Optimalisasi Keamanan Pangan dengan Pengendalian Food Loss and Waste dan Inovasi Pangan

datariau.com
1.451 view
Optimalisasi Keamanan Pangan dengan Pengendalian Food Loss and Waste dan Inovasi Pangan

DATARIAU.COM - Keamanan pangan merupakan isu yang sangat kompleks dan termasuk ke dalam 3 dari 17 pokok dalam program Sustainable Development Goals (SDGs) 2045 di masa yang akan datang. Indonesia berkomitmen untuk pencapaian target mengenai kesejahteraan dan pelestarian alam bagi masyarakat akan terpenuhi pada tahun 2030.

Dalam proses pencapaian keamanan pangan, kita harus mewaspadai isu tantangan krisis pangan dan lingkungan yang berkontribusi besar dalam penurunan kualitas hidup. Adanya program Revolusi Industri 4.0 diharapkan mampu membantu mewujudkan pemulihan ekosistem, penguatan sumber daya manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, serta mensejahterakan produksi pangan hingga mampu menembus perdagangan asing.

Peran masyarakat Indonesia yang paling nyata dalam mendukung perwujudan komitmen tersebut adalah menjadi penggerak aktif. Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan menjalani proses peningkatan dan pendalaman ilmu pengetahuan sebagai mahasiswa pascasarjana dalam bidang pangan. Satu dari sekian banyak institusi di Indonesia, IPB University merupakan wadah dan creator terbaik dalam menghasilkan kualitas sumber daya manusia yang lebih bermutu.

IPB University sebagai salah satu brainstorming juga turut andil dan berkontribusi dalam mencetuskan konsep Agro-Maritim 4.0 untuk pensejahteraan masyarakat. Perkembangan zaman yang semakin canggih telah menciptakansuatu teknologi digital yang mendukung Agro-Maritim 4.0 untuk penurunan ketimpangan pembangunan antar wilayah di Indonesia.

Langkah kecil dari seorang scientist dalam mengaplikasikan ilmu di sektor pangan secara sistematik dan terintegrasi adalah dengan pengelolaan isu food loss and waste. Dampak dari food loss and waste berkaitan dengan penurunan kuantitas pangan, dimana food loss terjadi di tiga tahap pertama (produksi, pasca panen dan penyimpanan, serta pemrosesan dan pengemasan), sedangkan food waste terjadi di dua tahap terakhir (distribusi dan pemasaran, serta konsumsi).

Dalam rentang waktu tahun 2000-2019, food loss cenderung menurun (61% menjadi 45%) dengan rerata 56%, sementara food waste cenderung naik (39% menjadi 55%) dengan rerata 44%. Hal ini menunjukkan Indonesia menghasilkan food waste and loss selama 20 tahun terakhir mencapai 115-184 kg per kapita setiap tahun.

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2014), angka sebesar itu seharusnya

mampu memenuhi kebutuhan energi sekitar 61-125 juta rerata orang Indonesia (29-74% populasi Indonesia). Klaim Indonesia sebagai negara penghasil food loss and waste terbesar kedua di dunia, diperkirakan mencapai 300 kg per kapita setiap tahun.

Didukung data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Indonesia, di tahun 2018 terdapat 44% sampah di Indonesia merupakan limbah pangan. Berdasarkan kajian Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (2021), terdapat 5 sektor pangan dan 11 kategori pangan sebagai hotspot penghasil food loss and waste.

Diketahui sektor perikanan menduduki peringkat kedua (23,40%), sedangkan kategori ikan berada di peringkat kelima (29,9%) dalam menyumbangkan food loss and waste. Sektor perikanan dengan kategori ikan merupakan identitas budidaya pontensial dari Provinsi Riau, terutama Kabupaten Kampar melalui ikan patin (Pangasisus hypophthalmus).

Ikan patin tidak hanya dibudidaya saja, akan tetapi sudah dikembangkan hingga pengolahannya. Olahan ikan patin ini menghasilkan food loss and waste yang berpotensi untuk dimanfaatkan. By-product dari ikan patin diperoleh dalam jumlah cukup besar sekitar 3-5 ton per hari (Rodiah et al. 2016) dengan produksi ikan patin mencapai 10-15 ton per hari, mencakup kepala, kulit, tulang, lemak abdomen, jeroan, dan hasil perapian (trimming).

Penelitian Ayu et al. 2019 menunjukkan bahwa by-product memiliki sumber asam tidak lemak jenuh (63,70%) dengan perbandingan omega-3, omega-6, dan omega-9 adalah 1:10:20. Omega-6 dilaporkan sebagai asam lemak esensial mampu memelihara membran sel serta menjaga keseimbangan kolestrol, sedangkan omega-9 sebagai asam lemak non esensial mampu menurunkan kolestrol jahat (LDL) dengan meningkatkan kolestrol baik (HDL) dalam darah (Kamini et al. 2016).

Pengoptimalan efektivitas pada by-product ikan patin adalah dengan mengekstraksinya menjadi minyak ikan. Upaya mengkomersialkan minyak ikan tentunya telah meningkatkan nilai tambah dari food loss and waste ikan patin. Diketahui dengan 76 kg minyak ikan murni memiliki nilai Rp 152.000.000 per hari atau sejumlah Rp 3,8 milyar per bulan.

Selain dari tindakan pengendalian food loss and waste yang mampu menurunkan tingkat kerusakan ekosistem, aplikasi ekstraksi by-product menjadi minyak ikan juga berdampak mengurangi jumlah kemiskinan dengan tingginya produktivitas kerja sebagai nilai tambah, bahkan menciptakan penyempurnaan aspek ketahanan pangan melalui ketersediaan dan pemanfaatan pangan.

Disusun oleh: Allecya Tri Elisabeth Sihombing (Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Pangan IPBUniversity)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)