Mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI Beri Penyuluhan Pengendalian Hama Kelapa Sawit untuk Tingkatkan Produktivitas Petani Sungai Lala

datariau.com
103 view
Mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI Beri Penyuluhan Pengendalian Hama Kelapa Sawit untuk Tingkatkan Produktivitas Petani Sungai Lala
Foto bersama mahasiswa KUKERTA dengan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Bapak Irfandri, S.P., M.Si., usai kegiatan penyuluhan (Sumber Dokumentasi Tim KUKERTA)

INDRAGIRI HULU, datariau.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Berdampak Universitas Riau (UNRI) Membangun Kampung 2026 menggelar penyuluhan pertanian bertajuk “Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit melalui Identifikasi dan Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman pada Perkebunan Rakyat di Kecamatan Sungai Lala”, Minggu (19/7/2026), di Gedung Serbaguna Desa Pasir Bongkal, Kecamatan Sungai Lala, Kabupaten Indragiri Hulu.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mahasiswa KUKERTA dalam mendukung peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat melalui edukasi mengenai identifikasi dan pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Penyuluhan diikuti oleh perwakilan kelompok tani sawit rakyat, perangkat desa, RT, RW, Kepala Suku Pasir Bongkal, serta perwakilan dari Desa Perkebunan Sei Parit, Desa Kuala Lala, dan Desa Sungai Air Putih.

Kepala Desa Pasir Bongkal, Marzani, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada mahasiswa KUKERTA UNRI yang telah menghadirkan kegiatan edukatif bagi masyarakat. Ia berharap penyuluhan tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi petani dalam mengatasi berbagai persoalan yang dihadapi di lapangan.

"Kami mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KUKERTA Universitas Riau yang telah memilih Desa Pasir Bongkal sebagai lokasi kegiatan ini. Semoga ilmu yang diberikan dapat diterapkan oleh para petani sehingga hasil perkebunan kelapa sawit semakin meningkat," ujarnya.

Baca juga:Mahasiswa Kukerta Berdampak UNRI Ajarkan Daur Ulang Limbah dan Budaya Menabung kepada Siswa SDN 43 Bengkalis


Sebelum materi dimulai, seluruh peserta mengikuti pre-test untuk mengukur tingkat pemahaman awal mengenai hama dan penyakit tanaman kelapa sawit. Materi penyuluhan kemudian disampaikan oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KUKERTA Kecamatan Sungai Lala, Irfandri, S.P., M.Si.

Dalam pemaparannya, Irfandri menjelaskan berbagai jenis hama dan penyakit utama yang kerap menyerang tanaman kelapa sawit rakyat, seperti penyakit busuk pangkal batang akibat jamur Ganoderma, busuk tandan, serangan ulat api, hingga kumbang tanduk. Ia juga menjelaskan cara mengenali gejala serangan sejak dini beserta strategi pengendalian yang efektif.

Suasana penyuluhan semakin interaktif saat memasuki sesi diskusi. Salah seorang petani mengeluhkan tingginya pertumbuhan gulma di lahan rawa yang mendominasi wilayah mereka dan menanyakan jenis herbisida yang paling efektif digunakan.

Baca juga:Mahasiswa KKN FBN UNRI Serahkan Komposter untuk Dukung Pengelolaan Sampah Organik di Rumbai Bukit


Menanggapi pertanyaan tersebut, Irfandri menjelaskan bahwa karakteristik lahan rawa yang memiliki kelembapan tinggi menyebabkan gulma tumbuh lebih cepat dibandingkan lahan mineral.

Menurutnya, herbisida kontak memang mampu membunuh gulma dengan cepat, namun hanya pada bagian tanaman yang terkena semprotan sehingga gulma lebih mudah tumbuh kembali. Sementara herbisida sistemik bekerja lebih lambat karena harus diserap hingga ke akar, tetapi memiliki efektivitas yang lebih lama.

"Untuk efisiensi jangka panjang, herbisida sistemik lebih disarankan karena mampu menekan pertumbuhan kembali gulma dalam waktu yang lebih lama sehingga dapat menghemat frekuensi penyemprotan dan biaya tenaga kerja," jelasnya.

Baca juga:Mahasiswa KUKERTA UNRI Kenalkan Akuaponik Berbasis Ember Bekas untuk Perkuat Ketahanan Pangan di Desa Marsawa


Diskusi kemudian berlanjut dengan pertanyaan dari tokoh masyarakat petani Sungai Lala mengenai waktu terbaik melakukan penyemprotan pestisida dan pemupukan, serta penanganan serangan kumbang tanduk dan pelepah patah pada Tanaman Belum Menghasilkan (TBM).

Irfandri menyarankan agar penyemprotan maupun pemupukan dilakukan pada pagi hari mulai pukul 06.00 hingga maksimal pukul 10.00 atau sore hari mulai pukul 15.00 menjelang malam. Ia mengingatkan petani untuk menghindari penyemprotan pada siang hari karena suhu yang tinggi menyebabkan bahan kimia cepat menguap sebelum terserap secara optimal oleh tanaman.

Selain itu, ia memaparkan sejumlah langkah pengendalian kumbang tanduk pada tanaman muda, mulai dari sanitasi kebun dengan membersihkan batang lapuk yang menjadi tempat berkembang biak kumbang, pemasangan perangkap feromon, penggunaan jaring pelindung pada pucuk tanaman, penanaman Legume Cover Crop (LCC), hingga aplikasi insektisida butiran pada ketiak pelepah muda.

Baca juga:Mahasiswa Kukerta UNRI Luncurkan Website Potensi Desa Ngaso, Dorong Digitalisasi dan Promosi UMKM


Sementara untuk gejala pelepah patah menggantung yang mengarah pada serangan jamur Ganoderma, Irfandri menegaskan pentingnya pemantauan sejak tahap pembibitan. Tanaman yang telah terinfeksi harus segera diisolasi dan dimusnahkan agar penyebaran spora jamur tidak meluas ke tanaman sehat lainnya.

Di akhir kegiatan, seluruh peserta kembali mengikuti post-test untuk mengetahui peningkatan pemahaman setelah mengikuti penyuluhan. Hasil evaluasi tersebut diharapkan menjadi indikator keberhasilan transfer pengetahuan kepada para petani.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)