DATARIAU.COM - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Universitas Riau (UNRI) melaksanakan program edukasi lingkungan bertajuk "EcoCharm: Dari Sampah Jadi Pesona" di SDN 013 Sungai Rabit, Sabtu (18/7/2026). Melalui kegiatan ini, mahasiswa mengajak siswa mengenal pentingnya pengelolaan sampah plastik sekaligus mengasah kreativitas dengan mengubah tutup botol bekas menjadi gantungan hias yang bernilai guna.
Program tersebut diikuti sebanyak 21 siswa dari kelas IV, V, dan VI. Kegiatan diawali dengan sosialisasi mengenai pengelolaan limbah organik dan anorganik serta penerapan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) sebagai upaya membangun kesadaran lingkungan sejak usia dini.
Materi disampaikan oleh penanggung jawab program, Miftah Rahima. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan pentingnya memilah sampah serta memanfaatkan kembali limbah yang masih memiliki nilai guna agar tidak berakhir mencemari lingkungan.
Baca juga:Mahasiswa KKN UNRI Gelar Workshop Guru Kreatif di Inhil, Dorong Kelas Aktif untuk Tingkatkan Berpikir Kritis Siswa
Setelah sesi edukasi, para siswa diajak mempraktikkan langsung pembuatan EcoCharm dengan memanfaatkan tutup botol plastik bekas. Mahasiswa KUKERTA mendampingi setiap kelompok selama proses pembuatan hingga berhasil menghasilkan berbagai bentuk gantungan hias yang kemudian dipamerkan pada akhir kegiatan.
Miftah Rahima mengatakan, program EcoCharm dirancang untuk memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa sampah plastik tidak selalu menjadi limbah yang harus dibuang, tetapi dapat diolah menjadi karya kreatif yang bermanfaat.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak adik-adik memahami bahwa sampah bukanlah sesuatu yang selalu harus dibuang. Tutup botol plastik yang sering dianggap tidak berguna ternyata dapat diubah menjadi karya yang menarik. Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kebiasaan untuk memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta meningkatkan kreativitas siswa sejak dini," ujarnya.
Baca juga:Mahasiswa Kukerta UNRI Edukasi Pemanfaatan Minyak Jelantah Menjadi Lilin Aromaterapi Bernilai Ekonomi di Sungai Geniot
Ketua KUKERTA Universitas Riau, Fariz Dzikri Mayandri, menambahkan bahwa EcoCharm merupakan salah satu bentuk pengabdian mahasiswa kepada masyarakat melalui pendidikan lingkungan yang dikemas secara kreatif dan mudah dipahami oleh anak-anak.
"Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya pada saat sosialisasi, tetapi dapat menjadi kebiasaan baru bagi siswa untuk menjaga kebersihan lingkungan. Melalui kreativitas sederhana, anak-anak dapat belajar bahwa menjaga lingkungan dapat dimulai dari hal-hal kecil di sekitar mereka," kata Fariz.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari Dosen Pembimbing KUKERTA, Dr. Muhammad Yogi Riyantama Isjoni, S.E., M.M. Menurutnya, pembelajaran yang memadukan teori dengan praktik mampu memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna bagi peserta didik.
"Program seperti EcoCharm merupakan bentuk pembelajaran kontekstual yang menghubungkan teori dengan praktik. Anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan tentang pengelolaan sampah, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam mengolah limbah menjadi produk yang bernilai. Kegiatan seperti ini diharapkan mampu membentuk karakter peduli lingkungan sejak usia dini," ungkapnya.
Baca juga:Mengubah Limbah Menjadi Berkah, Mahasiswa Kukerta UNRI Edukasi Warga Desa Sungai Rabit Membuat Lilin dari Minyak Jelantah
Sementara itu, Kepala SDN 013 Sungai Rabit, Sardji, S.Pd., S.D., mengapresiasi inisiatif mahasiswa KUKERTA UNRI yang menghadirkan pembelajaran lingkungan melalui kegiatan kreatif dan aplikatif.
"Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KUKERTA Universitas Riau yang telah menghadirkan kegiatan edukatif dan kreatif di sekolah kami. Anak-anak terlihat sangat antusias mengikuti setiap rangkaian kegiatan. Kami berharap kebiasaan menjaga kebersihan dan memanfaatkan barang bekas dapat terus diterapkan, baik di sekolah maupun di rumah," tuturnya.
Baca juga:Kukerta UR Gelar Festival Anak Sholeh di Desa Sungai Rabit Inhil
Antusiasme para siswa terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Mereka aktif bertanya, berdiskusi dalam kelompok, serta menuangkan kreativitasnya saat merancang gantungan hias dari tutup botol plastik bekas. Selain memperoleh pengetahuan baru mengenai pengelolaan sampah, siswa juga belajar bahwa barang yang dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi produk yang memiliki nilai estetika dan manfaat.