Vaksinasi: Iya atau Tidak?

Ruslan
1.474 view
Vaksinasi: Iya atau Tidak?
Foto: Rahmadi
Rahmadi, Anggota Badan Eksekutif Mahasiswa UIN Suska Riau Tahun 2019 dengan Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau.

DATARIAU.COM - Pandemi Covid-19 adalah wabah yang sangat mematikan yang telah dikategorikan dalam pandemi mendunia oleh World Health Organization (WHO) sejak tanggal 11 maret 2020.

Sedangkan di Indonesia penularan covid-19 telah ditetapkan sebagai bencana nasional melalui keputusan presiden No.12 tahun 2020 pada tanggal 13 april 2020. Covid 19 berasal dari kota Wuhan Cina.

Dimana virus ini pertama kali ditemukan pada warganya yang menampakkan gejala demam tinggi, batuk, mengalami sesak nafas, berkurangnya indra perasa dan penciuman. Sekarang virus ini menyebar keseluruh dunia dan menjadi ancaman yang mematikan bagi seluruh negara.

Vaksinisasi

Vaksinisasi atau imunisasi merupakan prosedur pemberian suatu antigen penyakit, biasanya berupa virus atau bakteri yang dilemahkan atau sudah mati, bisa juga hanya bagian dari virus atau bakteri.

Tujuannya adalah untuk membuat sistem kekebalan tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut.

Sebenarnya, sistem kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit bisa terbentuk secara alami saat seseorang terinfeksi virus atau bakteri penyebabnya.

Namun, infeksi virus Corona memiliki risiko kematian dan daya tular yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan cara lain untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, yaitu vaksinasi.

Seluruh jenis vaksin Covid-19 yang digunakan dalam program vaksinasi nasional dipastikan aman, berkhasiat dan minim efek samping. Namun, dalam penggunaannya memang ditemukan berbagai laporan efek samping dan pemerintah meminta masyarakat tidak khawatir.

Pemerintah memberikan berita atau tanggapan bahwa vaksin yang diberikan pada masyarakat untuk melindungi diri dari Covid-19 itu aman dan minim efek samping. Namun yang sama-sama kita perhatikan banyak masyarakat yang meninggal setelah divaksin.

Sehingga menimbulkan banyak argumen yang mengatakan bahwasanya vaksin yang diberikan pemerintah tidak bisa membuat kebal terhadap Covid-19 melainkan dapat membahayakan masyarakat.

Buktinya saja banyak terjadi pada lansia yang memiliki resiko yang sangat besar terpapar Covid-19 sehingga yang banyak mengalami kematian adalah para lansia.

Ketika terjadinya vaksinisasi semua orang harus divaksin tanpa terkecuali. Namun tidak sedikit juga yang mengalami kematian setelah di vaksin atau mengalami hal lain nya yang berefek samping buruk, seperti timbulnya bintik-bintik merah pada tubuh orang yang di vaksin tersebut.

Faktanya, Gugus Tugas menyebutkan, 10,7% kasus terkonfirmasi positif Covid 19 menyerang kalangan lansia di atas 60 tahun, bahkan kelompok usia ini mencatat 48,8% kasus pasien meninggal dunia akibat Covid-19, dan menjadi kelompok usia dengan jumlah kasus meninggal dunia terbesar dibandingkan kelompok usia lainnya.

Dari total 37.154 pasien Covid 19 yang meninggal di Indonesia hingga 6 Maret 2021, sebanyak 18.131 adalah lansia. Artinya lansia memerlukan perhatian khusus agar terlindung dari berbagai risiko Covid-19. Salah satu caranya adalah dengan menjaga nutrisi harian serta pemberian vaksin bagi lansia.

Sekarang ini vaksin sudah sampai ke pelosok negeri sehingga hampir semua daerah di Indonesia akan selesai divaksin. Namun tidak sedikit juga di daerah-daerah tertentu ada juga masyarakat yang masih teguh pendiriannya untuk tidak mau divaksin.

Dilansir dari BBC, survei nasional oleh Kementerian Kesehatan RI melaporkan Aceh dan Sumatera Barat menjadi dua provinsi dengan jumlah penolak vaksin terbanyak di Indonesia. Persentase masyarakat Aceh yang mau divaksinasi sebesar 46 persen, sementara Sumatera Barat berjumlah 47 persen.

Bahkan, Kepala Dinas Kesehatan Aceh, Hanif, sampai mengatakan kampanye vaksinisasi Covid-19 jauh lebih susah dibanding proses distribusi dan penyimpanan vaksin.

Lebih dari 50 persen dari Aceh dan Sumatera Barat masyarakatnya tidak mau divaksin, ada beberapa hal yang mengakibatkan sebagian masyarakat tidak mau divaksin, diantaranya adanya isu atau keyakinan masyarakat setempat bahwa Covid-19 itu tidak ada.

Walaupun kita tau vaksin ini juga berefek samping namun pemerintah mengatakan efek samping dari divaksin hanyalah efek samping yang minim atau yang sewajarnya saja, sehingga pemerintah dan seluruh jajaran kesehatan meminta untuk dilakukannya vaksinisasi di seluruh Indonesia.

Tapi pada saat ini kita melihat orang yang sudah divaksin bukan berefek samping yang minim tetapi berefek samping yang bisa dikatakan harus di hindari, karena efek samping yang ditimbulkan vaksin ini berupa demam tinggi, timbulnya bintik-bintik merah pada tubuh dan ada juga saat ini yang memberitakan bahwasanya sebelum di vaksin baik-baik saja dan setelah divaksin tubuhnya mengalami lumpuh sebelah.

Gracia Ivonika, M P Si Psikolog, berpendapat, orang-orang yang saat ini apatis terhadap vaksin bisa saja dipengaruhi oleh beragam faktor. Terlebih, vaksin Covid-19 ini sesuatu yang sangat baru.

Berusaha agar orang-orang tidak menolak vaksin Covid-19 memang harus dilakukan. Namun, tidak perlu sampai terjadi pertengkaran dengan orang yang kontra. Intinya tergantung pada pola pikir masing-masing masyarakat pandangannya terhadap vaksinisasi apakah mau divaksin atau tidak. Sebagai pemerintah sudah kewajiban untuk memberitahukan kepada rakyatnya mana yang terbaik, karena vaksinisasi bukan hal yang main-main karena bersangkutan dengan banyak nyawa manusia. (*)

*Penulis merupakan mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia UIN Suska Riau.

Penulis
: Rahmadi
Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)