Radar Tri Baskoro, Pengamat Sosial Politik

PPKM Awal Kejatuhan Rejim Jokowi & Pandemi dalam Sorotan Teori Chaos

Ruslan
3.031 view
PPKM Awal Kejatuhan Rejim Jokowi & Pandemi dalam Sorotan Teori Chaos
Foto: Net

DATARIAU.COM - Para ahli teori sistem mengatakan bahwa pandemi adalah salah satu contoh dari sistem yang berada dalam situasi chaos. Chaos adalah sistem yang bekerja berdasarkan prinsip "kepakan sayap kupu-kupu di hutan Amazon bisa menyebabkan tornado di Texas". Hanya perlu input yang sangat kecil untuk menghasilkan output yang dahsyat luar biasa. Edward Lorentz peletak dasar teori chaos, menyebut fenomena tersebut butterfly effect.

Pandemi Covid-19 ini beroperasi layaknya butterfly effect. Di Cina, sembilan orang makan di bawah semburan AC suatu restoran, kesembilan orang itu positif Covid-19, padahal mungkin cuma satu orang carriernya. Di Washington, seseorang dengan Covid-19 mengikuti latihan paduan suara, dan esoknya separuh anggota paduan suara itu jatuh sakit. DI Korea Selatan seorang lelaki 29 tahun, carrier, mengunjungi sebuah night club dan ia kemudian terkait dengan 54 kasus baru Covid-19.

Hanya butuh satu orang pada 20 bulan lalu untuk menginfeksi 200 juta dan membunuh 4,2 juta orang di seluruh dunia sekarang ini. Hal kecil mempengaruhi begitu banyak. Bila AC di restoran dimatikan, mungkin tidak ada yang tertular. Andai jadwal latihan diundurkan, carrier itu mungkin sudah merasa sakit sehingga akan tinggal di rumah atau pergi ke rumah sakit. Pemuda Korea itu sebaiknya memilih menonton TV di rumah ketimbang menari di klub malam. Butterfly effect!

Secara matematika fenomena chaos mudah ditandai karena perilakunya direpresentasikan oleh pertumbuhan eksponensial, sebuah kurva logistik, seperti huruf J. Andrew dan Strigul (2021) menunjukkan bagaimana sejumlah parameter dalam pandemi Covid-19, seperti total kasus, jumlah kasus harian, jumlah kasus per kapita, dll, membentuk kurva J dari waktu ke waktu.

Salah satu implikasi daripada sistem yang chaotic adalah sulitnya meramalkan keadaan. Hubungan sebab-akibat tidak jelas dan tidak linier. Suatu sebab di kesempatan lain bisa menjadi akibat, begitu pula sebaliknya.

Di suatu kota boleh jadi Covid-19 nampak sangat ganas, tetapi di kota lain wabah yang sama mudah dikendalikan.

Apa yang membedakan keduanya? Sebagian orang berdalih itu lantaran kebijakan, sebagian lagi bilang disebabkan demografi (orangtua lebih mudah tertular), sebagian lain karena cuaca (virus sulit hidup di wilayah tropis), atau ras (orang kulit putih lebih mudah terinfeksi), kesenjangan sosial (orang kaya lebih terlindung). Atau bisa saja pembedanya sekadar keberuntungan. Begitulah chaos, sulit dipastikan, sulit diramalkan.

Chaos adalah bagian yang fundamental dari dunia kita. Bukan kesalahan kita kalau kita tidak tahu kemana chaos pergi. Kita tidak tahu kapan dan dimana wabah itu merebak, dan seberapa parah. Tetapi itu tidak berarti kita tidak punya pengetahuan tentang chaos. Chaos menguasai tetapi tidak berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa.

Para ilmuwan mengetahui bahwa virus corona menyebar melalui droplet (sekarang ada bukti bahwa virus itu bisa menginfeksi melalui udara, aerosol). Maka penularan bisa dicegah melalui menjaga jarak (droplet dari nafas dan pembicaraan tidak bisa mencapai jarak lebih dari 1 meter).

Ilmuwan juga tahu bahwa virus menyerang saluran pernafasan, karena itu masker bisa melindungi. Virus corona diketahui memiliki masa inkubasi 14 hari, karena itu seorang yang telah diisolasi sepanjang waktu inkubasi tanpa menunjukkan gejala dapat dinyatakan terbebas dari virus.

Lebih dari itu semua, para ilmuwan menemukan bahwa virus bisa dibunuh oleh antibodi yang diproduksi oleh tubuh manusia. Asalkan tubuh manusia bisa diajari untuk mengenal keberadaan virus dan memproduksi antibodi untuk membunuhnya, virus bisa dimusnahkan. Pengetahuan itu melahirkan ide tentang vaksin.

Bahwa faktor-faktor fisik tertentu bisa membatasi perilaku virus, menjadikan virus itu tidak sepenuhnya acak atau chaotic. Sistem dengan sifat sedemikian itu disebut deterministic chaos. Dengan memahami sifat-sifat itu maka orang bisa berjaga-jaga dari penularan, mencegah akibat yang parah atau mengobati infeksinya.

Artinya, walau dalam situasi chaos orang, kelompok, apalagi pemerintah masih bisa membuat perencanaan. Dalam pandemi, berlaku adagium: semakin cepat, semakin tegas, semakin baik. Dua contoh bisa dikemukakan, yaitu Cina dan Vietnam. Kedua negara tersebut bereaksi sangat cepat, Cina telah mengunci Wuhan pada tanggal 23 Januari 2020, tidak boleh ada warga Wuhan boleh meninggalkan rumah bila tidak ada keperluan sangat mendesak.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)