Ditepuk Tepung Tawar, Ustadz Abdul Somad Resmi Diberi Gelar

datariau.com
1.951 view
Ditepuk Tepung Tawar, Ustadz Abdul Somad Resmi Diberi Gelar
Gambar: Myus
Ustadz Abdul Somad yang dikenal sebagai seorang pendakwah, ulama, dan dosen pada masa milenial saat ini, akhirnya resmi diberi gelar oleh Lembaga Adat Melayu Riau, Selasa (20/2/2018).

PEKANBARU, datariau.com - Ustadz Abdul Somad yang dikenal sebagai seorang pendakwah, ulama, dan dosen pada masa milenial saat ini, akhirnya resmi diberi gelar oleh Lembaga Adat Melayu Riau, Selasa (20/2/2018).

Ketika hendak menerima gelar adat, rangkaian Syair yang dibacakan oleh UAS sempat membuat Datuk dan Datin menjadi terharu dan direspon oleh Ormas Islam dengan meneriakkan kalimat Allah Akbar di balai room Tennas Effendy.

Tulisan Syair yang begitu tertata rapi dan panjang yang dibuat oleh UAS menjadi daya tarik para Datuk dan Datin yang menghadiri acara penambalan gelar adat kepada UAS, ternyata syair itu telah ditulis UAS beberapa buku yang gegap gempita di kalangan umat Islam, diantaranya 37 Masalah Populer, 99 Pertanyaan Seputar Sholat, dan 33 Tanya Jawab Seputar Qurban.

Selain karya sendiri, Abdul Somad juga menerjemahkan sejumlah buku dari bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia. Ia melaksanakan pengajian demi pengajian sebelum dikenal oleh umat Islam Nusantara. Capaiannya luar biasa, dipahami banyak jemaah yang berada langsung di hadapannya di masjid dan majelis, tetapi juga menembus dinding masa, waktu dan tempat.

Tidak hanya populer di kalangan umat Islam, tetapi juga disukai non muslim. Ia mampu menggunakan teknologi informasi dengan sebaik-baiknya di tengah kegandrungan generasi kini terhadap alam tersebut. Ia menguak wilayah pinggir dan tampil di tengah gelanggang dengan takzim.

Tausyiah Ustadz Abdul Somad disukai antara lain karena lengkap, beragam, moderat, dan kontekstual. Hal yang dilakukannya intinya adalah menjaga izzah dan ghirah Islam, kemuliaan, kehormatan, kekuatan Islam, semangat kemelayuan melalui syiar Islam, dan sebaliknya memberikan semangat keislaman melalui kemelayuan. Namanya merebak melintasi Riau dengan berbagai predikat positif.

Dalam sosok Ustadz Abdul Somad bergabung diri berbagai ulama maupun mubaligh yang ada di Indonesia berwatak keras, bersuara lantang, ucapannya tegas dan wawasan keislamannya luas karena penguasaan sumber kitab-kitab klasiknya yang lengkap. Ini memang tidak mudah, karena memerlukan ingatan yang luar biasa. Dalam penjelasan itu Ustadz Abdul Somad menjawab langsung, hampir tanpa jeda. Selanjutnya, posisi Ustadz Abdul Somad menjadi terang benderang bagi umat Islam dan masyarakat Melayu, bahwa ia di pihak luar dianggap sebagai titik kumpul (rallying point) umat.

Sebagai dosen, UAS berada dalam lingkungan yang baik untuk mengembangkan wawasan. Ini terlihat dari kemampuan merujuk dan mengutip isi kitab, lengkap dengan silsilah kitab, orang, dan bahkan rantai guru-murid, dengan latar belakangnya. Sementara itu, penjelasannya selalu mengunakan langgam Melayu. Memang enak di telinga dan nyaman di hati, apalagi jika ditingkahi dengan pantun dan syair. Hal ini karakter umum yang dimiliki oleh orang Melayu khasnya Riau. Dalam banyak ceramahnya ia dinilai memiliki nuansa sastra, ada rima dan metafora, karena begitulah akar sastra Melayu dari Arab Parsi. Suara Abdul Somad yang tidak hanya lantang dan fasih dalam bahasa Arab, tetapi juga merdu menjadikan tausiahnya mewujud sebagai semacam seni pertunjukan, apalagi saat ia mendendangkan syair dan zikir.

Wawasan ilmunya sampai kepada sejarah pelbagai kerajaan dan kesultanan Melayu. Ia dengan fasih mendeskripsikan bagaimana sejarah mengalir kronologis, mulai dari Bukit Siguntang, terus ke Bentan, dan Melaka. Lalu bersambung ke aliran spasial, dari Kerajaan Samudera Pasai, terus kerajaan Melayu Deli Serdang, Inderagiri, Siak Sri Inderapura hingga Dharmaseraya. Ustadz Abdul Somad paham bagaimana kebiasaan di kampung-kampung dan dusun di Riau, di ceruk sungai dan hutan simpanan.

Selain yang disebutkan di atas, Ustadz Abdul Somad memiliki selera humor yang tinggi. Ia membuat cerita panjang dengan selaan canda yang menyegarkan. Ia membuat humor tidak mesti ikut tertawa bersama jemaah. Humor seperti ini tipikal humor orang Melayu.

Maka atas dasar itulah, UAS secara resmi diberi gelar adat sebagai Datuk Seri Ulama Setia Negara. Penabalan dilakukan Ketua Majlis Kerapatan Adat (MKA) Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Al Azhar, didampingi Ketua Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAM Riau Syahril Abubakar.

Pemberian gelar Datuk Seri Ulama Setia Negara kepada UAS dinilai sudah tepat. Karena selain dikarenakan anak jati diri Melayu Riau, ulama kharismatik juga telah memberikan inspirasi kepada masyarakat dalam tuntunan hidup.

Pemberian gelar ditandai dengan penyematan tanjak dan selempang kepada UAS. Selain itu, dilakukan juga tepung tawar yang diawali oleh Sekdaprov Riau Ahmad Hijazi mewakili Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Wan Abubakar yang berhalangan hadir, karena sedang menghadiri acara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri).

Hadir Datok Seri Setia Amanah yang juga Calon Gubernur Riau (Cagubri) petahana Arsyadjuliandi Rachman, Ketua DPRD Riau Septina Primawati, Kapolda Riau Irjend Pol Nandang, Sekdaprov Riau Ahmad Hijazi, Konsul Malaysia Hardi Hamdin.

Sejumlah mantan pejabat yang kini juga menjadi pengurus LAM Riau juga hadir. Diantaranya, mantan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Syarwan Hamid, mantan Gubernur Riau Saleh Jasit, tiga mantan Wakil Gubernur Riau Mambang Mit, Wan Abubakar, Rivai Rachman.

Penulis
: Myus
Editor
: Riki
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)