DATARIAU.COM - Sebuah kisah memilukan datang dari Kampung Padangenyang, Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Dikutip dari Tribunnews.com (28/8/2025), balita tersebut bernama Raya, putri dari pasangan Udin (32) dan Endah (38), harus meregang nyawa akibat menderita cacingan akut.
Peristiwa meninggalnya Raya (4), akibat infeksi cacing gelang yang telah menjalar ke organ vital, menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Kisah Raya yang ramai diperbincangkan di media sosial usai dibagikan oleh sebuah yayasan kemanusiaan bukan sekadar duka satu keluarga. Ia mencerminkan kenyataan pahit ribuan anak lain yang masih hidup dalam kondisi memprihatinkan di berbagai pelosok negeri.
Dikutip dari Beritasatu.com (28/8/2025), Raya berasal dari keluarga miskin dengan kondisi orang tua yang juga memiliki keterbatasan mental. Rumah mereka pernah hancur sebelum akhirnya diperbaiki warga. Dalam kesehariannya, Raya kerap bermain di kolong rumah panggung yang kotor dan penuh kotoran ayam, hingga akhirnya penyakit masuk ke tubuhnya.
Pada 13 Juli 2025, ia dievakuasi ke rumah sakit oleh Rumah Teduh. Namun, Proses perawatan terhambat karena tidak memiliki identitas jelas, kartu keluarga, maupun BPJS. Rumah sakit memberi tenggat waktu untuk melakukan melengkapi berkas, tetapi hingga batas habis, persyaratan tidak juga terpenuhi. Akibatnya, biaya pengobatan harus ditanggung sendiri, dan dalam sembilan hari tagihan mencapai puluhan juta rupiah. Pada tanggal 22 Juli 2025, Raya pun meninggal dunia, Beritasatu.com (28/8/2025).
Dari kisah Raya ini, dapat dilihat bagaimana respons dari pejabat dan pihak terkait yang beru menindaklanjuti kasusnya setelah ramai diperbincangkan publik. Pada laporan Kumparan.com (23/8/2025), Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan bahwa penyebab kematian Raya bukan disebabkan oleh cacing gelang melainkan akibat infeksi berat yang berujung pada sepsis.
Budi menegaskan untuk tidak terjadi kasus yang sama, ia mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan program cek Kesehatan Gratis dari pemerintah. Termasuk skrining penyakit menular seperti TBC dan infeksi cacing.
Kasus Raya mencerminkan rapuhnya pelayanan kesehatan di Indonesia yang belum mampu menjamin hak rakyat, termasuk anak-anak. Sistem kesehatan yang ada lebih bayak terjebak pada formalitas dan prosedur rumit, sehingga sulit diakses masyarakat miskin.
Negara juga tampak abai melindungi rakyat lemah, membiarkan mereka hidup dalam kondisi buruk dan lingkungan tidak sehat. Situasi ini tidak lepas dari penerapan sistem kapitalisme, hanya mereka yang memiliki privilege dapat memperoleh layanan kesehatan layak, sementara rakyat kecil terus menderita tanpa kepedulian terhadap nasibnya.
Dalam Islam, kesehatan adalah tanggung jawab utama negara sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) yang wajib dijamin melalui penyediaan layanan kesehatan terbaik, gratis, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, sebagaimana pernah diterapkan dalam sistem Khilafah.
Negara juga memiliki kewajiban untuk menjamin kesejahteraan dan menyantuni kelompok kurang mampu. Di tingkat masyarakat, nilai-nilai Islam memupuk kepedulian dan solidaritas sosial. Setiap muslim didorong untuk aktif membantu tetangga atau saudaranya yang sedang mengalami kesulitan, sehingga tercipta kondisi sosial yang terjaga dan terlindungi, Muslimahnews.net (28/8/2025). Wallahu a’lam bishawab.***