Bukan Memberontak Maupun Turun ke Jalan, Begini Tuntunan Islam Menghadapi Pemimpin yang Zalim

datariau.com
216 view
Bukan Memberontak Maupun Turun ke Jalan, Begini Tuntunan Islam Menghadapi Pemimpin yang Zalim
Ilustrasi. (Foto: Open AI)
Bukan Memberontak Maupun Turun ke Jalan, Begini Tuntunan Islam Menghadapi Pemimpin yang Zalim.

DATARIAU.COM - Dalam dinamika kehidupan bernegara dan bermasyarakat, umat Islam sering kali dihadapkan pada ujian berupa kepemimpinan yang tidak ideal atau menyimpang dari nilai-nilai keadilan.

Di tengah berbagai polemik sosial dan hukum yang melibatkan penguasa, penting bagi seorang Muslim untuk kembali kepada bimbingan petunjuk Nabi Muhammad ﷺ agar tidak terjebak dalam sikap ekstrem, baik itu sikap yang menghalalkan pemberontakan, maupun sikap yang ikut mendukung serta membenarkan kezaliman.

1. Peringatan Nabi: Realitas Pemimpin yang Curang


Rasulullah ﷺ telah jauh-jauh hari mengabarkan kepada umatnya mengenai realitas zaman yang akan datang. Dalam sebuah hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Usaid bin Hudair radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya kalian akan menemui sepeninggalku para pemimpin yang curang."

Pemimpin yang curang atau zalim cenderung lebih mementingkan diri sendiri, kelompok, keluarga, atau pendukungnya dibandingkan kemaslahatan masyarakat banyak.

Menghadapi fenomena ini, Islam tidak mengajarkan umatnya untuk langsung mengangkat senjata atau turun ke jalan melakukan pemberontakan dan pelengseran.

2. Perintah Bersabar dan Ancaman Terusir dari Telaga Nabi


Sebagai solusi menghadapi pemimpin yang zalim, Nabi ﷺ memberikan arahan yang penuh hikmah: bersabar. Kesabaran ini bernilai besar, karena kelak di hari kiamat, orang-orang yang bersabar akan mendapatkan keselamatan dan dapat berjumpa dengan Rasulullah ﷺ di telaganya.

Sebaliknya, ada ancaman yang sangat mengerikan bagi mereka yang tidak mampu bersabar atau justru terlibat dalam kezaliman. Berdasarkan penjelasan para ulama dan dalil-dalil sahih, terdapat golongan-golongan yang terancam terusir dan tidak bisa minum dari telaga Nabi:

1. Orang-orang yang tidak sabar menghadapi pemimpin zalim dengan cara menempuh jalan perpecahan/pemberontakan.

2. Pemimpin yang zalim itu sendiri.

3. Orang-orang yang mendukung kezaliman serta membenarkan kebohongan penguasa yang zalim.

Nabi ﷺ bahkan menegaskan bahwa mereka yang menolong kezaliman penguasa berlepas diri dari tuntunan beliau:

"Maka siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan siapa yang menolong kezaliman mereka, maka mereka itu bukan bagian dari aku dan aku bukan bagian dari mereka, dan mereka tidak akan bisa datang ke telagaku."

3. Batasan Tegas: Sabar Bukan Berarti Mendukung Kezaliman


Sikap sabar yang diajarkan dalam Islam sama sekali tidak bermakna membenarkan tindakan batil atau merestui perbuatan zalim penguasa. Di sinilah letak keseimbangan ajaran Islam yang harus dipahami dengan lurus, agar umat tidak terjerumus ke dalam dua bentuk kesalahan (syubhat):

- Golongan Pertama: Kelompok yang salah kaprah dengan menganggap sabar berarti harus diam dan ikut mendukung atau merestui kebijakan serta kezaliman penguasa.

- Golongan Kedua: Kelompok yang menentang perintah sabar, lalu memilih jalan mencaci maki, menyebarkan aib di muka umum (baik di mimbar maupun media sosial), atau bahkan melakukan pemberontakan fisik untuk melengserkan penguasa.

Hadis riwayat Imam Muslim dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menegaskan bahwa umat Islam diperintahkan untuk mengenali dan mengingkari kezaliman dalam hati, serta berlepas diri darinya, namun tetap dilarang untuk mengangkat senjata memerangi penguasa selama mereka masih mendirikan salat (yakni masih berada dalam ikatan keislaman).

4. Menjauhi Dalil-Dalil Mutasyabih


Orang-orang yang menyimpang kerap kali mempertentangkan dalil-dalil sahih demi membenarkan hawa nafsu mereka. Mereka mengambil sebagian dalil secara parsial sambil mengabaikan dalil-dalil lain yang memerintahkan ketertiban, persatuan, dan kesabaran di bawah kepemimpinan yang sah. Padahal, petunjuk Rasulullah ﷺ bersifat komprehensif: tidak mendukung kezaliman, namun juga tidak melakukan pemberontakan atau pencelaan terbuka yang dapat memicu kerusakan yang lebih besar.

Penutup


Mari jadikan kesabaran sebagai benteng utama dalam mengarungi ujian kehidupan bernegara. Tetaplah berpegang pada prinsip kebenaran, ingkari kemungkaran sesuai dengan porsi dan koridor syariat yang bijak, serta senantiasa memohon perlindungan kepada Allah ﷻ agar kita terhindar dari fitnah penguasa yang zalim maupun pendukung kezaliman, sehingga kita layak mendapatkan syafaat dan minum dari telaga Rasulullah ﷺ di hari kiamat kelak.***


JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)