KAMPAR, datariau.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Universitas Riau tahun 2024 yang dibimbing oleh Dr Erni SPd MHum, melakukan kunjungan kepada salah satu objek bersejarah di desa Tanjung Alai yaitu Surau Suluk, sekaligus Makam Syekh H Abdurrahman bin Paduko Lakmano yang memimpin Tariqat Naq Syabandiyah.
Tujuan utama para mahasiswa KKN MBKM ini adalah untuk meneliti sekaligus mewawancarai lebih lanjut mengenai sejarah Surau Suluk, sekaligus perjuangan dari Syekh H Abdurrahman bin Paduko Lakmano dalam menyebarkan Tariqat Naq Syabandiyah ke seluruh pulau Sumatera, bahkan hingga negara lain di Asia Tenggara.
Baca juga: Mengapa Dikit-dikit Bawa Agama? Karena Islam Mengatur Semua Lini Kehidupan Secara Detail
Kunjungan ini merupakan bagian dari program kerja yang telah dirancang oleh kelompok KKN MBKM Universitas Riau 2024 desa Tanjung Alai yang ditujukan untuk pihak-pihak yang terkait pada bidang keagamaan, adat-istiadat, hingga wisata.
Program kerja itu juga bertujuan untuk memperkenalkan sejarah yang terjadi di Surau Suluk sekaligus makam pemimpin dari Tariqat Naq Syabandiyah itu agar masyarakat luar mengetahui akan perjuangannya dalam menyebarkan Tariqat Naq Syabandiyah ke berbagai daerah.
Sehingga, Surau Suluk diharapkan nantinya mendapatkan perhatian lebih dari pihak-pihak terkait agar nantinya Surau Suluk ini lebih baik dari segi fasilitas ataupun jemaahnya.
Kunjungan ini dilaksanakan pada Senin 12 Agustus 2024 pukul 09.30 WIB. Dengan didampingi oleh salah satu perangkat desa Tanjung Alai Feri, Adam dan Reza sebagai pewawancara menjumpai pengurus dari Surau Suluk, yang juga merupakan pemimpin dari Tariqat Naq Syabandiyah, ranji (garis turunan) yang ke-37, yaitu Abuya Syeikh H Mahmudin Tengku Mudo.
“Ini, Syekh Abdurrahman ini adalah orang asli Tanjung Alai, yang dulu belum Tanjung Alai namanya, waktu itu kami terpencar-pencar karena Tanjung Alai ini dulu belum bersatu,” ucap Syeikh H Mahmudin ketika memulai bercerita tentang Syeikh H Abdurrahman.
Baca juga: Etika Dalam Bekerja Menurut Buya Hamka
Kalimat beliau ini mengutarakan bahwa dahulu sebelum menjadi desa Tanjung Alai, banyak suku-suku yang terpencar dan belum bersatu. Sehingga dari suku-suku seperti minang, melayu, dan batak yang ada di satu daerah itu dulu bersatu untuk membentuk Koto Mufakat, yang diberi nama Tanjung Alai.
Mengutip tulisan yang dibuat oleh Aplisman SPdi (Tengku nan Elok) yang merupakan penulisan ulang dari tulisan Abuya Syeikh H Mahmudin Tengku Mudo menjelaskan bahwa Syeikh H Abdurrahman bin Paduko Lakmano lahir di Tanjung Alai sekitar tahun 1240 H atau Tahun 1817 M, saat itu masih pada masa penjajahan Belanda.
Baca juga: Benarkah Menanam Pohon di Makam Meringankan Siksa Kubur?
Syeikh H Abdurrahman bin Paduko Lakmano memulai perjalanannya dalam mendalami ajaran Tariqat Naq Syabandiyah pada umur 17 tahun, yaitu sekitar tahun 1257 H atau 1885 M. Ia dibawa oleh seorang guru agama yang bernama Syeikh Mahmudin.
Kemudian, dari perjalanan bersama gurunya itulah mereka menggunakan sampan untuk berlayar menyusuri Sungai Kampar, dari hilir hingga ke daerah Selat Panjang, berbelok ke Bagan Siapi-api sampai ke Medan Deli, namanya Pungkut.
Di situlah ia diajar mengaji dan memperdalam ilmu Tasawuf selama kurang lebih 36 tahun, lalu mendapatkan kesempatan menunaikan ibadah Haji ke Mekkah.
Di Mekkah Syeikh H Abdurrahman bertemu dengan seorang ulama terkenal dalam Tariqat Naq Syabandiyah Syeikh Ismail di Jabal Hindi, lalu dengan semangat melanjutkan pembelajaran beliau di bidang Tasawuf selama kurang lebih 11 tahun di Mekkah bersama guru barunya itu sekitar tahun 1293 H - 1304 H atau 1867 M - 1878 M.
Baca juga: Hukum Memajang Foto di Dinding
Setelah sekian lama menimba ilmu, tepat pula pada tahun 1304 H, Syeikh H Abdurrahman kembali pulang ke Pungkut terlebih dahulu, untuk meminta restu dari gurunya karena ingin menjadi Mursyid dan mengembangkan ilmu Tariqat Naq Syabandiyah di tanah tumpah darahnya, Tanjung Alai. Gurunya pun memberinya izin karena ilmu yang sudah didapatkan selama bertahun-tahun di Pungkut, dan di Mekkatul Mukarramah.
Sampainya di Tanjung Alai, ia membina sebuah mushalla atau surau yang dijadikan sarana pengembangan ilmu, tempat latihan jasmani, serta memperkuat rohani, masyarakat disana menyebutnya “bersuluk”.
Baca juga: Begini Niat Ziarah Kubur Sesuai Dalil Shahih
Surau ini dahulunya tidak bertempat di Tanjung Alai karena dahulunya surau suluk mengalami pemindahan hingga 4 kali, yang dimana hal tersebut terjadi akibat dampak dari geografi, ulah hewan liar, hingga ulah manusia.
Pada tahun 1413 H atau 1993 M dibangunlah Surau Suluk di desa Tanjung Alai, hasil pemindahan terakhir dari desa lama Tanjung Alai, sebelum tenggelam di danau hasil dari bendungan PLTA Koto Panjang.
Bertepatan pada 9 Syawal tahun 1333 H, Syeikh H Abdurrahman bin Paduko Lakmano dipanggil menghadap Allah, wafat pada usia 93 tahun.
Ia dikuburkan di Mikrat Musholla beliau, yang di sana dikenal oleh penduduk desa dengan istilah “Jirad”.
Baca juga: Hikmah Kisah Nabi Daniel, Kuburnya Sengaja Disembunyikan dan Diratakan Cegah Kesyirikan
Maka setiap tanggal 9 Syawal mesayarakat di desa Tanjung Alai mempringati wafatnya beliau yang dikenal dengan “Haul Syeikh H Abdurrahman bin Paduko Lakmano”.
Peringatan Haul ini tidak hanya didatangi oleh warga penduduk desa Tanjung Alai saja, bahkan seluruh daerah yang mengenang besarnya jasa beliau dalam mengembangkan dan membina ilmu Tariqat Naq Syabandiyah datang ke peringatan Haul tersebut, seperti jemaah dari Sumatra Barat hingga Aceh.
Baca juga: Waspada Berbagai Perbuatan Syirik di Sekitar Kita !
Turut menjadi perhatian mahasiswa KKN MBKM UNRI khususnya setelah mengetahui sejarah dan perjuangan dari Syeikh H Abdurrahman bin Paduko Lakmano serta bagaimana Surau Suluk ini menjadi tempat menimba ilmu dan berlatih oleh para masyarakat desa dari semenjak lama sekali, untuk seharusnya diberi perhatian lebih dari pihak-pihak terkait.***