Warga SMPN 4 Rimba Melintang Terganggu Aktifitas Pembangunan PDAM, Saat Upacara Pekerja Teriak-teriak

datariau.com
2.529 view
Warga SMPN 4 Rimba Melintang Terganggu Aktifitas Pembangunan PDAM, Saat Upacara Pekerja Teriak-teriak
Samsul
Aktifitas pembangunan PDAM di Kepenghuluan Karya Mukti.

RIMBAMELINTANG, datariau.com - Aktifitas pembangunan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di Kepenghuluan Karya Mukti, Kecamatan Rimbamelintang, Rohil berdampak buruk terhadap sekolah yang ada di belakangnya, yaitu SMPN 4 Rimba Melintang.

Demikian dikatakan Kepala SMPN 4 Rimba Melintang, Maya Kesuma SPd MM ketika dikonfirmasi Datariau.com, Kamis (28/9/2017). Dia mengaku sangat terganggu dengan kegiatan pembangunan tersebut. Terlebih lokasi pembangun sangat dekat dengan lokasi sekolah.

Bahkan, kata Maya, para pekerja sangat tidak bersahabat dengan lingkungan. Pasalnya, saat majelis guru dan siswa melaksanakan upacara bendera, para pekerja ikut teriak dan menyalakan mesin dengan keras.

"Pekerja tidak ada etika, saat upacara para pekerja teriak-teriak. Saat upacara pekerja menyalakan mesin. Hormat grak sambil ketawa-ketawa," kata Maya.

Selain itu, kata Maya, aktifitas penanaman tiang pancang atau cerocok beton getarannya membuat lantai sekolah bergetar. Dikhawatirkan dinding gedung sekolah bisa retak.

Kemudian selain gangguan akibat aktifitas pembangunan, kini lapangan sekolah dan sekitarnya selama musim hujan direndam air. Bahkan, sempat mengganggu kegiatan di lapangan.

"Lapangan selama ini tidak pernah becek, sekarang air hujan menggenangi halaman sekolah. Anak-anak ke sekolah terpaksa pakai sendal," ungkapnya.

Ia mengaku belum pernah berkoordinasi dengan pihak kontraktor pembangunan. Namun, pihak lapangan dari perusahaan pembangunan sudah berupaya memberi bantuan tanah timbunan sebanyak dua truk.

"Koordinasi tidak ada. Tapi kemarin ada kasih tanah timbunan dua truk. Itu karena terendam air," ujarnya.

Sementara itu, Pjs Penghulu Karya Mukti Saring ketika dikonfirmasi mengaku pihak kontraktor saat awal akan membangun telah melapor. Namun tidak ada kesepakatan antara pihak kontraktor dengan lingkungan adanya ganti rugi apabila ada kerusakan lingkungan rumah warga akibat aktifitas pembangunan tersebut.

"Lapor ada, tapi tak ada kesepakatan itu. Kalau getarannya ya sampai ke kantor kami. Ini kan bersebelahan," ucap Saring.

Diakui Saring, pembangunan pembenaman pipa di tepi jalan juga sempat bermasalah. Pasalnya, dalam spek kerja dua meter dari jalan. Hal itu sempat membuat masyarakat protes.

"Kalau soal pipa ada kemarin masyarakat tak terima. Pinggir jalan digali, seharusnya dua meter dari aspal. Sekarang sudah lancar," ungkapnya.

Penulis
: Samsul
Editor
: Riki
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)