PEKANBARU, datariau.com-Mahasiswa Universitas Riau (UNRI) berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek RI) melalui Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa).
Melalui program tersebut, tim mahasiswa UNRI mengembangkan penelitian berjudul “Sintesis
Deep Eutectic Solvent Berbasis Minyak Jelantah untuk Produksi Hidrogel Selulosa Berkelanjutan dari Tandan Kosong Kelapa Sawit.”
Tim penelitian terdiri atas M. Reza Irawan sebagai ketua, serta M. Fadhlan Alqodri dan Saskia Putri Hanifa sebagai anggota. Penelitian ini mengangkat pemanfaatan dua jenis limbah, yaitu minyak jelantah dan Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS), untuk menghasilkan material bernilai tambah.
Ketua tim, M. Reza Irawan, mengatakan penelitian tersebut berangkat dari keinginan untuk mengembangkan pemanfaatan limbah menjadi bahan yang lebih bernilai.
“Kami memanfaatkan minyak jelantah sebagai sumber gliserol untuk sintesis
Deep Eutectic Solvent atau DES, sedangkan TKKS digunakan sebagai sumber selulosa. DES yang dihasilkan kemudian digunakan sebagai pelarut dalam proses isolasi selulosa sebelum dikembangkan menjadi hidrogel,” ujar Reza.
Menurut Reza, TKKS memiliki kandungan selulosa yang cukup tinggi sehingga berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku hidrogel. Sementara itu, minyak jelantah yang umumnya menjadi limbah dimanfaatkan terlebih dahulu untuk memperoleh gliserol melalui proses transesterifikasi.
M. Fadhlan Alqodri, anggota tim, menjelaskan bahwa gliserol yang diperoleh dari minyak jelantah selanjutnya digunakan sebagai
Hydrogen Bond Donor (HBD), sedangkan kolin klorida digunakan sebagai
Hydrogen Bond Acceptor (HBA).
“Kami melakukan sintesis DES dengan beberapa variasi rasio molar untuk mengetahui kondisi yang paling sesuai sebagai pelarut dalam proses isolasi selulosa dari TKKS,” kata Fadhlan.
DES disintesis dengan variasi rasio molar kolin klorida dan gliserol sebesar 1:3, 1:5, dan 1:7. Selanjutnya, proses isolasi selulosa dilakukan pada suhu 90°C dan 110°C.
Hasil penelitian menunjukkan kondisi terbaik diperoleh pada rasio molar 1:7 dan suhu 90°C. Kondisi tersebut menghasilkan
yield biomassa sebesar 64,25 persen dengan kadar selulosa mencapai 68 persen, sedangkan kadar hemiselulosa dan lignin masing-masing sebesar 15 persen dan 13 persen.
Anggota tim lainnya, Saskia Putri Hanifa, menjelaskan bahwa selulosa hasil isolasi kemudian digunakan sebagai bahan baku untuk pembuatan hidrogel.
“Selulosa yang telah diperoleh kemudian diproses menjadi hidrogel menggunakan sistem NaOH/urea dan glutaraldehida sebagai agen pengikat silang. Setelah itu, hidrogel dikarakterisasi untuk mengetahui struktur dan kemampuan penyerapan airnya,” ujar Saskia.
Hasil karakterisasi menunjukkan hidrogel yang dihasilkan memiliki struktur berpori. Pengujian
swelling menunjukkan nilai sebesar 278,66 persen, yang menunjukkan kemampuan hidrogel dalam menyerap air.
Reza mengatakan keberhasilan memperoleh pendanaan PKM-RE menjadi kesempatan bagi tim untuk mengembangkan penelitian berbasis pemanfaatan limbah.
“Kami bersyukur dapat memperoleh pendanaan PKM-RE. Pendanaan ini menjadi kesempatan bagi kami untuk mengembangkan penelitian sekaligus memberikan solusi terhadap pemanfaatan limbah minyak jelantah dan limbah kelapa sawit,” tutur Reza.
Ia berharap penelitian tersebut tidak hanya menghasilkan hidrogel selulosa, tetapi juga dapat menjadi salah satu upaya mendorong pemanfaatan limbah melalui konsep ekonomi sirkular.
“Harapannya, minyak jelantah dan TKKS tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai tambah dan lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Melalui penelitian ini, tim mahasiswa Universitas Riau menunjukkan bahwa limbah rumah tangga dan limbah perkebunan dapat diolah menjadi bahan baku material melalui pendekatan teknologi yang lebih berkelanjutan. Penelitian tersebut sekaligus menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam mengembangkan inovasi di bidang material berbasis biomassa.***