SMM PANEL INDO

Gen Z di Tengah Tekanan Ekonomi, Antara Krisis Finansial dan Gaya Hidup Hedonis

Oleh: Casima
datariau.com
113 view
Gen Z di Tengah Tekanan Ekonomi, Antara Krisis Finansial dan Gaya Hidup Hedonis
Ilustrasi. (Foto: Int.)

DATARIAU.COM - Meningkatnya biaya kebutuhan hidup di tengah tekanan ekonomi turut dirasakan oleh generasi Z. Data yang dikutip dalam pembahasan mengenai kondisi finansial generasi muda menunjukkan lebih dari 48 persen Gen Z mengaku tidak merasa aman secara finansial.

Di sisi lain, alokasi pengeluaran untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru terus meningkat. Bagi sebagian Gen Z, aktivitas tersebut dipandang sebagai kebutuhan emosional untuk menjaga keseimbangan diri, bukan sekadar bentuk kemewahan.

Kondisi ini menjadi paradoks. Di tengah pendapatan yang relatif stagnan, bahkan sebagian mengalami penurunan daya beli, kebutuhan hidup terus meningkat. Tekanan ekonomi pun semakin terasa, terutama bagi generasi muda yang baru memasuki dunia pendidikan tinggi maupun dunia kerja.

Baca juga:Pembatasan Gawai di Sekolah, Cukupkah Menjaga Generasi?


Dalam perspektif kritis terhadap sistem kapitalisme, kondisi tersebut dinilai tidak terlepas dari sistem ekonomi yang menempatkan masyarakat pada tekanan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara individual. Biaya kebutuhan terus meningkat, sementara negara dinilai belum sepenuhnya hadir dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat.

Akibatnya, masyarakat, termasuk generasi muda, harus berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tekanan tersebut kemudian bertemu dengan budaya konsumtif yang berkembang pesat di era digital.

Kondisi diperparah oleh gaya hidup sekuler-liberal yang menjadikan self-reward, healing, dan konsumsi sebagai salah satu bentuk pelarian dari tekanan kehidupan. Berbagai tren populer yang terus muncul di media sosial juga mendorong fenomena fear of missing out atau FOMO, hingga budaya belanja impulsif.

Baca juga:Realita Gen Z: Ramai Hadiri Konser, Sepi di Majelis Ilmu


Generasi muda akhirnya berada dalam pusaran tren yang membuat kebahagiaan kerap dikaitkan dengan kemampuan membeli barang, mengikuti gaya hidup tertentu, maupun memperoleh pengalaman yang sedang populer.

Persoalannya, generasi muda dinilai belum selalu memiliki panduan yang kuat dalam menyikapi kondisi tersebut. Ketika orientasi kehidupan semakin materialistis, kebahagiaan berpotensi diukur berdasarkan kepemilikan materi dan kenikmatan duniawi.

Padahal, dalam perspektif Islam, kehidupan manusia tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar materi. Kebahagiaan sejati dikaitkan dengan keridhaan Allah Subahanahu wa ta'ala dan kehidupan yang sesuai dengan syariat.

Baca juga:Krisis Identitas dan Gaya Hidup Serba Bebas di Kalangan Generasi Muda


Islam memandang bahwa negara memiliki tanggung jawab besar dalam menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat. Pengelolaan sumber daya alam yang menjadi milik umum, misalnya, diarahkan untuk memberikan kemaslahatan bagi masyarakat.

Selain itu, negara juga berkewajiban menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang layak. Dengan demikian, rakyat tidak dibiarkan menghadapi kesulitan ekonomi seorang diri.

Dalam pandangan tersebut, negara tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Kebijakan ekonomi diarahkan agar kekayaan dan sumber daya tidak hanya berputar pada kelompok tertentu.

Baca juga: Gen Z Harus Tahu: Two State Solution Itu Tipu Daya


Di sisi lain, sistem Islam juga menempatkan pembentukan karakter dan ketakwaan generasi sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Paparan terhadap konten yang mendorong hedonisme dan perilaku konsumtif perlu diminimalkan, sementara media diarahkan untuk menjalankan fungsi edukasi dan meningkatkan ketakwaan masyarakat.

Islam hadir dengan paradigma yang berbeda mengenai hakikat kehidupan manusia. Kehidupan dunia dipandang sebagai tempat menjalankan amanah dan beribadah kepada Allah Allah Subahanahu wa ta'ala, bukan semata-mata arena mengejar kesenangan materi.

Allah Allah Subahanahu wa ta'ala berfirman: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)