Female Breadwinners dan Kegagalan Sistem Menyejahterakan Keluarga

Oleh: Siti Aminah
datariau.com
207 view
Female Breadwinners dan Kegagalan Sistem Menyejahterakan Keluarga
Ilustrasi. (Foto: Int.)

DATARIAU.COM - Fenomena perempuan sebagai pencari nafkah utama atau female breadwinners semakin sering dijumpai dalam masyarakat modern. Di berbagai keluarga, perempuan tidak lagi sekadar berperan membantu ekonomi rumah tangga, tetapi justru menjadi penopang utama kehidupan keluarga. Kondisi ini sering dipandang sebagai bentuk kemajuan sosial atau simbol kesetaraan gender. Namun jika dicermati lebih dalam, fenomena ini justru menunjukkan adanya persoalan serius dalam sistem ekonomi dan sosial yang mengatur kehidupan masyarakat.

Dalam banyak kasus, perempuan menjadi pencari nafkah utama bukan karena pilihan yang sepenuhnya bebas, melainkan karena kondisi ekonomi yang memaksa. Ketika biaya hidup semakin tinggi sementara peluang kerja semakin terbatas, keluarga sering kali harus mengandalkan lebih dari satu sumber penghasilan agar dapat bertahan. Akibatnya, perempuan pun terpaksa masuk ke dalam tekanan ekonomi yang sama beratnya dengan laki-laki.

Dalam perspektif Islam, kondisi ini seharusnya menjadi alarm sosial. Sebab secara prinsip, tanggung jawab utama dalam mencari nafkah berada pada laki-laki sebagai kepala keluarga. Al-Qur’an menyebut laki-laki sebagai qawwam--pemimpin dan penanggung jawab bagi keluarga--yang berkewajiban memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.

Namun realitas yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa banyak laki-laki justru kesulitan menjalankan peran tersebut. Bukan semata-mata karena kelemahan pribadi, tetapi karena tekanan sistemik yang membuat mereka sulit memperoleh pekerjaan yang layak dan stabil. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi bukan sekadar masalah individu, melainkan masalah sistem.

Sejatinya, maraknya female breadwinners mencerminkan kegagalan negara dalam menyejahterakan rakyatnya. Kegagalan ini tidak hanya berkaitan dengan siapa pemimpinnya, tetapi juga dengan sistem yang diterapkan dalam mengatur kehidupan masyarakat. Sistem yang mendominasi dunia hari ini adalah kapitalisme sekuler yang menjadikan kesejahteraan sebagai komoditas ekonomi yang dikuasai oleh segelintir kelompok pemilik modal.

Dalam sistem kapitalisme, kekayaan cenderung terakumulasi pada kelompok kapitalis yang memiliki akses terhadap modal dan sumber daya. Sementara itu, masyarakat luas sering kali hanya menjadi tenaga kerja yang harus terus berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mahal. Akibatnya, kesenjangan ekonomi semakin melebar dan kemiskinan struktural terus berlangsung.

Pertama, sistem kapitalisme sekuler telah menciptakan tekanan ekonomi yang semakin berat bagi masyarakat. Kebutuhan dasar seperti sandang, pangan, dan papan semakin sulit dijangkau oleh sebagian keluarga. Di saat yang sama, sektor pendidikan dan kesehatan juga semakin dikomersialisasi. Kondisi ini membuat biaya hidup meningkat tajam dan menambah beban ekonomi keluarga.

Dalam situasi seperti ini, satu sumber pendapatan sering kali tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Akibatnya, perempuan pun harus ikut bekerja demi menopang ekonomi keluarga. Jika bagi laki-laki saja tekanan ekonomi sudah sangat berat, maka beban tersebut tentu akan terasa lebih besar bagi perempuan yang juga memiliki tanggung jawab domestik dalam keluarga.

Kedua, sistem kapitalisme sekuler juga secara tidak langsung melemahkan peran laki-laki sebagai qawwam. Bukan karena laki-laki kehilangan kemampuan atau tanggung jawabnya, tetapi karena sistem ekonomi yang tidak stabil membuat mereka kesulitan memperoleh pekerjaan yang layak. Lapangan kerja yang terbatas, badai pemutusan hubungan kerja yang bisa terjadi kapan saja, serta upah yang tidak sebanding dengan kebutuhan hidup membuat banyak laki-laki tidak mampu menjalankan kewajiban nafkah secara optimal.

Dalam kondisi seperti ini, perempuan yang bekerja pun menghadapi tekanan yang tidak kalah berat. Mereka harus menjalankan peran ganda: bekerja di ruang publik sekaligus tetap memikul tanggung jawab domestik di dalam keluarga. Beban ganda ini sering kali tidak terlihat sebagai bentuk ketidakadilan struktural, tetapi justru dianggap sebagai hal yang wajar dalam kehidupan modern.

Ketiga, lemahnya akidah dan tidak dipahaminya konsep rezeki turut memperparah kondisi umat. Tata kehidupan sekuler telah menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai syariat Islam. Kehidupan dipandang semata-mata sebagai kompetisi ekonomi untuk mengejar materi. Banyak orang terjebak dalam pola hidup yang berorientasi pada keuntungan semata, sehingga kebahagiaan diukur dari ukuran materi yang bersifat sementara.

Akibatnya, manusia sering kali kehilangan pemahaman tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Mereka bekerja tanpa henti demi mengejar standar kehidupan yang terus meningkat, sementara ketenangan batin justru semakin sulit diraih.

Fenomena female breadwinners seharusnya menjadi momentum refleksi bagi masyarakat tentang pentingnya sistem kehidupan yang adil dan manusiawi. Islam menawarkan konsep yang berbeda dalam memandang peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Islam memuliakan perempuan dengan menempatkannya sebagai penjaga kehormatan keluarga sekaligus pendidik generasi.

Dalam sistem kehidupan Islam, perempuan tidak dipaksa untuk memikul beban ekonomi keluarga. Negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan sistem ekonomi yang memungkinkan laki-laki menjalankan kewajiban nafkahnya dengan layak. Pada saat yang sama, perempuan diberikan ruang untuk berkontribusi dalam masyarakat tanpa kehilangan kemuliaan dan perlindungan yang dijamin oleh syariat.

Dengan demikian, kesejahteraan keluarga tidak hanya bergantung pada kerja keras individu, tetapi juga pada sistem yang mengatur kehidupan masyarakat. Ketika sistem kehidupan berlandaskan pada nilai-nilai Islam, maka keadilan sosial dan kesejahteraan keluarga dapat diwujudkan secara lebih merata.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)