DATARIAU.COM - Salat merupakan rukun Islam kedua sekaligus ibadah yang menjadi tiang agama. Sebagai kewajiban utama seorang Muslim, salat bukan sekadar rutinitas harian, melainkan bentuk penghambaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus dilaksanakan dengan penuh ketundukan, ketenangan, dan mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Namun, dalam praktiknya, masih banyak kesalahan yang kerap dilakukan sebagian umat Islam ketika salat. Ada yang terburu-buru dalam melakukan gerakan, memandang ke arah langit, bahkan sengaja memejamkan mata agar lebih khusyuk.
Padahal, memperhatikan tata cara salat yang benar merupakan bagian penting dalam menjaga kualitas ibadah. Jangan sampai kebiasaan yang dianggap sepele justru membuat seseorang mengabaikan tuntunan yang telah diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lantas, apa saja enam kesalahan yang sering terjadi saat salat? Berikut penjelasannya.
1. Tidak Tumakninah, Salat Terburu-buru Tanpa Berhenti Sejenak
Salah satu kesalahan yang sering dijumpai adalah tidak melakukan tumakninah, yakni berhenti sejenak hingga anggota tubuh berada dalam posisi yang tenang pada setiap gerakan salat.
Sebagian orang melakukan rukuk, iktidal, sujud, hingga duduk di antara dua sujud dengan sangat cepat. Bahkan, gerakan berikutnya dilakukan sebelum posisi tubuh benar-benar sempurna.
Padahal, tumakninah merupakan bagian penting dalam salat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menegur seseorang yang salatnya tidak benar dan memerintahkannya mengulangi salat tersebut.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan agar seseorang rukuk hingga tumakninah, bangkit hingga berdiri tegak, sujud hingga tumakninah, serta duduk hingga tumakninah. Hal itu dilakukan pada setiap gerakan salat.
Karena itu, jangan menjadikan kecepatan sebagai ukuran dalam menyelesaikan salat. Luangkan waktu untuk menyempurnakan setiap gerakan agar ibadah dilakukan sesuai tuntunan.
2. Memandang ke Langit Saat Salat
Kesalahan berikutnya adalah mengangkat pandangan ke arah langit ketika sedang melaksanakan salat.
Kebiasaan ini mungkin dilakukan tanpa disadari, terutama ketika seseorang sedang membaca bacaan salat atau berusaha menghayati maknanya. Namun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan tegas mengenai perbuatan tersebut.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan orang-orang yang mengangkat pandangan ke langit ketika salat agar menghentikan perbuatan itu. Beliau bahkan memberikan ancaman keras terkait penglihatan mereka jika terus melakukannya.
Peringatan tersebut menunjukkan bahwa arah pandangan juga perlu diperhatikan ketika salat.
Secara umum, pandangan ketika berdiri dalam salat diarahkan ke tempat sujud. Dengan demikian, seorang Muslim hendaknya menghindari kebiasaan melihat ke atas, menoleh ke sana kemari, atau membiarkan pandangannya berkeliaran tanpa keperluan.
Menjaga pandangan dapat membantu seseorang lebih fokus dalam menjalankan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
3. Memejamkan Mata dengan Sengaja Agar Khusyuk
Sebagian orang memilih memejamkan mata ketika salat karena merasa cara tersebut membuat mereka lebih mudah berkonsentrasi.
Namun, berdasarkan penjelasan ulama dalam pembahasan fikih salat, memejamkan mata tanpa kebutuhan tertentu dinilai makruh. Artinya, perbuatan tersebut sebaiknya dihindari, meskipun tidak serta-merta berarti salatnya batal.
Syekh Shalih Al-Fauzan menjelaskan bahwa menutup mata ketika salat tidak disukai apabila dilakukan tanpa alasan yang diperlukan. Akan tetapi, apabila di hadapan orang yang salat terdapat sesuatu yang mengganggu kekhusyukan, seperti ornamen atau hiasan yang menarik perhatian, memejamkan mata untuk menghindarinya tidaklah makruh menurut penjelasan tersebut.
Lalu, ke mana seharusnya pandangan diarahkan?
Dalam sebuah riwayat yang disebutkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim, Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika memasuki Ka'bah tidak memalingkan pandangannya dari tempat sujud hingga keluar.
Riwayat tersebut menjadi salah satu landasan pembahasan mengenai arah pandangan saat salat.
Karena itu, daripada membiasakan diri memejamkan mata, cobalah membangun kekhusyukan dengan memahami bacaan salat, menghayati maknanya, dan menghadirkan hati ketika menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Salat dalam Keadaan Tidak Tenang
Kesalahan lainnya adalah melaksanakan salat dalam keadaan tergesa-gesa atau tidak tenang.
Contohnya, seseorang berlari menuju masjid karena takut tertinggal salat berjemaah. Ada pula yang tetap memaksakan diri salat ketika sedang menahan buang air, atau ketika makanan telah dihidangkan dan dirinya sangat ingin menyantapnya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan umatnya untuk mendatangi salat dengan tenang. Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, beliau bersabda bahwa ketika ikamah telah dikumandangkan, seseorang hendaknya berjalan menuju salat dengan tenang. Bagian salat yang didapatkan dikerjakan bersama imam, sedangkan bagian yang tertinggal disempurnakan setelahnya.
Selain itu, dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan agar seseorang tidak melaksanakan salat ketika makanan telah dihidangkan atau ketika sedang menahan buang air besar maupun kecil.
Hal ini mengajarkan bahwa kondisi yang mengganggu konsentrasi sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu apabila memungkinkan dan waktu salat masih mencukupi.
Salat membutuhkan ketenangan lahir dan batin. Oleh sebab itu, persiapkan diri sebelum beribadah agar hati lebih siap menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Sujud Tidak Sempurna, Hidung atau Ujung Jari Kaki Terangkat
Sujud merupakan salah satu gerakan penting dalam salat. Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa seorang hamba berada dalam posisi paling dekat dengan Rabbnya ketika sedang bersujud. Karena itu, beliau menganjurkan umatnya memperbanyak doa saat sujud.
Namun, masih ada orang yang melakukan sujud tanpa memperhatikan posisi anggota tubuhnya. Misalnya, hanya menempelkan dahi ke tempat sujud, sementara hidung terangkat. Ada pula yang mengangkat kedua kaki sehingga ujung jari kakinya tidak menyentuh lantai.
Dalam hadis riwayat Imam Bukhari, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa beliau diperintahkan bersujud dengan tujuh anggota tubuh, yaitu dahi yang disertai isyarat kepada hidung, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan ujung jari kedua kaki.
Hadis tersebut menjadi pedoman penting dalam memperhatikan kesempurnaan gerakan sujud.
Karena itu, ketika bersujud, pastikan posisi tubuh dilakukan dengan benar dan tidak tergesa-gesa. Jangan hanya mengejar selesainya rakaat, tetapi abaikan gerakan yang seharusnya dilakukan dengan sempurna.