Wisuda ke-45 Universitas Paramadina, Sandiaga Uno Dorong Lulusan Jadi Pencipta Lapangan Kerja

datariau.com
39 view
Wisuda ke-45 Universitas Paramadina, Sandiaga Uno Dorong Lulusan Jadi Pencipta Lapangan Kerja
Foto: Ist.
Universitas Paramadina menyelenggarakan Wisuda ke-45 dengan menghadirkan Dr. Sandiaga Salahuddin Uno sebagai orator ilmiah.

DATARIAU.COM - Universitas Paramadina menyelenggarakan Wisuda ke-45 dengan menghadirkan Dr. Sandiaga Salahuddin Uno sebagai orator ilmiah. Dalam kesempatan tersebut, Sandiaga menyampaikan pesan kepada para wisudawan agar mampu menghadapi tantangan dunia kerja sekaligus menjadi generasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam orasi ilmiahnya, Sandiaga menyoroti berbagai tantangan ketenagakerjaan di Indonesia, mulai dari tingginya angka pengangguran, jebakan kelas menengah (middle-income trap), pengangguran anak muda, hingga ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

"Apakah mencari kerja sekarang gampang atau susah? Susah atau susah banget?" ujar Sandiaga, menggambarkan realitas yang harus dihadapi para lulusan perguruan tinggi saat ini.

Ia juga mengingatkan adanya fenomena missing potential, yakni potensi generasi muda yang belum sepenuhnya terserap dan dikembangkan secara produktif.

"Hampir 20% dari anak-anak muda kita itu berada dalam kategori NEET. Tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan," ungkapnya.

Menurut Sandiaga, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda, termasuk alumni Universitas Paramadina, untuk mengambil peran lebih besar dalam menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan produktivitas bangsa.

Alumni Harus Menjadi Pribadi yang Bermanfaat


Salah satu pesan utama yang disampaikan Sandiaga adalah pentingnya menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

"Sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat. Betul atau betul?" ujarnya di hadapan para wisudawan.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan seseorang tidak semata-mata diukur dari jabatan, pencapaian material, maupun kesuksesan pribadi. Lebih dari itu, seseorang harus mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Menurutnya, gelar akademik yang diperoleh bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan, nilai-nilai, dan kemampuan yang telah diperoleh selama menjalani pendidikan.

Integritas Menjadi Fondasi Kepemimpinan


Dalam orasi tersebut, Sandiaga juga menekankan pentingnya integritas sebagai fondasi utama kepemimpinan. Ia mengingatkan bahwa kompetensi dan kecerdasan intelektual harus berjalan seiring dengan karakter yang kuat.

"Integritas adalah landasan dari kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang mumpuni kalau integritas tidak diperbaiki," tegasnya.

Pesan Character Over Competence menjadi pengingat bahwa kemampuan akademik dan keahlian profesional harus dilandasi kejujuran, tanggung jawab, konsistensi, serta komitmen terhadap nilai-nilai moral.

Selain integritas, Sandiaga juga mendorong para lulusan memiliki pola pikir inovatif dalam menghadapi berbagai tantangan.

"Mindset inovatif diperlukan untuk menghadapi tantangan dan mencari solusi, bukan sekadar mengeluh," katanya.

Ia berharap para wisudawan mampu melihat setiap persoalan sebagai peluang untuk menghadirkan solusi dan menciptakan perubahan positif.

Entrepreneurial Mindset, Bekal Memasuki Dunia Industri


Memasuki dunia kerja dan industri, Sandiaga mengajak para lulusan Universitas Paramadina membangun entrepreneurial mindset atau pola pikir kewirausahaan.

Menurutnya, semangat kewirausahaan tidak hanya dibutuhkan oleh mereka yang ingin membangun usaha sendiri, tetapi juga penting bagi siapa pun yang bekerja di perusahaan, organisasi, maupun institusi pemerintahan.

"Entrepreneurship is not a profession, tapi entrepreneurship is a mindset. Sebuah pola pikir," jelasnya.

Pola pikir kewirausahaan mendorong seseorang untuk lebih proaktif, mampu membaca peluang, berani menghadapi tantangan, berorientasi pada solusi, serta menciptakan nilai tambah dalam setiap pekerjaan.

"Mindset seorang pemenang adalah mindset inovasi," ujarnya.

Sandiaga berharap para lulusan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja (job seeker), tetapi juga mampu menjadi pencipta lapangan kerja (job creator) dan penggerak inovasi.

"Bukan menambah masalah dengan mencari pekerjaan, tapi kita memberikan solusi dengan mendorong terciptanya lapangan kerja," tambahnya.

Semangat 4AS dan 3SI untuk Menghadapi Masa Depan


Menutup orasi ilmiahnya, Sandiaga mengajak para wisudawan membawa semangat 4AS, yakni kerja keras, kerja keras, kerja keras, dan kerja keras.

Selain itu, ia memperkenalkan nilai 3SI yang meliputi inovasi, adaptasi, dan kolaborasi sebagai bekal menghadapi perubahan zaman.

Menurutnya, kerja keras merupakan modal dasar untuk menghadapi persaingan dan berbagai tantangan. Inovasi diperlukan untuk menciptakan solusi dan terobosan baru, adaptasi menjadi kemampuan penting dalam menghadapi perubahan, sedangkan kolaborasi membuka peluang untuk membangun kekuatan bersama.

Ketiga nilai tersebut diharapkan menjadi pegangan generasi muda agar mampu bertahan, berkembang, dan memenangkan persaingan di tengah dinamika dunia yang terus berubah.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)