Rupari: Wanita yang Terjaring Razia BNN di Pekanbaru Perlu Pembinaan Khusus

1.694 view
Rupari: Wanita yang Terjaring Razia BNN di Pekanbaru Perlu Pembinaan Khusus
Direktur Rupari Riau Helda Khasmy. (foto: net)
PEKANBARU, datariau.com - Terkait terjaringnya masyarakat yang positif mengkonsumsi narkoba dalam razia yang dilakukan BNN Riau di sejumlah club malam akhir pekan kemaren, membuat kalangan aktivis khawatir dan angkat bicara. Rumpun Perempuan dan Anak (Rupari) Riau turut menyayangkan keterlibatan dominasi wanita dalam operasi tersebut.

"Saya sangat menyayangkan banyaknya wanita yang terjaring dalam razia itu," ujar Direktur Rupari Riau Helda Khasmy, kepada datariau.com dalam sambungan telepon, Ahad (26/4/2014) kemarin.

Dijelaskan Helda, penyalahgunaan narkoba memang tidak memandang jenis kelamin, baik wanita atau pria dan segala jenis umur dan latar belakang. Menurutnya, semua orang mempunyai kemungkinan untuk terjerumus dalam lembah narkoba. Namun, penyalahgunaan narkoba yang menimpa wanita jauh menimbulkan efek yang lebih serius, baik yang bersifat klinis maupun psikologis.

"Berbagai riset menunjukkan, 70 persen penyalahgunaan narkoba pada wanita mengarah kepada masalah fisik dan seksual. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba pada wanita terjadi karena trauma masa kecil dan latar belakang orangtuanya yang juga terkena alkohol dan obat-obatan," ungkapnya.

Dijelaskan lagi, banyaknya wanita yang menggunakan narkoba atau alkohol, disinyalir telah menerima penganiayaan di masa kecil. Baik fisik, emosional ataupun seksual. Hal inilah, menurut Helda, seorang wanita beralih pada strategi yang kompulsif untuk menghadapi kenyataan yang ada.

Salah satunya adalah dengan penyalahgunaan narkoba. Namun, tidak sedikit juga wanita yang mengatakan bahwa mereka mulai menggunakan narkoba karena ajakan dari pasangan atau teman pria mereka.

"Masalahnya, seringkali wanita yang menggunakan narkoba merasa lebih percaya diri dari harga diri yang telah direndahkan. Dampak selanjutnya, wanita yang menjadi korban narkoba cenderung tidak berusaha mencari pengobatan. Hal itu dikarenakan besarnya rasa takut yang dimiliki mereka. Takut akan masa depan, takut akan teman-teman atau pasangan hidup, dan takut akan hukuman sosial yang nantinya menimpa," urainya.

Dijelaskan lagi, ketika seorang wanita menjalani sebuah proses terapi, pastilah ia telah berada dalam suatu kondisi yang parah dan membutuhkan sebuah proses terapi yang serius. Biasanya, kata Helda, penanganan penyalahgunaan narkoba pada wanita juga cenderung sedikit berbeda dibandingkan pria. Wanita yang terjerumus dalam lembah Narkoba perlu dilakukan pembinaan khusus.

"Terapi yang dilakukan terhadap wanita haruslah menyeluruh, terutama dampak seksual dan permasalahan kesehatan mental. Sebab, resiko yang diterima oleh wanita-wanita penyalahguna narkoba ini sangat kompleks," sebutnya.

Disinggung mengenai bahaya narkoba terhadap wanita, Helda menuturkan ada beberapa hal dari dampak yang sangat berbahaya dari penyalahgunaan narkoba. Misalnya, narkoba jenis heroin yang akan berpengaruh pada fungsi seksual dan reproduksi, yaitu menurunnya dorongan seksual, kegagalan orgasme, terhambatnya menstruasi, gangguan kesuburan, mengecilnya payudara dan keluarnya cairan dari payudara.

Marijuana, dapat mengakibatkan gangguan sel telur, hambatan kehamilan, dan terhambatnya proses kelahiran. Ekstasi, juga sangat berbahaya jika dikonsumsi wanita hamil. Ekstasi dapat meningkatkan resiko cacat pada bayi sampai tujuh kali lebih besar daripada bila tidak menggunakan.

"Jadi, narkoba ini sangat berbahaya jika dikonsumsi oleh wanita," tegasnya.

Ditanya penanganan seperti apa yang sebaiknya dilakukan terhadap wanita korban dari penyalahgunaan narkoba ini, Helda mengatakan bahwa terapi pada wanita penyalahguna narkoba bisa dilakukan dengan cara berpartisipasi di dalam komunitas atau rumah sakit yang memiliki program khusus. Bisa juga dilakukan dengan melakukan konseling secara individu ataupun keluarga di dalam komunitas.

"Bergabung dan berpartisipasi dalam kelompok sesama pengguna narkoba untuk saling mendukung pulih. Mengarahkan pada kegiatan olahraga dan pembinaan spiritual juga perlu dilakukan dalam proses dukungan yang dilakukan," bebernya. (kur)
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)