SMM PANEL INDO

Sisi Lain Bali yang Jarang Dilihat Turis: Konservasi Kunang-Kunang hingga Lukisan Kamasan

datariau.com
408 view
Sisi Lain Bali yang Jarang Dilihat Turis: Konservasi Kunang-Kunang hingga Lukisan Kamasan
Foto: Ist.
Sekitar 20 kilometer di utara Ubud, tepatnya di Desa Taro, Wayan Wardika menjalankan upaya untuk menghidupkan kembali populasi kunang-kunang Bali yang semakin sulit ditemukan.

BALI, datariau.com - Bali tak hanya menawarkan pantai, pura, dan destinasi wisata populer. Sejak Mei 2026, semakin banyak Airbnb Experiences hadir di Pulau Dewata dengan menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat lokal.

Pengalaman tersebut mencakup berbagai aktivitas, mulai dari alam dan kegiatan luar ruangan, sejarah dan budaya, makanan dan minuman, seni dan desain, hingga kebugaran dan wellness.

Melalui pengalaman yang dipandu tuan rumah lokal, wisatawan diajak mengenal Bali dari sisi yang lebih personal, termasuk tradisi, lingkungan, seni, serta cerita yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Baca juga:Caritas Indonesia Gandeng Airbnb.org, Sediakan Hunian Gratis bagi Warga Terdampak Gempa Flores


Dua tuan rumah Airbnb Experiences asal Bali, Wayan Wardika dan Ida Bagus Rekha, menjadi contoh bagaimana pengalaman wisata dapat sekaligus menjadi sarana memperkenalkan dan merawat warisan lokal.

Menyelamatkan Kunang-Kunang, Merawat Warisan Alam Bali


Sekitar 20 kilometer di utara Ubud, tepatnya di Desa Taro, Wayan Wardika menjalankan upaya untuk menghidupkan kembali populasi kunang-kunang Bali yang semakin sulit ditemukan.

Dengan latar belakang pendidikan pariwisata, menjadi pegiat konservasi sebenarnya bukanlah rencana awal Wayan. Namun, ketika kembali ke Desa Taro, ia melihat perubahan lingkungan yang cukup besar dibandingkan masa kecilnya.

Baca juga:Kampar Bersinar di Peta Wisata Indonesia, 95 Persen Penginapan Berada Dekat Lapangan Golf


Penggunaan pestisida, polusi, serta berbagai kerusakan lingkungan membuat kunang-kunang yang dahulu mudah ditemukan semakin langka.

Kondisi tersebut kemudian mendorong Wayan membangun inisiatif Bring Back The Light. Program ini melibatkan petani lokal, peneliti, dan ilmuwan muda untuk memulihkan populasi kunang-kunang sekaligus menjaga ekosistem tempat mereka hidup.

Bagi Wayan, hilangnya kunang-kunang bukan sekadar kehilangan pemandangan indah.

“Kunang-kunang memiliki hubungan yang sangat erat dengan kearifan lokal, spiritualitas, budaya, dan tradisi Bali. Saat kita melindungi kunang-kunang, kita juga sedang melindungi bagian kecil dari identitas budaya dan kearifan yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar Wayan.

Baca juga:Tren Wisata Indonesia Bergeser: Wisatawan Pilih Destinasi di Luar Kota Besar, Dorong Pertumbuhan “Hidden Gems”


Wayan kemudian membagikan kegiatan konservasinya melalui Airbnb Experiences. Wisatawan tidak hanya diajak menyusuri persawahan untuk melihat cahaya kunang-kunang, tetapi juga mempelajari siklus hidupnya, bertemu anak-anak muda yang terlibat dalam penelitian dan pembiakan, serta mengenal upaya pemulihan habitat alami.

Para tamu juga berkesempatan menghabiskan waktu bersama keluarga Wayan dan menikmati makanan bersama.

“Misi kami bukan hanya menarik wisatawan, tetapi juga memperkenalkan upaya konservasi ini dan mengajak mereka untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih bermakna,” jelasnya.

Menurut Wayan, sejumlah pengalaman yang paling membekas bagi wisatawan antara lain kunjungan ke laboratorium untuk melihat siklus hidup kunang-kunang, menyiapkan dan menikmati makanan bersama keluarganya, serta menyaksikan kunang-kunang hidup bebas di alam terbuka.

Baca juga: Airbnb Perluas Layanan Perjalanan, Hadirkan Sewa Mobil hingga Pengalaman Eksklusif Piala Dunia FIFA 2026


“Harapan kami, ketika pulang nanti, mereka tidak hanya mengingat momen melihat kunang-kunang. Mereka juga akan mengingat bagaimana rasanya terhubung dengan alam dan menjadi bagian dari upaya untuk melindunginya,” katanya.

Menjaga Warisan Seni Bali Lewat Lukisan Kamasan


Cerita berbeda datang dari seniman Ida Bagus Rekha yang mengajak wisatawan mengenal salah satu warisan seni tradisional Bali, yakni lukisan Kamasan.

Pengetahuan mengenai seni Kamasan dipelajari Ida Bagus Rekha dari gurunya, Nyoman Mandra, seniman sekaligus praktisi Kamasan asal Klungkung.

Pengetahuan tersebut kemudian ia teruskan kepada wisatawan melalui Airbnb Experiences. Para tamu diajak mempelajari proses pewarnaan lukisan Kamasan secara bertahap, sekaligus mengenal sejarah, fungsi tradisional, dan konteks budaya di balik karya tersebut.

“Lewat pengalaman ini, saya berharap para wisatawan dapat lebih memahami bagaimana seni Bali telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kami,” ujar Ida Bagus Rekha.

Baca juga:Bedrock Hotel, Salah Satu Hotel Halal di Bali


Menurutnya, seni Bali tidak hanya berbentuk karya visual, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari upacara adat, hiasan pura hingga pakaian.

Proses membuat lukisan Kamasan juga mengajarkan kesabaran. Setiap warna diaplikasikan secara bertahap dan berurutan sehingga membutuhkan ketelitian.

Menariknya, menurut Ida Bagus Rekha, sejumlah wisatawan begitu menikmati proses tersebut hingga tidak menyadari bahwa sesi selama tiga jam telah berlalu.

Airbnb Experiences Bantu Seniman Menjangkau Audiens Lebih Luas


Bagi Ida Bagus Rekha, menjadi tuan rumah Airbnb Experiences tidak hanya menjadi sarana memperkenalkan seni Bali kepada wisatawan. Interaksi dengan tamu juga memberinya kesempatan bertukar perspektif.

Pengalaman tersebut turut meningkatkan kepercayaan dirinya untuk memperkenalkan Khatha Studio, yang sebelumnya lebih berfokus pada audiens lokal. Kini, karya dan aktivitas studio tersebut dapat menjangkau masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia maupun wisatawan mancanegara.

Menjadi tuan rumah juga memberikan manfaat ekonomi bagi perjalanan kariernya sebagai seniman.

“Menjadi tuan rumah Airbnb Experiences memberi saya penghasilan tambahan yang mendukung saya sebagai seniman, mulai dari menciptakan karya-karya baru hingga mempersiapkan pameran saya,” kata Ida Bagus Rekha.

Ia juga mendorong para seniman lokal untuk melihat kembali nilai dari keahlian yang telah mereka miliki dan membagikannya kepada wisatawan.

Menurutnya, memperkenalkan seni beserta cerita di baliknya dapat menjadi cara bagi wisatawan untuk mengenal Bali secara lebih mendalam, sekaligus membuka ruang bagi para seniman untuk terus belajar dan berkembang.

Kisah Wayan Wardika dan Ida Bagus Rekha menunjukkan dua cara berbeda dalam memperkenalkan Bali kepada wisatawan. Wayan melalui konservasi kunang-kunang, sementara Ida Bagus Rekha melalui seni lukis Kamasan.

Keduanya memperlihatkan bahwa pengalaman mengenal Bali tidak selalu harus dimulai dari destinasi wisata populer. Ada pula cerita tentang alam, seni, tradisi, dan masyarakat lokal yang dapat memberikan perspektif berbeda tentang Pulau Dewata.

Pada akhirnya, pengalaman tersebut mempertemukan wisatawan dengan orang-orang yang tumbuh dan menjalani kehidupan sehari-hari di Bali, sekaligus membuka ruang bagi warisan alam dan budaya lokal untuk terus dikenal lintas generasi.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)