DATARIAU.COM - Pola perjalanan wisata di Indonesia kini menunjukkan perubahan signifikan. Wisatawan domestik maupun mancanegara semakin meninggalkan destinasi perkotaan besar dan beralih ke wilayah-wilayah yang lebih tenang, alami, serta menawarkan pengalaman budaya yang lebih autentik di luar pusat-pusat wisata utama.
Laporan terbaru Airbnb bertajuk Beyond the Beaten Track: Unlocking Tourism Growth Across Asia Pacific mencatat adanya peningkatan permintaan yang konsisten terhadap destinasi di luar kota besar di Indonesia. Pergeseran ini dinilai membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat lokal di berbagai daerah yang sebelumnya belum tersentuh arus wisata secara maksimal.
Lonjakan minat ke destinasi non-perkotaan
Berdasarkan data internal Airbnb, hampir satu dari lima penginapan di Indonesia kini berlokasi di luar kota besar. Tren ini tidak hanya menunjukkan perubahan preferensi wisata, tetapi juga mencerminkan distribusi pariwisata yang semakin merata.
Selain itu, durasi menginap wisatawan juga meningkat lebih dari 15% pada tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menandakan wisatawan tidak lagi sekadar singgah, melainkan benar-benar ingin merasakan kehidupan lokal secara lebih mendalam.
Wisatawan kini cenderung mencari ketenangan, lanskap alam, serta interaksi sosial yang lebih dekat dengan masyarakat setempat. Pergeseran ini sejalan dengan tren di kawasan Asia Pasifik yang menunjukkan peningkatan minat terhadap destinasi yang belum banyak dikenal.
Baca juga:Airbnb Perluas Layanan Perjalanan, Hadirkan Sewa Mobil hingga Pengalaman Eksklusif Piala Dunia FIFA 2026
Lombok dan Nabire jadi contoh pertumbuhan
Perubahan pola wisata ini terlihat nyata di sejumlah daerah Indonesia. Salah satunya adalah Lombok yang mencatat kenaikan lama menginap hingga 68% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadikan Lombok sebagai salah satu destinasi dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Pasifik.
Sementara itu, Kabupaten Nabire mencatat sejarah baru pada 2025 dengan menerima pemesanan Airbnb pertama kalinya. Momen ini menjadi penanda penting bahwa pariwisata kini mulai berkembang hingga ke wilayah timur Indonesia yang selama ini relatif jarang tersentuh wisata massal.
Wisatawan asing dominasi destinasi non-kota besar
Menariknya, destinasi di luar kota besar tidak hanya diminati wisatawan domestik, tetapi juga wisatawan mancanegara. Data menunjukkan sekitar 90% tamu yang menginap di wilayah non-perkotaan berasal dari luar negeri.
Fenomena ini memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi global yang menawarkan pengalaman lokal yang autentik, mulai dari keindahan alam, budaya tradisional, hingga kehidupan masyarakat sehari-hari yang masih sangat kuat di daerah.
Baca juga:Sembilan Trend Teknologi yang Akan Merubah Dunia di Tahun 2018
Wisata kini lebih bermakna dan berdampak
Perubahan tren ini juga terlihat dari cara wisatawan memaknai perjalanan mereka. Survei Airbnb menunjukkan bahwa:
* 95% wisatawan menilai penting untuk mengunjungi destinasi yang mendukung masyarakat lokal
* 85% tertarik ke destinasi di luar kota besar jika tersedia akomodasi alternatif
* 100% responden menyatakan rekomendasi tuan rumah memengaruhi pengeluaran mereka saat berwisata
Artinya, wisatawan kini tidak hanya mencari tempat berlibur, tetapi juga pengalaman yang memberi dampak langsung kepada komunitas lokal. Pengeluaran mereka banyak dialokasikan untuk kuliner lokal, pasar tradisional, serta aktivitas budaya yang dikelola masyarakat setempat.
Baca juga:Dua Destinasi Kampar Wakili Riau di Anugerah Pesona Indonesia, Akses Jalan dan Jembatan Dibenahi
Akomodasi dorong pariwisata inklusif
Salah satu faktor utama yang mendorong pertumbuhan wisata ke luar kota besar adalah ketersediaan akomodasi. Banyak daerah sebelumnya terkendala keterbatasan infrastruktur penginapan sehingga sulit berkembang sebagai destinasi wisata.
Platform seperti Airbnb dinilai berperan dalam menjembatani kesenjangan tersebut dengan memperluas akses akomodasi di berbagai wilayah. Bahkan, satu dari empat wisatawan di Asia Pasifik mengaku tidak akan mengunjungi destinasi di luar kota besar tanpa adanya platform akomodasi alternatif.
Hal ini menunjukkan bahwa akses penginapan memiliki peran penting dalam membuka arus wisata baru dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Baca juga:Bisnis Hotel Kini Bisa Raup Pendapatan Lebih Besar, Zucchetti dan SiteMinder Perkuat Integrasi Global