Menurut Ankesh Anand dari Indian Institute of Technology, dalam tulisannya berjudul ?We used Neural Networks to Detect Clickbait s: You won?t believe what happened Next!? menyebutkan bahwa clickbait merupakan istilah untuk judul berita yang dibuat untuk menggoda pembaca. Biasanya menggunakan bahasa yang provokatif nan menarik perhatian.
Fenomena clickbait mencuat dalam dunia digital khususnya media online, tujuannya hanya satu untuk menarik pembaca atau warganet masuk ke sebuah situs web dan mendulang apa yang disebut sebagai page view atau jumlah klik yang masuk.
Clickbait pun menjadi strategi perusahaan media online untuk menarik pengunjung mengklik judul, mengklik setiap page view sehingga meningkatkan jumlah pengunjung dan memberikan keuntungan di setiap halamannya.
Clickbait merupakan judul berita yang secara sengaja memaksa atau menjebak pembaca agar mau membaca atau mengklik berita tersebut. Banyak judul berita yang dibuat dengan judul fantastis bahkan kontroversial, tetapi ketika pembaca mengklik berita tersebut, isi dari berita tidak sesuai dengan judul yang disajikan.
www.romelteamedia.com menuliskan, fenomena yang muncul, wartawan media online menulis berita ?seenaknya? tidak perlu mikir serius yang penting menarik pehatian dan diklik. Dulu, judul berita bertujuan menyampaikan inti informasi tanpa menyembunyikan substansi. Kini, judul berita ngumpetin intisari. Dulu, berita dibuat untuk dibaca. Kini, berita dibuat untuk diklik. Dulu to inform. Kini, to click. Dulu, orientasi oplah atau penjualan. Kini, orientasinya trafik, page views, atau jumlah kunjungan.
Qurani Dewi Kusumawardani dalam penelitiannya berjudul ?Perlindungan Hukum Bagi Pengguna Internet Terhadap Konten Web Umpan Klik Di Media Online,? Jurnal Penelitian Hukum De Jure (2019) memberi beberapa contoh perbedaan judul normal dan judul clickbait dalam media online. Judul clickbait : Lihat umur saya 55 tahun, tapi disangka 25 tahun!!Klik dan sebarkan! Judul normal : Resep Awet Muda. Atau judul normal : Cara Diet dengan Buah Pisang. Disulap menjadi judul clickbait : Setelah 7 hari makan buah pisang, inilah yang terjadi!!!!!!
Di Indonesia media online pertumbuhannya sangat pesat. Banyak media online yang hadir di ruang virtual menjadi media informasi publik. Ada media online yang terverifikasi atau tidak terverifikasi oleh Dewan Pers. Media online tersebut memproduksi berita yang setiap saat dicari masyarakat.
Kehadiran teknologi internet, membuat informasi yang masuk ke internet melalui media online menjadi lebih berlimpah. Media online untuk menyajikan berita yang menarik minat audiens untuk bertahan di tengah-tengah persaingan bisnis yang ketat.
Data tahun 2016 berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa konten berita adalah salah satu konten yang sering diakses oleh masyarakat. Pada tahun itu dengan jumlah total penduduk Indonesia yaitu 256,2 juta jiwa, 132,7 juta jiwa menggunakan internet, dan 127,9 juta jiwa atau 96,4 persen mengakses berita. Berita menempati posisi ketiga yang paling banyak diklik setelah media sosial dan hiburan.
Sejak munculnya teknologi internet, informasi yang masuk ke internet melalui media online menjadi lebih berlimpah. Media online untuk menyajikan berita yang menarik minat audiens untuk bertahan di tengah-tengah persaingan bisnis media online yang ketat.
Media online berbeda dengan media sosial. Berita yang bersumber dari media online berbeda dengan diperoleh dari media sosial (medsos). Berita atau informasi dari media online memiliki ciri kekhasan yang penulisannya merujuk pada teknik jurnalistik dan selalu ada verifikasi. Ada perbedaan yang signifikan antara informasi yang didapatkan dari media sosial dan berita yang berasal dari media online.
Namun dalam perkembangannya, perbedaan itu menjadi kabur. Persaingan antar media online mendorong perusahaan media mencari gaya dan strategi untuk meraih pembacanya agar berkunjung ke laman media online-nya sehingga trafiknya meningkat.
Indikator kinerja utama yang menjadi parameter keberhasilan adalah clickbait (berita diklik) atau dibaca, atau dibagikan secara luas di media sosial. Fenomena ini kemudian memunculkan clickbait headline yang unik dan eyecatching sebagai jenis judul berita. Dari proses atau mekanisme seperti ini hadirlah iklan atau income yang masuk dari hasil ?penggiringan? terhadap pembaca.
Perkembangan media online yang pesat menyebabkan munculnya fenomena clickbait . Wartawan media online membuat judul sesuka mereka, seperti membuat judul-judul yang fantastis dengan tujuan untuk memancing pembaca agar mengklik berita tersebut sehingga rating media online menjadi naik, tentu saja hal itu dilakukan untuk mendapatkan profit dan rating media.
Di sisi lain, judul clickbait terjadi karena wartawan tidak memahami betul pentingnya penggunaan bahasa jurnalistik pada penulisan berita. Demi meraih clickbait banyak media yang mengabaikan kode etik jurnalistik dan mengamplifikasi informasi tidak benar.
Mark Bulik editor senior The New York Times menyampaikan secara tersirat bahwa ada perubahan strategi pembuatan judul dalam memasuki era digital. Namun, bagi The New York Times, ia mewanti-wanti agar judul yang muncul tidak membuat pembaca merasa tertipu saat membaca dan menuntaskan sebuah artikel. Menurutnya, ukuran clickbait adalah saat pembaca merasa tertipu.