durahman saat dikonfirmasi datariau.com, Kamis (14/2/2019) mengungkapkan, bahwa sebelum remaja itu ditemukan tewas tergantung, remaja itu juga sempat tertangkap di dalam kamar salah seorang guru di pesantren, diduga ingin maling.
Saat ditangkap, remaja itu melawan dan melukai salah seorang guru, kemudian remaja itu kabur. Pimpinan pondok dan guru kemudian membuat laporan Polisi di Polsek Tambang, tentang kejadian maling masuk pesantren. Saat membuat laporan, pimpinan pondok mendapat telepon bahwa pelaku maling sudah ditemukan namun dalam kondisi meninggal gantung diri.
"Malam itu habis shalat Maghrib guru pulang ke rumah kedapatan anak itu masuk kamar, mau ditangkap guru melawan pakai besi, pecah bibir guru itu," kata Eshamadi.
Anak tersebut, terang Eshamadi, kedapatan masuk ke kamar guru yang kehilangan Rp9 juta yang kejadiannya sekitar dua pekan lalu, pelakunya saat ditangkap adalah anak itu juga.
"Ini yang kelima, malam itu lolos dia, guru berdarah-berdarah, guru menjerit pencuri.. pencuri.., bertebaran kami bersama anak-anak (santri, red) mencarinya tapi tidak ketemu. Kami ke RT dan RW bagaimana caranya, diarahkan kami ke Polsek malam itu, kami diinterogasi siapa korban dan pelaku, sedang bercakap-cakap dapat telepon bahwa anak (pelaku, red) sudah ditemukan namun sudak menjadi mayat," terang Eshamadi lagi.
Eshamadi menceritakan bahwa sudah 5 kali kejadian maling masuk ke pesantrennya, pernah tertangkap pelaku yang merupakan remaja tewas tergantung tersebut, mengakui uang Rp9 juta dicuri, namun karena kasihan masih anak-anak akhirnya pesantren memaafkan dan dibuat surat perjanjian.
"Kecurian sudah 5 kali yang sudah diketahui, pertama gas (tabung gas, red), kedua peralatan tukang, habis itu uang 9 juta, hp guru 4, tertangkap dia, kami maafkan, dibuat surat perjanjian, orangtua ndak pernah datang, ada bukti surat perjanjian. Awak kasihan sama anak-anak, dimaafkan," terang Eshamadi dalam bahasa daerah Ocu dalam konfirmasi tersebut.
Saat Eshamadi menanyakan kemana uang Rp9 juta milik guru dilarikan pelaku, maka remaja itu mengakui sudah dijadikan biaya menginap di hotel selama 4 malam dan membeli Smartphone merk Xiaomi. "Padahal uang Rp9 juta itu untuk keperluan melamar oleh guru ini," ungkap Eshamadi.
Eshamadi juga tidak ingin kematian korban dikait-kaitkan dengan pesantren, karena menurutnya, pihak pesantren tidak mengetahui mengapa remaja itu bisa ditemukan tewas tergantung, lagi pula remaja tersebut ditemukan tewas tergantung bukan di dalam lingkungan pesantren melainkan di pemukiman warga.
Beberapa warga di sekitaran pesantren saat ditemui datariau.com Kamis pagi kemarin menjelaskan, bahwa memang malam itu tampak di pesantren heboh, para santri dan guru mengejar remaja tersebut karena ketahuan mencuri. Namun warga tidak mengetahui apakah remaja itu ditangkap para santri atau tidak, karena kabar terakhir yang didapatkan wagra, remaja itu ditemukan sudah tewas tergantung di belakang rumah warga. (rik)