DATARIAU.COM - Provinsi Riau adalah salah satu dari empat provinsi yang ada di Indonesia yang merupakan daerah pusat penghasil sumber minyak dan gas alam (migas). Sektor ini memang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi dan struktur perekonomian di Provinsi Riau secara sangat signifikan, namun demikian, dalam kenyataannya pembangunan ekonomi suatu daerah tidak akan dapat berjalan dalam jangka panjang jika daerah tersebut terlalu bergantung pada sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Untuk itu sumber daya alam yang ada perlu diimbangi dengan sumber daya manusia yang berkualitas dan teknologi yang tinggi.
Pembangunan sistem perekonomian di Provinsi Riau seharusnya lebih mengarah kepada pengembangan sektor-sektor di luar sektor migas. Jika dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi di Provinsi Riau selama kurun waktu tiga tahun terakhir, terlihat bahwa laju pertumbuhan ekonomi tanpa migas lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi dengan memasukkan sektor migas di dalamnya. Data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Riau menyebutkan bahwa laju pertumbuhan ekonomi di Riau dengan menghilangkan sektor migas di dalamnya pada tahun 2016 sebesar 3,68 persen, meningkat di tahun 2017 mencapai 4,57 persen, dan 3,95 persen pada tahun 2018. Jika ditelusuri menurut kabupaten/kota, tercatat laju pertumbuhan ekonomi tertinggi di Kota Dumai dan diikuti oleh Kota Pekanbaru.
Dalam upaya mencapai tujuan pembangunan ekonomi suatu daerah, langkah utama yang perlu dilakukan adalah mengetahui sektor ekonomi yang potensial di daerah tersebut untuk kemudian didorong semaksimal mungkin agar prioritas pembangunan daerah dapat tercapai. Hal ini terkait dengan potensi pembangunan yang dimiliki setiap kabupaten/kota di Provinsi Riau yang tergolong cukup bervariasi. Untuk dapat memanfaatkan dan mengelola kekayaan dan potensi yang dimiliki tersebut, maka perhatian utama ditujukan untuk melihat komposisi ekonomi, yakni dengan mengetahui kontribusi atau peranan yang diberikan oleh tiap-tiap sektor yang ada.
Sektor primer yang meliputi sektor pertanian serta pertambangan dan penggalian mendominasi struktur ekonomi di delapan kabupaten/kota di Provinsi Riau. Kabupaten Kuantan Singingi, Indragiri Hilir, Rokan Hulu, dan Kepulauan Meranti lebih didominasi oleh sektor pertanian, khususnya perkebunan, sedangkan Kabupaten Siak, Kampar, Bengkalis, dan Rokan Hilir lebih didominasi oleh sektor pertambangan dan penggalian.
Di Kabupaten Kuantan Singingi komoditas perkebunan seperti karet dan kelapa sawit masih menjadi komoditas andalan, namun hendaknya ada komoditas lain yang bisa dikembangkan selain kedua komoditas tersebut. Pemerintah Daerah Kuantan Singingi hendaknya bisa bersinergi bersama masyarakat dalam upaya mendorong pengembangan sektor pertanian dengan meningkatkan poduksi komoditas pertanian lainnya.
Setiap daerah biasanya memiliki komoditas unggulan yang dapat diandalkan untuk mensejahterakan masyarakatnya. Di Kabupaten Indragiri Hilir misalnya, komoditas kelapa merupakan komoditas unggulan yang menjadi urat nadi masyarakat, bahkan beberapa pihak menyebutkan Indragiri Hilir sebagai "Negeri Hamparan Kelapa Dunia". Mengingat besarnya peranan komoditas ini dalam menopang perekonomian masyarakat Indragiri Hilir, maka perlu mendapat perhatian serius dari Pemerintah Daerah. Upaya yang perlu dilakukan selain peningkatan hasil produksi juga peningkatan kualitas kelapa rakyat itu sendiri, sehingga dapat meningkatkan daya saing daerah penghasil kelapa terbesar di dunia ini.
Begitu juga dengan Kabupaten Kepulauan Meranti. Dari data Dinas Perkebunan dan Hortikultura, tercatat ada sebanyak lima komoditas unggulan daerah ini, yaitu sagu, kelapa, karet, kopi, dan pinang. Namun dari kelima komoditas tersebut, sagu merupakan komoditas yang sangat potensial untuk terus dikembangkan. Upaya peralihan dari sektor yang berbasis agraris menuju sektor industri juga harus terus dilakukan. Mengingat besarnya hasil produksi komoditas tersebut setiap tahunnya, maka industri pengolahan dengan bahan baku sagu perlu ditingkatkan, bukan hanya sebatas pengolahan sagu menjadi tepung, tetapi lebih dari itu dapat menghasilkan produk dengan nilai tambah yang lebih tinggi.
Sektor sekunder yang meliputi sektor industri pengolahan, listrik dan gas, pengadaan air dan pengelolaan sampah, serta konstruksi mendominasi struktur ekonomi di empat kabupaten/kota lainnya, yakni Indragiri Hulu, Pelalawan, Dumai dan Pekanbaru. Besarnya kontribusi sektor ini terhadap total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menunjukkan bahwa sektor ini merupakan penggerak utama roda perekonomian di daerah tersebut. Kabupaten Pelalawan dengan industri kertas yang menjadi icon nya yang juga merupakan industri kebanggan Provinsi Riau ini harus terus dijaga dan dijamin kelangsungan usahanya. Pentingnya sinergitas antara Pemerintah Daerah dan perusahaan dalam upaya mendorong pengembangan industri nasional yang berkelanjutan.
Sementara itu, pengembangan kawasan industri di Kota Dumai juga perlu terus dilakukan. Kawasan industri tersebut menampung beberapa perusahaan industri, salah satunya industri pupuk NPK yang merupakan salah satu industri besar di Asia Tenggara. Posisi Kota Dumai yang strategis menjadikan daerah ini sebagai tujuan investasi para investor. Untuk itu Pemerintah perlu lebih proaktif dalam menarik minat investor asing agar bersedia menanamkan modalnya di kawasan indutri tersebut. Pada tahun 2018, sektor sekunder memberikan kontribusi dalam perekonomian Kota Pekanbaru sebesar 50,05 persen, diikuti oleh sektor tersier dengan kontribusi 48,34 persen. Saat ini Pemerintah Kota Pekanbaru mulai fokus pada pengembangan investasi di tiga sektor unggulannya, yakni industri, perdagangan, dan jasa.
Kontribusi dominan dari sektor-sektor non migas ini diharapkan dapat membangun struktur perekonomian Provinsi Riau yang memiliki daya saing, sebagaimana yang ditetapkan dalam RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) 2019-2024 untuk pencapaian visi jangka panjang Riau 2025.(*)
*** Penulis: Desi Damaiyanti, S.ST Statistisi BPS Kota Pekanbaru