PEKANBARU , datariau.com-Limbah tangkai cabai yang selama ini belum banyak dimanfaatkan berpotensi diolah menjadi material bernilai guna. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), tim QUCHANTARA Universitas Riau mengembangkan inovasi Carbon Quantum Dots (CQDs) dan biochar berbasis tangkai cabai sebagai material untuk mendeteksi dan menyerap Rhodamin B pada limbah kerupuk merah.
Inovasi ini dilatarbelakangi oleh penggunaan pewarna pada produk pangan yang perlu mendapatkan perhatian, khususnya Rhodamin B sebagai sumber pewarna merah yang tidak diperuntukkan bagi pangan. Keberadaan zat tersebut pada limbah produksi juga dapat menjadi persoalan lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik.
Tim mengembangkan dua material dengan fungsi yang saling melengkapi. Carbon Quantum Dots dimanfaatkan sebagai material pendeteksi berdasarkan perubahan intensitas fluoresensinya ketika berinteraksi dengan Rhodamin B. Sementara itu, biochar digunakan sebagai adsorben untuk mengurangi kandungan Rhodamin B melalui proses adsorpsi.
Bahan baku utama inovasi ini berasal dari tangkai cabai (Capsicum annuum L.), yang merupakan salah satu limbah biomassa pertanian. Tangkai cabai mengandung komponen lignoselulosa yang dapat dikonversi menjadi material karbon melalui proses pengolahan tertentu.
Dalam pengembangannya, tangkai cabai terlebih dahulu melalui proses ekstraksi menggunakan metode Soxhlet dengan variasi waktu ekstraksi. Hasil ekstraksi kemudian digunakan dalam sintesis Carbon Quantum Dots melalui metode hidrotermal. Pada tahap lain, biomassa tangkai cabai dikonversi menjadi biochar melalui proses pirolisis dan selanjutnya diaktivasi untuk meningkatkan kemampuannya sebagai adsorben.
Hasil awal penelitian menunjukkan adanya perbedaan karakteristik Carbon Quantum Dots yang dihasilkan pada variasi waktu ekstraksi. Material CQDs menunjukkan respons fluoresensi ketika diberikan paparan sinar ultraviolet. Penambahan Rhodamin B menyebabkan penurunan intensitas fluoresensi atau fluorescence quenching. Perubahan tersebut menjadi dasar pemanfaatan CQDs sebagai material pendeteksi Rhodamin B.
Sementara itu, biochar yang dihasilkan diuji untuk mengetahui kemampuannya dalam mengadsorpsi Rhodamin B. Pengujian dilakukan menggunakan variasi konsentrasi Rhodamin B dan waktu kontak. Konsentrasi Rhodamin B sebelum dan sesudah proses adsorpsi dianalisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis untuk mengetahui efektivitas penyerapan.
Ketua tim, Aulia Sakila, menjelaskan bahwa penelitian ini tidak hanya berfokus pada pengolahan limbah pewarna, tetapi juga pada pemanfaatan limbah biomassa yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Melalui penelitian ini, kami ingin mengembangkan pemanfaatan tangkai cabai menjadi material karbon yang memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai pendeteksi sekaligus sebagai penyerap Rhodamin B. Kami berharap inovasi ini dapat menjadi salah satu alternatif dalam pemanfaatan limbah biomassa dan pengelolaan limbah pewarna,” ujar Aulia.
Penelitian ini dilakukan oleh tim mahasiswa Universitas Riau yang terdiri atas Aulia Sakila, Nova Oktaviani, dan Serly Aliva Amanda, dengan bimbingan Dr. Desi haltina, ST.,MT.
Pengembangan CQDs dan biochar berbasis tangkai cabai diharapkan dapat memberikan nilai tambah terhadap limbah biomassa sekaligus menawarkan pendekatan yang lebih sederhana dalam mendeteksi dan menangani pencemar Rhodamin B. Penelitian selanjutnya diarahkan pada optimasi kondisi sintesis dan adsorpsi serta karakterisasi material untuk memperoleh kondisi terbaik dalam mendeteksi dan menyerap Rhodamin B.***