DUMAI, datariau.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Universitas Riau (UNRI) mengajak masyarakat memanfaatkan limbah organik rumah tangga melalui sosialisasi dan praktik langsung pembuatan eco enzyme bersama komunitas PKK Kelurahan Jaya Mukti, Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Jumat (17/7/2026).
Kegiatan yang digelar di Aula Kelurahan Jaya Mukti tersebut diikuti 30 peserta. Para peserta membawa alat dan bahan dari rumah masing-masing, berupa limbah organik dapur seperti kulit buah dan sisa sayuran, serta botol air mineral bekas berukuran 1,5 liter sebagai wadah fermentasi.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya mahasiswa Kukerta untuk memperkenalkan cara sederhana mengolah limbah organik rumah tangga menjadi produk yang memiliki manfaat bagi kebutuhan sehari-hari sekaligus membantu mengurangi volume sampah dapur.
Baca juga:Adakan Sosialisasi Pembuatan Eco-Enzyme, Tim Kukerta UNRI Mendapatkan Respon Baik dari Masyarakat Desa Batu Belah
Eco enzyme merupakan cairan yang dihasilkan melalui proses fermentasi limbah organik dengan campuran gula merah dan air. Cairan hasil fermentasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, seperti pembersih lantai, pencuci piring, pupuk cair tanaman, hingga membantu mengurangi bau pada saluran air.
Pemateri sekaligus penanggung jawab kegiatan, Miranda Sinaga, mengawali kegiatan dengan menjelaskan komposisi bahan yang digunakan dalam pembuatan eco enzyme. Perbandingan bahan yang diperkenalkan kepada peserta yakni satu bagian gula merah, tiga bagian limbah organik, dan sepuluh bagian air.
Setelah mendapatkan penjelasan, peserta kemudian langsung mengikuti praktik pembuatan eco enzyme. Potongan kulit buah dan sisa sayuran dimasukkan ke dalam botol, kemudian ditambahkan larutan gula merah dan air sesuai takaran.
Baca juga:Mahasiswa KKN UNRI Sosialiasi Eco-enzyme di Desa Tanjung Bungo
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Sesi tanya jawab juga berlangsung cukup ramai, terutama mengenai jenis limbah organik yang dapat digunakan serta cara penyimpanan botol selama proses fermentasi.
Miranda menjelaskan, eco enzyme membutuhkan waktu fermentasi sekitar tiga bulan sebelum dapat digunakan. Selama proses tersebut, botol perlu dibuka sesaat secara berkala untuk mengeluarkan gas yang terbentuk selama fermentasi.
"Bahannya ada di dapur setiap hari dan ibu-ibu tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Kulit buah dan sisa sayur yang biasanya langsung dibuang justru jadi bahan utamanya," ujar Miranda.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada praktik bersama, tetapi dapat diterapkan secara mandiri oleh peserta di rumah masing-masing.
"Kalau satu rumah rutin membuat, sampah dapur yang keluar dari lingkungan ini berkurang. Hasilnya juga bisa dipakai sendiri untuk membersihkan rumah dan menyiram tanaman," katanya.
Baca juga:Media Online Tempat Memuat Berita Kukerta, Ribuan Artikel Mahasiswa Tayang di Data Riau
Ketua PKK Kelurahan Jaya Mukti, Harrisa Lestari, menyambut baik kegiatan yang dinilai memberikan wawasan baru kepada para anggota PKK.
"Selama ini kulit buah dan sisa sayuran langsung kami buang begitu saja, padahal ternyata masih bisa diolah jadi cairan yang berguna. Ibu-ibu jadi tahu sampah dapur tidak selalu berakhir di tong sampah," kata Harrisa.
Menurut Harrisa, PKK Kelurahan Jaya Mukti akan mendorong anggotanya untuk melanjutkan praktik pembuatan eco enzyme di rumah masing-masing. Langkah tersebut diharapkan dapat menjadi kebiasaan baru dalam mengelola limbah organik rumah tangga.
Dengan pemanfaatan limbah dapur menjadi eco enzyme, masyarakat tidak hanya dapat mengurangi sampah organik yang dibuang, tetapi juga menghasilkan cairan yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga dan lingkungan.
Rangkaian kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan eco enzyme tersebut ditutup dengan sesi foto bersama mahasiswa Kukerta UNRI dan peserta PKK Kelurahan Jaya Mukti.***