Etika Dalam Bekerja Menurut Buya Hamka

Admin
310 view
Etika Dalam Bekerja Menurut Buya Hamka
Ilustrasi. (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Etika merupakan perlakuan yang dilakukan individu berlandaskan akal dan ilmu yang diperolehnya. Menurut Buya Hamka, akal dan ilmu saling berkaitan karena tidak akan tercapai ilmu kalau tidak ada akal. Sebab itu Islam adalah agama ilmu dan akal.

Buya Hamka mengutip adagium "Diketahui laba rugi suatu pekerjaan sebelum masuk kepadanya, ditelungkup ditelentang. Berjalan menghadap surut, berkata sepatah dipikirkan. Berlayar menghadang pulau, berjalan menghadang batas. Kaki teracung inai obatnya, Mulut terlanjut emas dendanya."

Adagium yang disampaikan oleh Buya Hamka sangat bermanfaat bagi kita dalam kehidupan sehari-sehari, termasuk dalam bekerja.

Pekerjaan yang baik mencakup kebenaran, keadilan, berfaedah dan timbul rasa wajib saat diberi tanggungjawab. Hendaknya dalam bekerja, memahami kelebihan dan kekurangan kita saat akan bekerja, serta pentingnya etika dalam bekerja. Etika dalam kehidupan termasuk dalam bekerja bisa dimulai dari membersihkan iktikad, memperkuat ibadah, memperluas budi pekerti, lalu mengatur pergaulan hidup sesama manusia dan penghidupan, memajukan perniagaan dan perusahaan.

Selain itu, Buya Hamka juga menjelaskan pentingnya keutamaan ilmu dalam kehidupan sehari-hari termasuk dalam bekerja yaitu; Pertama, tidak salah lagi kalau ilmu harus lebih dahulu dari amal, yaitu bekas yang terlukis di otak orang yang berilmu itu di dalam perkara yang telah diketahuinya. Ibarat seorang profesi pelukis yang hendak memulai melukis gambarannya, lebih dahulu telah ada rupa gambar itu diotaknya, barulah dilukisnya.

Kedua, pada suatu hari Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam masuk ke masjid dan didapati oleh Rasulullah dua kaum yang sedang berkumpul di majelis masing-masing, majelis pertama sedang berzikir dan majelis kedua sedang memperdalam ilmu fiqih. Lalu, beliau berkata, bahwa kedua majelis tersebut disukai oleh Rasulullah karena mengingat kepada Allah Subahanahu wa Ta'ala.

Pada penjelasan Buya Hamka dalam bukunya ini, pentingnya ilmu rohani dan pemahaman yang mendalam mengenai bidang ilmu apapun agar kita memperoleh keuntungan bagi diri kita sendiri tentunya.

Ketiga, Al-Qur'an menjelaskan bahwa ilmu yang diberikan Allah kepada hamba-Nya hanya sedikit, walaupun abad kedua satu ini dinamai abad ilmu pengetahuan, namun Henry Foincare menjelaskan bahwa ilmu yang didapat manusia sekarang ini, barulah laksana beberapa butir lokan mutiara yang dibongkar ombak dari dasar laut diantarkannya ke tepi. Itulah yang diperebutkan bersama-sama. Ilmu akan tetap tersimpan, oleh sebab itu kita sebagaimana terus menggali ilmu untuk keselamatan kita di dunia dan di akhirat.

Buya Hamka juga menjelaskan dalam bukunya bahwa amat jarang orang yang memikirkan kepentingan mengatur atau merencanakan perkejaan yang dihadapi, sehingga kaca-balau pekerjaan setiap hari. Kadang-kadang orang yang profesional pun tidak puas akan penyakit ini. Kalau sekiranya orang membiasakan membuat perencanaan pekerjaan setiap harinya, serta telah mengikuti aturan dan keputusan yang telah dibuat sendiri, maka kelemahan kita tidaklah akan ada, karena susunan rancangan pekerjaan akan memudahkan jalan menuju kesuksesan.

Hendaklah perencanaan pekerjaan yang kita hadapi sesuai dengan kondisi badan. Selama kita menggunakan semboyan, "tidak melebihi kekuatan sendiri, serta sudi menyesuaikan pekerjaan apa saja yang cocok dengan tabiat manusia", maka selama itu pula kita wajib menjaga pekerjaan supaya sesuai dengan kekuatan. Pekerjaan hendaklah berlawanan dengan kewajiban.

Untuk mencapai itu hendaklah kita perhatikan benar keadaan diri sendiri dan budi pekerti sendiri. Kita hitung langkah dan kita tilik dimanakah ujung perhentian yang cocok buat kita. Orang yang akan beroleh kemenangan dalam suatu pekerjaan ialah orang yang mengukur bajunya sesuai dengan tubuhnya. Seseorang yang kecenderungan dirinya jadi wartawan misalnya, tidaklah akan jaya kalau ia jadi tentara dan pergi bertempur.

Di medan perang ia tidak akan dijadikan seorang panglima, dia hanya jadi pengikut, karena sebenarnya bukan di sana medan perjuangannya. Medannya bukan lapangan hijau berumput berbatu-batu, tetapi lapangan keras yang putih bersih. Meskipun ia ke medan perang setingginya hanya jadi wartawan perang, dalam bagian administrasi.

Segala pekerjaan itu tidak ada yang rendah dan hina. Hinanya pekerjaan atau mata pencaraian ialah lantaran hinanya perangai ketika mengerjakannya. Sudah pernah kejadian seorang pekerja di dalam memimpin suatu pergerakan, dia di sana tidak dapat maju ke muka benar. Dia selalu berada di barisan kedua, bukan dibarisan pertama, dia tidak dapat diikat oleh disiplin perserikatan, sebab ia selalu merasa bebas sendiri. Disiplin perserikatan amat berlawanan dengan itu. Syukurlah ia sadar lalu meninggalkan perserikatan dan pergi ke dunia perserikatan yang cocok dengannya yaitu dunia pengarang. Disitulah dia baru beroleh sukses. Maka alangkah ruginya masyarakat kalau sekiranya ia tidak lekas sadar, tentu akan tersembunyi suatu kekuatan yang pada hakikatnya memang perlu.

Sebab itu, apapun pekerjaan di dunia adalah bagus, berfaedah, karena masyarakat itu akan lemah dengan sendirinya kalau hati orang yang terpusat kepada satu tujuan saja. Cuma yang harus dijaga ialah budi ketika menghadapinya, tetapi janganlah lupa manusia kadang salah, sebab manusia itu memang selalu ditentang oleh kesalahan. Janganlah kita ragu akan kemampuan diri kita sendiri, berusaha lah untuk menggali potensi diri dengan bekerja sesuai kemampuan kita.

Dari penjelasan yang disampaikan oleh Buya Hamka, baiknya kita memiliki akal dan ilmu yang baik, dan selalu menggali potensi diri sehingga kita dapat bekerja dengan baik, dapat mempertanggungjawabkan pekerjaan kita kepada perusahaan serta mempertanggungjawabkan pekerjaan kepada Allah. Oleh sebab itu "Hidup jangan sembarang hidup, babi di hutan hidup juga dan jangan pula bekerja sekedar bekerja karena kera juga bekerja".

Penyusun: Roby Algi Setiawan (Mahasiswa Universitas Muhammdiyah Riau)
Dosen Pengarah: Agustiawan SE MSc Ak


Sumber Artikel:
Prof Dr Hamka Falsafah Hidup (1940). Republika. Cetakan 1, April 2015.
Prof Dr Hamka (1939). Tasawuf Modern. Republika. Cetakan 1, Maret 2015.